Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
108.


__ADS_3

Brak!


" Satu langkah kamu keluar dari mansion ini, aku akan melenyapkan orang yang akan kau dekati itu!" Elvan membuka pintu kamar mandi dengan kasar, membuat Ara sempat kaget.


" Akh!"


" Sayang, maaf." Elvan langsung menangkap tubuh Ara yang sempat terhuyung dan hampir jatuh.


Bugh!


Bugh!


Pukulan demi pukulan Ara berikan pada Elvan, ia begitu geram dan kesal akan sikap dari suaminya itu. Tangan Elvan meraih tangan Ara agar menghentikan pukulannya, namun nata Ara menangkap sesuatu yang membuat dirinya semakin panik.


" Kebiasaan! Selalu saja melampiaskan emosi yang nggak jelas, ngapain sih didalam sampai tanganmu seperti ini Bee?" Ara memperlihatkan tangan Elvan yang sudah berdarah.


" Kau mengacuhkanku sayang."


" Huh, memang dasar nggak peka." Ara menarik tangan Elvan yang masih berdarah dan mendudukkannya pada sofa di kamar mereka.


Menekan sumber aliran dara dari tangannya dengan menggunakan kain handuk kecil yang ia bawa, menatap tajam mata Elvan dengan sedikit seringainya.


" Makanya, kalau nggak tahu. Jangan langsung emosian, aku tidak mengacuhkanmu Bee. Aku mengambil obat untuk luka di punggungmu, karena aku melihat ada noda darah dari tempat terlepasnya jarus infus. Dasar monster bucin!" Ara semakin menekan sumber luka pada tangan Elvan.

__ADS_1


" Jadi, kamu tidak marah lagi sayang? Benarkah?" Raut wajah Elvan langsung berubah menjadi tersenyum.


" Dari awal aku tidak bisa marah padamu, Bee. Hanya saja, aku mau memberikanmu sedikit pelajaran agar tidak terlalu mudah larut dalam sikap emosionalmu itu."


" Ah leganya, jangan seperti ini lagi sayang. Sungguh aku lebih memilih untuk mati daripada..."


" Ssttt, jangan berbicara seperti itu Bee. Maafkan aku."


Menarik dan memeluk tubuh Ara ke dalam dekapannya, Elvan sungguh sangat merasakan rasa bersalah telah membuat Ara menanggis.


" Tidak sayang, aku yang salah. Jangan pernah berpikir untuk pergi dan menjauh dariku, kau adalah jiwaku. Aku tidak bisa hidup tanpamu dan anak-anak."


Kemesraan keduanya semakin erat, Elvan merasa sangat lega dengan selesainya masalah diamnya Ara pada dirinya. Karena telah berpuasa cukup lama, menurut dirinya. Elvan langsung menyerang Ara dengam berbagai jurus mesranya, menautkam kedua bibir mereka dalam waktu yang cukup lama. Dengan tangan yang sudah tak terkondisikan, membuka satu persatu kancing baju Ara. Disaat ia akan membuka pembungkus berbentuk kacamata, terdengarlah alarm yang harus segera mendapat tindakan.


" Yah, gagal." Elvan melepaskan tangannya dari kedua benda kesukaannya.


Mendengar tanggisan baby dan melihat ekpresi wajah Elvan yang sangat kecewa, membuat Ara menggelengkan kepalanya dan tersenyum penuh kemenangan.


" Jangan cemburu, kedua benda ini adalah kebutuhan dan milik baby untuk sementara."


Ara merapikan pakaiannya dan dengan singkat ia memberikan kecupan pada bibir Elvan.


Cups!

__ADS_1


Melihat istrinya yang membawa baby ke dalam pelukannya, memberikan haknya baby secara langsung dari kedua benda kenyal tersebut. Membuat Elvan merutuki dirinya sendiri, sehingga juniornya yang sudah menegang harus segera ia ditakhlukkan.


" Tidak! Sayang, bagaimana dengan yang ini." Elvan menunjuk ke arah juniornya, agar Ara dapat melihatnya.


" Jika anakmu mengizinkan dan cepat selesainya, akan aku membantumu Bee. Tapi, sebaiknya kamu menggunakan sabun dulu untuk malam ini. Aku takut, junior sudah tidak dapat dikendalikan." Ara tersenyum melihat Elvan yang frustasi.


Mau tidak mau, akhirnya Elvan memilih untuk bersolo dahulu. Walaupun dengan keadaan tangan yang terluka, namun ia harus menyelesaikannya.


......................


Dilain tempat, Ray saat ini bersama dengan Bella sedang menunggu hasil dari tes DNA yang ia lakukan. Perasaan penuh dengan kekhawatiran akan hasil yang akan mereka terima, apakah benar atau tidak mengenai Ara sebagai anak mereka.


" Permisi, dengan tuan Arrayan?" Seorang pria dengan jas khas dokter mendekati Ray.


" Iya benar, saya Arrayan dok. Bagaimana hasilnya dok?" Ray langsung menanyakan kepada dokter tersebut.


Dengan senyuman yang begitu lepas, dokter tersebut menepuk pundak Ray perlahan. Seakan memberikan kekuatan serta dukungannya kepada Ray dan Bella.


" Saya hanya bisa memberikan hasilnya, dan ini. Anda bisa membacanya secara langsung, agar tidak ada kecurigaan. Hasil ini adalah seratus persen kemurniannya kami jaga, silahkan." Dokter tersebut memberikan sebuah amplop putih pada Ray.


Tangan yang bergetar membuka amplop putih itu, mengharapkan hasil yang terbaik seperti mereka inginkan. Saat membaca hasil dari pemeriksaan DNA mereka, tampak sekali mata keduanya berkaca-kaca. Bella menggeleng-gelengkan kepalanya, segera Ray meraih tubuh Bella dan memeluknya.


" Kita harus menerimanya, jangan bersedih."

__ADS_1


__ADS_2