Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
26.


__ADS_3

Satu minggu lamanya, Elvan dan Liam berada dinegara E. Guna melancarkan pekerjaan mereka dalam bisnis gelapnya, terjadi pemberontakan dalam kelompoknya. Dimana, ia mendapati beberapa orang pekerjanya melakukan kecurangan dalam melancarkan aksinya.


" Argh!"


" Masih ingin melawanku?" Elvan semakin menekan tangannya pada leher orang tersebut.


" Am ampun tuan, ma maafkan saya." Joni, orang kepercayaanya di negara E. Kini membuat dirinya kecewa.


Bugh!


Bugh!


Tanpa ampun, Elvan menyerangnya dengan begitu keji. Dengan menggunakan tangan kosong, Joni terlihat seperti bukan manusia lagi. Luka di tubuhnya sudah tak terhitung, Elvan sangat begitu menyukai aksinya. Sudah lama ia tidak bermain, menyalurkan bakatnya sebagai seorang psycopath.


" Aku sangat mempercayaimu untuk masalah ini, jangan salahkan jika kau akan berubah menjadi nama saja!" Dua jari tangan kanannya telah lolos mengambil bola mata Joni, melemparnya ke bawah dan menginjaknya menggunakan kaki hingga hancur.


" Aaaaargh!" Joni hanya bisa menjerit dengan sekuat tenaga dan hilang kesadaran.


Ketakutan melihat kekejaman dari tuannya, beberapa orang lagi yang akan bernasib sama seperti itu. Mereka bergidik ngeri dan menelan salivanya dengan kasar, perdagangnya senjata khusus dan juga beberapa racikan untuk membuat senjata tersebut terhambat. Orang mereka terkena operasi perbatasan yang telah dibocorkan, yang mengakibatkan disitanya barang tersebut. Kerugian yang sangat besar bagi mereka atas kejadian itu, membuat tuan mereka harus turun tangan sendiri untuk mengurusnya.


" Singkirkan mereka!" Teriak Elvan dengan cukup keras, membuat para tawanannya sontak terkagetkan.


Terus memohon pengampunan dari tuannya, orang-orang tersebut berteriak untuk bisa mendapatkan kesempatan untuk hidup. Namun Elvan sudah begitu murka dengan kelalaian mereka, lalu ia menghempaskan tubuhnya untuk sekadar melepaskan semua beban pikirannya saat itu pada kursi miliknya.


" Ssstt, argh! Sial! " Erang Elvan saat ia memejamkan matanya sesaat.


" Tuan, sepertinya kita harus kembali. Ini." Liam menunjukkan sebuah rekaman video pada ipad milik tuannya.


Saat melihat rekaman yang diberikan oleh Liam, rahang Elvan berubah seketika mengeras dan mengeluarkan suara. Ipad ditangannya saat itu terbelah menjadi dua dalam genggamannya.


" Siapkan semua, kita kembali. Cepat!"

__ADS_1


" Baik tuan." Liam berlari dari hadapan Elvan, ia segera menyiapkan semua yang diperlukan tuannya.


......................


Kejadian sebelumnya di mansion...


Dengan keadaan tubuh yang kurang baik, Ara berjalan keluar dari kamarnya. Terasa sangat berbeda dan hampa, seperti sedang kehilangan sesuatu yang biasa ia hadapi sehari-hari.


" Ara, kemarilah." Suara Nany membuyarkan lamunan Ara.


Berjalan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Nany, mereka memilih untuk duduk pada sebuah taman bunga yang dimiliki mansion.


" Ada apa denganmu, apa aku sedang tidak sehat? Wajahmu terlihat sangat pucat sekali." Tanya Nany, disaat Ara sudah duduk bersamanya.


" Em, tidak apa-apa Nany. Semalam hanya kurang tidur saja. Apakah tuan sudah kembali, Nany?"


" Heh, kau ini. Mengapa malah bertanya padaku, setiap hari kau bertugas untuk merawatnya." Seperti mengejek, Nany menangkap sinyal jika Ara sedang merindukan si anal nakalnya.


" Sudah, tidak usah memikirkannya. Dia akan baik-baik saja, sepertinya kau merindukannya."


" Apa? Tidak, tidak seperti itu." Dengan begitu gugupnya, Ara mencoba menutupi rasa malunya.


" Ah, iya iya. Aku paham, oh iya nak. Apakah kamu tidak bermaksud untuk meneruskan kuliahmu?"


" Maksud Nany?" Tanya Ara yang kaget dengan perkataan Nany.


" Aku rasa, kau memang harus meneruskan kuliahmu. Biar nanti aku yang akan menghadapi anak nakal itu, kau tidak perlu takut."


" Ta tapi, pekerjaanku. Apakah nanti tidak akan membuat tuan marah?"


Nany tersenyum, melihat Ara yang masih mempunyai rasa takut kepada Elvan.

__ADS_1


Siapa yang akan marah padamu, Ara. Bahkan kau berhak atas semuanya ini, statusmu lebih tinggi dariku. Nany.


" Jadi, apakah kamu mau?"


" A aku mau."


" Ya sudah, kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah. Nanti akan kuberitahu lagi untuk selanjutnya, dan ingat. Kau tidak perlu mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat disini, jika ada yang membicarakanmu. Beritahu padaku." Nany tidak tega melihat wajah Ara yang begitu pucat.


" Terima kasih Nany." Ara berjalan kembali menuju kamarnya, memang saat itu tubuhnya sudah memberikan sinyal tidak enak.


Baru saja ia anak melangkahkan kaki untuk menaiki tangga, Friska sudah berdiri dengan kedua tangannya bersilang didepan tubuhnya.


" Hei, enak-enak lu ya. Kerja sana, nggak sadar diri banget ni anak."


Kenapa ni orang, seneng banget nyari ribut sama aku, sebegitu tidak sukanya dia. Lebih baik tidak usah mencari masalah dengannya, yang ada malahan nanti semakin ribet. Ara.


Menaiki anak tangga dan tidak menghiraukan apa yang dilakukan oleh temannya, Ara menghindari keributan yang akan terjadi jika ia meladeni perkataan Friska.


" Arkh!" Ara menjerit ketika rambutnya ditarik oleh Friskan dengan begitu kuat, hampir saja tubuhnya oleng dan terjatuh.


" Belagu banget lu ya, awas aja kalau sampai aku melihat kamu ngegodain tuan Elvan." Tangan itu melepaskan rambut Ara yang ia tarik dan pergi begitu saja.


Ara hanya bisa menghembuskan nafasnya, bermaksud menghindari keributan malah ia mendapatkan kejadian yang tidak mengenakkan. Lalu ia melanjutkan langkahnya untuk kembali menuju kamarnya, namun disaaf ia melewati ruang kerja Elvan. Rasa penasaran itu kembali menyapanya, ia perlahan membuka pintu tersebut.


Hem, masih kosong. Kemana dia? Apa di dalam ruang itu. Ara.


Mendekati ruang pribadi tuannya, Ara membukanya dan mendapati tidak ada siapa-siapa disana. Penuh rasa kecewa yang ia dapatkan, bermaksud untuk meninggalkan ruangan itu. Sudut mata Ara menangkap ada sesuatu dia atas meja kerja tuannya.


" Apa itu?" Terdapat sebuah kotak kecil dan juga map berwarna hijau disana.


Rasa penasaran itu membawanya melihat benda diatas meja, sebuah ssatu set kotak perhiasan. Saat ia mengangkat kotak tersebut, tidak sengaja map itu terjatuh dan memperlihatkan dua buah kartu kecil yang menarik perhatiannya. Tangan itu mengambilnya, begitu sangat tidak percaya.

__ADS_1


" Buku nikah?"


__ADS_2