
Kehadiran Elvan cukup membuat heboh dan mengundang perhatian banyak orang, terutama pada bagian awak media, namun dengan keahlian Hugo. Peristiwa itu bisa teratasi dan tidak ada satupun orang yang berani mempublisnya, jika ada yang melakukannya. Maka mereka bersiap untuk mendapatkan teguran dari sang leader.
Brak!
Dengan satu kali hentakan dari kaki Elvan, sebuah meja menjadi sasarannya. Meja tersebut terpental dan hancur, hal itu membuat Olivia dan James terperangah.
" Bawa Justin dan Ezra keluar dari sini." Kepala sekolah mengintruksikan kepada Clara, agar anak-anak tersebut tidak shock dengan kejadian berbau kekerasaan disana.
Mendapati intruksi tersebut, Clara segera melarikan kedua anak tersebut. Dengan tujuan agar mereka tidak ikut menyaksikan pertikaian orang dewasa, yang mana bisa terekam memory otak mereka. Ezra hanya bisa mengikuti langkah dari gurunya, walaupun rasanya ia engan bersama dengan temannya.
" Maafkan saya tuan, saya mohon maaf." James terus mengucapkan permintaan maaf kepada Elvan.
" I iya tuan, saya mohon maaf atas kelancangan saya. Saya benar-benar tidak tahu, ji jika dia adalah anak anda tuan." Olivia benar-benar tidak menyangka, jika anak kecil yang ia tuduh itu adalah anak dari seorang penguasa di negaranya.
Menyilangkan kaki dan tangannya, Elvan tidak menggubris semua perkataan maupun penjelasan dari James maupun istrinya. Suasana terasa semakin memcekam, kepala sekolah hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat. Bahkan saat ini, ia hanya diberikan kesempatan oleh Hugo untuk menyampaikan beberapa penjelasan mengenai peristiwa yang terjadi.
Dengan menggunakan rekaman CCTV dari pihak keamanan sekolah, mereka mendapatkan beberapa rekaman jika anak dari James yang memulai terlebih dahulu untuk mengganggu. Bahkan hal itu tidak hanya terjadi sekali, namun berulang kali. Kini James dan istrinya hanya bisa menelan salivanya dengan kasar, ia akan mengetahui bagaimana berurusan dengan seorang Elvan.
" Aku tidak akan pernah berbaik hati, pada orang yang melukai keluargaku. Jika aku tidak pernah berjanji kepada istriku, makan kalian berdua akan aku lenyapkan!" Ujar Elvan dengan tegas.
" Maaf kan kami tuan, kami benar-benar hilaf. Ampuni kami tuan." James dan istrinya terus memohon kepada Elvan.
" Namun, jangan pikir jika aku akan diam saja. Atas apa yang kalian perbuat, Hugo!" Dengan bergegas, nama yang dipanggil mendekatkan dirinya.
" Ya tuan."
" Lakukan sekarang, biarkan mereka melihat dan menyaksikannya."
" Baik tuan." Hugo meletakkan ipad dari tangannya ke atas meja.
__ADS_1
Jemari tangan Hugo bergerak sangat cepat dan cekatan, ia tak lupa menghubungi Liam yang membantunya dari bidang tekhnologi. Sehingga tidak perlu menunggu lama, hasil yanh di inginkan pun berhasil. Hugo segera merapikannya dan memperlihatkan kepada tuannya, setelah mendapatkan persetujuan dan anggukan dari tuannya. Hugo memperlihatkan hasil kerjanya kepada James dan juga istrinya, sedangkan kepala sekolahnya hanya terdiam. Ia tidak ingin menambah kemarahan seorang Elvan, jika tidak bisa habis reputasi dan masa kerjanya.
" Silahkan anda lihat tuan James." Hugo memberikan ipadnya kepada James, untuk melihatnya.
Tangan itu menerima ipad dari Hugo dengan bergetar, sebelumnya ia sudah tahu pasti akan mendapatkan hukuman dari apa yang sudah ia perbuat. Dengan mata terbelalak, tubuh James seketika terhempas jatuh ke lantai.
Dugh!
" Papi!" Olivia sangat kaget mendapati suaminya itu sudah terjatuh.
" Ada apa Pi, ada apa?" Berusaha menyadarkan suaminya dari kekagetan, Olivia menepuk nepuk pipi James.
" Ti ti dak mungkin, i ini ti dak mungkin." Suara James terbata-bata setelah melihat apa yang tertera pada layar ipad pemberian Hugo.
Penasaran dengan apa yang suaminya lihat, Olivia mengambil ipad tersebut dari tangan suaminya dan membacanya.
" Akh! Tidak, ini tidak benar. Pi, ini tidak benar kan! Tidak!" Ipad itu terhempas begitu saja ke lantai.
" Membantu mereka, maka nasibmu akan sama seperti mereka juga." Gertak Elvan dengan perkataan penuh tekanan.
" Ee em baik tuan." Kepala sekolah tersebut akhirnya mengurungkan niatnya untuk membantu, ia masih ingin hidup dan bekerja lebih lama.
" Bagaimana?! Apakah hal itu sudah cukup?" Elvan menaikan kedua alis matanya.
" Am ampuni kami tuan, saya mohon ampuni kami. Kami tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi tuan, tapi saya mohon jangan seperti ini." Keadaan James begitu shock dan miris.
" Mengampuni kalian?! Heh, aku rasa waktuku disini sudah cukup. Hugo, bawa anakku. Kita pulang." Elvan berdiri dari duduknya dan merapikan pakaiannya.
" Tuan." Kepala sekolah menjadi sedikit takut dengan apa yang dilakukan oleh Elvan terhadap James.
__ADS_1
Seakan mengetahui apa yang akan dikatakan oleh kepala sekolah itu, Elvan memasukkan kedua telapan tangannya ke dalam saku celananya. Tatapan matanya hanya melihat ke arah depan, ia sungguh merasa malas untuk menatap orang-orang yang sudah berani bermain padanya.
" Anda tidak perlu khawatir, namun semuanya itu akan bisa berubah disaat anda mulai ingin bermain-main denganku." Lalu Elvan berjalan dengan angkuhnya melewati kedua pasangan suami istri tersebut, yang masih bersimpuh mengharap ampunan darinya.
" Terima kasih tuan." Ujar kepala sekolah yang merasa lega.
" Tunggu tuan, tunggu. Ampuni kami tuan, tuan!" Teriak James yang melihat Elvan berlalu dari pandangannya.
Sedangkan Olivia, ia sudah menanggis meraung dengan apa yang ia alami. Dengan hitungan menit, kini semua benda berharga milik mereka telah lenyap. Perusahan yang mereka rintis telah gulung tikar, hanya karena ke egoisan dan kesombongan mereka terhadap seseorang yang sebelumnya dianggap sebagai rakyat biasa. Namun ternyata, seorang anak dari penguasa di negera mereka. Itu sama saja dengan menyerahkan nyawa dengan sia-sia, kini hanyalah penyesalan yang mereka rasakan. Memohon seperti apapun, tidak akan mengubah keputusan yang sudah terjadi.
" Pi, bagaimana ini. Mami tidak mau hidup susah! Cepat Papi temui lagi tuan Elvan, ayo Pi." Tanggisan Olivia begitu menyentuh hati, bahkan kepala sekolah hanya bisa menyaksikan drama dari mereka.
" Diam! Gara-gara Mami, kita jadinya seperti ini! Ini karena Mami yang terlalu melebih lebihkan keadaan, Papi muak." James pun meninggalkan istrinya begitu saja dan melangkahkan kaki untuk meninggalkan sekolah tersebut.
Ezra yang masih berada di dalam ruangan lainnya, saat ini sedang Hugo temui dan mengajaknya untuk pulang. Sedangkan Justin, ia hanya terdiam saat Maminya datang dengan tangisan.
" Jika orang lain merendahkan ataupun menyerangmu boy, jangan terlalu larut dalam perasaan. Tunjukkan siapa dirimu." Elvan menatap ke arah luar jendela mobil, sambil berbincang kepada Ezra.
Begitupun Ezra, ia begitu malas untuk berbincang pada Daddynya. Dengan sikap dingin sang anak, membuat Elvan sedikit merasa kesal. Seperti dirinya bersama dengan puteranya tersebut, bagaimana pun sikapnya kepada Ezra. Anak itu akan sangat irit dalam berbicara padanya, namun tidak saat bersama dengan Mommynya.
Anak sama bapak, sama-sama dingin. Bahkan anaknya melebihi dari kadar sang bapak, huh. Lama-lama aku bisa darah tinggi melihat keduanya, oh nona. Lakukanlah sesuatu. Hugo.
" Boy!" Merasa di abaikan oleh sang anak, Elvan menarik pundak Ezra sehingga mereka berdua saling bertatap muka.
" Apa!" Tak kalah dinginnya, Ezra menjawabnya.
Kening Elvan tampak berkerut dan kedua matanya melebar saat melihat wajah anaknya, lalu terdengarlah suara dari rahangnya yang saling bergesekan.
Ada apa dengan tuan besar? Apa yang menmbuatnya seperti itu? Hugo.
__ADS_1
" Hugo! Lenyapkan mereka!" Suara Elvan begitu keras.