Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
25.


__ADS_3

" Ini laporan yang anda mau, tuan." Hugo meletakkan beberapa berkas di atas meja.


Menerima dan mulai memeriksa berkas tersebut, dengan sangat teliti mata elang itu menatap begitu serius. Satu persatu ia melempar berkas yang baru saja ia periksa, bahkan ada yang ia sobek.


" Panggil mereka!" Suara berat itu begitu menyeramkan.


" Baik tuan." Hugo segera keluar.


Memijit kepalanya yang mulai sangat terasa sakit, Elvan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Bayang-bayang Ara kembali melintas di pikirannya, entah mengapa kini ia selalu teringat akan wanita yang pernah ia sakiti dan mulai menghantui pikiranya.


" Tuan." Teguran Hugo membuyarkan lamunan tuannya.


" Mereka sudah dihadapan anda." Menunjukkan beberapa orang yang sudah berdiri dengan meremas telapak tangan mereka sendiri.


Menatap satu persatu wajah orang-orang yang sudah berdiri dihadapannya dengan tubuh bergetar, Elvan membuka jasnya dan melemparkannya begitu saja lalu ia duduk di atas meja.


" Kalian ingin mengakuinya atau tidak sama sekali?" Tanya Elvan kepada mereka.


Seketika semua orang yang telah ia panggil tersebut tersentak kaget, hal itu menjadikan mereka diam seribu bahasa. Dengan melemparkan sebuah pulpen yang tutupnya terbuka pada sebuah cermin, hingga membuat cermin itu pecah menjadi serpihan kecil berserakan di lantai.


" Tidak ada yang mau bicara? Maka kalian akan bernasib seperti benda itu." Kalimat Elvan penuh dengan penekanan, sampai akhirnya membuat mereka semakin ketakutan yang mengakui perbuatan yang sudah dilakukan.


" Ma ma maafkan kami tuan, kami benar-benar telah khilaf melakukannya." Salah satu dari mereka mengakuinya.


" Tuan, jangan hukum kami. Kami hanya terpaksa melakukannya. Maafkan kami tuan." Orang itu berlutut dihadapan kaki Elvan.


Lalu semuanya ikut berlutut pada ujung kaki Elvan, berharap tuannya tersebut memaafkan kesalahan mereka. Akan tetapi harapan itu hanyalah harapan yang tidak akan pernah terkabulkan, dengan mudahnya Elvan menggerakkan kakinya yang membuat ke empat orang itu terpental mundur kebelakang.


Bugh!


" Tu tuan, maafkan kami. Kami mohon tuan, maafkan kami."

__ADS_1


" Beraninya kalian menipuku, hah!"


Brak!


Elvan memukul meja kerjanya yang kini sudah hancur terbagi dua dengan sekali pukulan, bisa dibayangkan seberapa kekuatan yang dimilikinya.


" Berhentilah untuk memohon, kalian sudah tahu akibatnya sudah menipuku! Hugo, lakukan seperti biasa."


" Baik tuan." Hugo menghubungi seseorang untuk membantunya membereskan ke empat pria yang ia bawa sebelumnya.


" Tuan tolong jangan hukum kami, tolong tuan. Kami hanya diperintahkan seseorang yang bernama Arion, tolong tuan. Ampuni kami."


" Arion?" Gumam Hugo yang merasa seperti mengenal nama tersebut. Namun berbeda dengan Elvan, ia tampak begitu tenang.


Begitu orang yang Hugo hubungi tiba, mereka segera mengeksekusi ke empat pria itu. Walaupun mereka terbebas saat itu dari hukuman, namun tidak untuk nanti. Mereka semua akan dibawa dan ditempatkan disuatu tempat. Tampak Elvan sedang memikirkan nama yang disebutkan, seperti mengetahui dan mengenalnya.


......................


Berjalan dengan bergaya seperti perempuan, seorang pria begitu lemah gemulai menuju suatu ruangan.


" Terima kasih, bagaimana kabar orang-orang yang kita utus? Atau the end." Gaya tangannya berada pada lehernya.


" Mereka tertangkap bos, dan mereka juga menyebutkan nama anda." Lapor Riki atas kejadian yang mereka alami.


" Dasar bo**oh! Biarkan saja mereka membusuk dan lenyap ditangannya. Ah, aku juga harus mempersiapkan diri untuk berhadapan dengannya." Lalu ia pergi memasuki kamar pribadinya untuk beristirahat.


Carlos Cullen, soerang pria sukses dalam bidang properti. Perusahaannya menjalin kerjasama dengan perusahan Blade Company, dalam waktu singkat. Perusahaan mereka menjadi besar dan juga rekan kerja yang saling menguntungkan. Seringkali bertemu, membuat Carlos seakan-akan menjadi tertarik dengan sosok rekan kerjanya tersebut, Elvan.


Awalnya ia hanya menganggap jika dirinya mengagumi kliennya, namun lama kelamaan. Perasaan suka itu semakin menjadi-jadi, hingga pada akhirnya. Sikap Carlos diketahui oleh Elvan, bahwa kliennya itu juga menyukai dirinya. Sontaknya hubungan kerjasama diantara perusahaan mereka berhenti seketika tanpa kesepakatan diantara dua pihak, membuat diri Carlos menjadi frustasi akan kejadian itu dan memilih untuk melakukan balas dendam. Sejak kejadian tersebut, sikap Carlos perlahan berubah. Walaupun masih dengan gayanya yang gemulai, namun jiwanya tidak.


Aku akan terus membayangi kehidupanmu, walaupun tidak akan pernah terwujud untuk mengapainya. Hidupmu tidak akan pernah tenang, Elvan. Akan aku ajarkan, bagaimana hidup dalam rasa sakit hati yang begitu dalam. Carlos.

__ADS_1


......................


Di mansion utama...


" Mami?" Ara sangat kaget dengan kedatangan orangtuanya.


" Ara, bagaimana keadaanmu nak?" Elliza berjalan menghampiri dan memeluk tubuh Ara yang begitu ia rindukan.


" Mami sama siapa? Aku baik-baik saja disini." Tutut Ara.


" Mami sendirian nak, Mami kangen sama kamu."


Ibu dan anak itu kemudian larut dalam perbincangannya, melepas rindu yang ada. Akan tetapi, ada perasaan yang tidak berkenan didalam hati Ara. Bagaimana pun juga, mereka tetaplah orangtua yang membesarkannya sampai saat ini. Walaupun semuanya itu, harus ia tebus melalui cara seperti ini.


" Kamu baik-baik saja disini ya nak, Mami titip salam untuk tuan Elvan. Jika ada sesuatu, kamu bisa ceritakan pada Mami. Mami pulanh dulu ya." Elliza berpamitan untuk segera kembali kerumahnya, agar tidak ketahuan dengan suami dan juga anaknya.


" Iya Mi, terima kasih sudah main kesini. Akrh!"


" Ara! Ada apa nak." Elliza panik mendapati Ara yang berteriak tiba-tiba.


" Emm, tidak apa-apa Mi. Hanya perut Ara yang keram. Sepertinya sudah mau datang tamu bulanan." Jelas Ara.


"Jaga kesehatan ya."


Disaat bersamaan dengan kepergian mobil dari Elliza, Ara yang sedang membereskan gelas dan membawanya menuju dapur. Lagi dan lagi, Friska sudah menunggunya disana.


" Ingat akan statusmu disini, jangan bergaya seperti nyonya besar ya."


Bukh!


" Arhg!" Mendapati dirinya di dorong dari belakang, Ara meremas perutnya yang terasa sakit saat membentur dinding dari pembatas tempat cucian piring.

__ADS_1


" Rasain." Friska berlalu saja dengan tidak merasa bersalah sedikitpun.


Perutku, kenapa sakit sekali. Tidak biasanya seperti ini, ini sangat menyakitkan. Ara.


__ADS_2