
Crash, sret!
Dengan mata tertutup dan tidak sadar, Ara menggerakkan senjata tersebut pada tubuh Elvan. Senjata itu bergerak dengan sangat cepat dan membuat ukiran pada tubuh Elvan di bagian dadanya. Tidak hanya itu, Ara kembali akan melayangkan serangan, yang kemudian ia rasakan jika tangannya ada yanh menahannya. Berusaha menggerakkan dan menariknya dengan sekuat tenaga, namun tetap tidak bisa. Perlahan ia membuka matanya dengan perasaan cemas, saat mata itu melihat dengan sempurna.
" Argh!" Senjata itu terlepas begitu saja dari tangannya, disaat Ara membuka matanya.
Terlihat jika Elvan menahan senjata itu dengan menggunakan tangannya, cairan berwarna merah mengalir dari telapak tangannya.
" Keluarlah, jika kau tidak ingin aku berbuat kasar padamu. Cepat!"
Ada perasaan bersalah dan kasihan atas apa yang telah ia lakukan pada Elvan, namun ia juga masih terlalu takut untuk berhadapan secara langsung padanya. Ara memundurkan tubuhnya dan berdiri, melangkah menjauhi pria yang sudah meneriakinya dengan begitu keras dan terluka.
" A a apa yang telah aku lakukan, aku melukainya." Dengan bergetar, Ara meringkuk di dalam kamar. Bayangannya terus terlintas saat ia memegang senjata tersebut dan mengayunkannya pada tubuh pria monster baginya.
Dalam keadaan yang cukup lemah, dimana kondisi tubuhnya merasakan tidak enak. Elvan memutuskan untuk kembali ke mansionnya, setibanya ia disana. Melihat pintu ruangan kerjanya terbuka, membuat dirinya menjadi heran. Apalagi ruangan pribadinya juga ikut terbuka.
Berjalan perlahan memasuki kamar mandi dan membersihkan diri, mendapati tubuhnya terluka. Elvan hanya memandanginya melalui cermin, ia rasa jika luka itu tidak akan sebanding dengan luka yang ia berikan kepada Ara. Membaringkan tubuhnya untuk sekadar beristirahat dari rasa lelahnya, Elvan memejamkan matanya secara perlahan. Kejadian tersebut tidak diketahui oleh penghuni mansion lainnya, ruangan yang begitu pribadi dan kedap suara. Membuat kesan, tidak terjadi apa-apa.
Berbeda dengan Ara, ia tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan ia sudah melukai pria monster selalu terlintas dalam pikirannya, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Seakan tidak puas dengan pikirannya, Ara memberanikan diri untuk melihat kondisi dari pria monsternya. Dengan berjalan seperti orang yang hendak mencuri, Ara perlahan membuka pintu ruang yang ia tuju. Sempat ada rasa ragu dalam hatinya, melihat seluruh ruangan yang begitu sunyi. Ia mendapati tubuh pria itu meringkuk di atas sofa besar yang berada disana. Ia mulai mendekatinya, untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
Namun disaat ia sedang berjongkok dihadapannya, terlihat begitu banyak keringat membanjiri wajah Elvan. Spontan tangan Ara mengusapnya dengan sangat perlahan.
" Panas!" Ara kaget dengan apa yang ia rasakan.
__ADS_1
Berlari menuruni anak tangga, Ara menuju dapur. Mengambil baskom kecil dan mengisinya dengan air hangat, ia kembali lagi ke kamarnya untuk mengambil handuk kecil lalu ia masuk ke dalam ruangan kerja. Apa yang sedang Ara lakukan, tak luput dari penglihatan seseorang yang selalu mengamatinya. Orang tersebut membiarkannya, berharap sesuatu yang terbaik akan terjadi.
Disaat ia akan meletakkan handuk kecil itu di kening Elvan, tiba-tiba saja tangan pria itu menangkap tangannya. Pandangan mereka berdua kemudian beradu satu sama lain, ada perasaan takut dan marah dalam diri Ara.
" Lepas, aku akan menaruhnya di keningmu."
" Jangan pedulikan aku, kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Ucap Elvan melepas tangan Ara dan membalikkan tubuhnya, terlihat telapak tangan lnya masih terbalut oleh sebuah kasa putih yang sudah berubah warna.
Atas ucapan Elvan tersebut, ada sedikit perasaan sakit dalam hati Ara. Namun hal itu segera ia tepis, kembali lagi melihat tubuh pria di hadapannya dengan begitu tajam.
" Aku tidak akan bisa beristirahat dengan baik, rasa bersalahku terlalu besar. Emm, ma af atas perbuatanku tadi. Bisakah kau membalikkan tubuhmu? Luka itu harus segera di obati, nanti akan menjadi infeksi jika dibiarkan terlalu lama terbuka."
" Kembalilah kekamarmu, jangan membuatku melakukan hal yang tidak kau inginkan. Pergilah." Tolak Elvan atas niat Ara untuk mengobatinya.
" Mesum." Ara yang menyadari jika ia mendarat dia atas dada Elvan, dengan segera menarik dirinya.
" Akh!" Elvan merintih saat tangan Ara menekan dadanya yang terluka.
" Eh." Ara segera menanggapi ucapan Elvan itu, ia menarik tangan besar yang menutupi dada.
" Jangan!" Cegah Elvan.
Puk!
__ADS_1
" Hei, sakit!" Elvan berteriak mendapati luka pada dadanya terkena pukulan.
" Makanya jangan ngeyel, singkirkan tanganmu itu."
Mata Ara terbelalak melihat luka tersebut, tidak tertutupi apapun selain selimut yang digunakan. Tanpa sadar, matanya mulai mengembun. Melihat Ara seperti itu, Elvan pun mengambil baju kimono untuk menutupi tubuhnya.
" Wanita memang hobinya menanggis, sudahlah. Lebih baik kau kembali, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil, nanti akan sembuh dengan sendirinya." Jelas Elvan kepada Ara.
" Luka kecil! Kau anggap ini luka kecil? Dasar monster bodoh, tubuhmu tidak akan sampai demam seperti ini kalau itu hanya luka kecil! Lihat" Ara menunjukkan tangan dan juga dada Elvan yang belum tersentuh obat apapun selain kain kasa putih yang sudah berubah warna.
Salah satu alis mata Elvan naik, mendengar perkataan Ara. Ada perasaan senang dan gembira atas perhatian yang ia dapatkan, namun ia teringat akan luka yang telah ia berikan pada wanita itu.
" Lukamu lebih parah dari apa yang aku dapatkan, keluarlah." Elvan berjalan menjauh menuju balkon kamarnya.
Tidak dapat dipungkiri, perkataan itu memanglah benar. Jika Ara memang sangat membenci Elvan yang sudah merusak masa depannya, beralih-alih menjadi penjamin atas untuk hutang orangtua angkatnya untuk menjadi pekerja di mansion. Namun ia malah mendapatkan serangan yang begitu kejam dan membekas seumur hidupnya. Ingin rasanya ia berdamai dengan semuanya, berharap waktu akan membantunya untuk mengantikannya dengan yang lebih indah. Ara berjalan menyusul Elvan yang sudah terlebih dahulu darinya, membawa berbagai benda yang ia butuhkan untuk pria itu.
" Anggap saja kali ini, aku menebus kesalahan yang telah kuperbuat padamu. Untuk kesalahanmu, tergantung bagaimana dengan niat dan usahamu untuk memperbaikinya. Sini tanganmu."
Ara mengambil tangan Elvan yang terluka, lalu ia membuka kain putih tersebut dan mulai mengobatinya. Tubuh Elvan seketika menjadi kaku dan menuruti apa yang dilakukan oleh Ara, mulutnya pun menjadi bungkam. Rasa sakit itu tidak berarti apa-apa bagi Elvan, luka seperti itu sudah seringkali ia dapatkan. Selesai dengan tangan, Ara lalu meminta Elvan untuk membuka kimononya. Ara pun meringgis saat mengobati luka itu, namun sang pemiliknya hanya bermuka dingin tanpa ekpresi apapun.
" Selesai, kamu bisa beristirahat. Besok aku akan mengganti perbannya kembali." Membereskan peralatannya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Dengan menghilangnya Ara dari pandangannya, Elvan menatapi hasil karya dari wanita tersebut pada tubuhnya. Yang kemudian membuat sudut bibirnya mengukir senyuman tipis.
__ADS_1