Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
88.


__ADS_3

" Sayang, jangan terlalu banyak bergerak. Kamu harus banyak-banyak beristirahat, biarkan saja semuanya itu."


Suara merdu Elvan kini sudah bergema di mansion mereka, bagaimana tidak. Sejak kehamilan Ara yang kedua, ia berubah menjadi sangat posesif pada istrinya. Begitu juga pada Ezra, sikapnya tidak jauh berbeda dengan Elvan.


" Ssttth, bisakah kamu tidak mengomel terus Bee. Lagian ini hanya kerjaan biasa dan ringan, tidak akan membuatku kelelahan."


" Tetap saja sayang, ayo berisitrahatlah." Elvan terus merengek agar Ara berhenti dari kebiasaannya yang selalu merapikan dan membersihkan kamar.


" No Bee, tubuhku juga akan menjadi kaku jika harus beristirahat terus." Ara kembali membalas ucapan suaminya itu.


Tanpa menunggu lama, mendapati istrinya itu terlalu asik dengan kegiatannya sendiri. Maka Elvan berinisiatif sendiri, ia langsung menggendong tubuh Ara dan membawanya ke atas tempat tidur.


" Aaaa, Bee turunkan aku." Ara berteriak saat mendapati dirinya sudah melayang di udara.


" Makanya jangan ngeyel kalau suamimu ini bicara, semuanya itu untukmu sayang. Jangan membantah." Meletakkan tubuh Ara di atas tempat tidur, walaupun sempat ada perlawanan namun pada akhirnya Ara menurut.


Menatap Elvan dengan wajah yang tertekuk, Ara memanyunkan bibirnya. Hingga dalam sekejap mata, Elvan menyambarnya dengan cepat.


" Mmpp mmm." Ara yang kaget dengan serangan mendadak dari Elvan, membuat dirinya memberikan perlawanan dengan memukul dada Elvan.


Akan tetapi Elvan tidak membiarkan Ara terlepas darinya, semakin Ara ingin melepaskan diri. Maka, Elvan semakin menekan dirinya untuk memberikan sentuhan-sentuhan.


" Sepertinya, aku sangat menginginkanmu sekarang sayang." Elvan terus memberikan sentuhan yang membuat Ara tak bisa berkutik.


Dasar monster mesum, selalu saja mengajak olahraga. Nggak ada puas-puasnya, huf. Ara.


Terpaksa Ara harus menggigit bibir Elvan dari bibirnya, dan itu berhasil membuat Elvan melepaskan kecupannya.


" Sayang! Ini sakit." Memprotes atas gigitan Ara yang membuat Elvan meringis.


" Huh huh, dasar moster mesum. Huh huh, olahraga ya olahraga. Tapi, jangan membuat orang lain kehabisan nafas!" Masih mengatur nafasnya yang terputus-putus akibat dari ulah suaminya, Ara merutuki sikap Elvan itu dan menampakkan wajah cemberutnya.

__ADS_1


" Mmpp hahaha, sayang maaf. Aku terlalu bersemangat, apalagi saat ini dirimu semakin terlihat begitu mempesona. Mungkin saja, baby yang di dalam juga ingin bertemu dengan Daddynya. Benarkan sayang, kamu kangen bertemu dengan Daddy." Begitu sangat percaya dirinya, Elvan sembari mengusap perut Ara yang masih terlihat rata.


" Alasan saja, bilang saja kalau kamu yang ingin Bee. Malah bawa-bawa baby yang masih di dalam perut!"


" Hahaha, tapi boleh kan sayang? Ayolah." Elvan begitu manjanya kepada Ara, yang dimana Ara sudah merasa pusing dengan perubahan Elvan.


Dengan sedikit terpaksa, Ara akhirnya menginyakan ajakan suaminya itu. Disaat Elvan akan mulai dengan sentuhannya, tiba-tiba saja perutnya bergejolak dan ingin mengeluarkan sesuatu. Ia langsung berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya yanb selalu bergejolak, dahi Ara pun berkerut. Lalu ia ikut menyusul Elvan, memberikan pijitan lembut pada tekuknya. Entah apa yang sudah dikeluarkan dari mulut Elvan, begitu selesai. Begitu lemahnya, Elvan hanya bisa terduduk lemas.


" Sa sayang, mual." Aduan Elvan kepada Ara.


" Lebih baik kamu beristirahat dulu Bee." Ada rasa khawatir dalam hati Ara, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan membantu Elvan untuk berjalan dan membaringkannya di tempat tidur.


Wajah yang begitu pucat, mata terpejam dan kedua telapak tangam yang dingin. Kondisi Elvan mengingatkan dimana saat Ara hamil anak pertamanya, Ezra.


" Masih mual Bee?"


" Mmm, sayang. Mau peluk."


" Jangan! Jangan sayang."


Elvan menarik tangan Ara kembali, disaat ia akan beranjak dari sisi Elvan. Tatapan mata yang begitu sendu, hal itu membuat Ara menjadi tidak tega.


" Jangan jauh-jauh ya, rasa mualnya semakin menjadi jika kamu tidak ada."


Lalu Elvan melingkarkan tangannya pada perut Ara yang duduk pada pinggiran tempat tidur. Mengelus wajah dan pipi suaminya dengan lembut, tak lama kemudian Elvan pun terlelap.


Sepertinya, Bee terkena sidrom simpatik. Dimana aku yang sedang hamil dan dia yang mengalami ngidamnya. Maaf ya Bee, kamu harus menjalaninya. Dan kamu nak, jangan terlalu menyiksa Daddy ya. Mommy tidak tega melihat Daddy kalian seperti, tidak ada kesan dingin dan seramnya lagi, hehehe. Ara.


Kondisi Elvan yang tertidur, membuat Ara menghubungi Hugo dan Jack. Memberitahukan jika kondisi Elvan tidak memungkinkan untuknya pergi ke perusahaan, setelah selesai ia pun beranjak dari sisi Elvan dengan perlahan. Berjalan keluar kamar untuk menjalankan tugasnya seperti biasa.


" Pagi Mom, Daddy mana?" Ezra yang saat itu telah rapi dengan pakain sekolahnya dan sedang menikmati sarapan pagi bersama Oma dan Nany.

__ADS_1


" Daddy sedang tidak enak badan sayang, sudah siap semuanya?"


" Iya Mom, sudah siap semuanya. Sepertinya, Daddy sedang berubah menjadi big baby untuk Mommy. Adek Ezra gimana kabarnya?" Senyuman yang Ezra berikan, seakan memberitahukan jika ia mengetahui seperti yang Ara ketahui.


" Sepertinya begitu sayang, hem Adikmu ini yang mungkin sedang menghukum Daddy."


Obrolan kedua orang tersebut, menarik perhatian Elliza dan Nany yang juga berada satu meja makan dengan mereka.


" Mana anak nakal itu, kenapa dia tidak turun bersamamu?" Tanya Nany yang menatap Ara.


" Iya nak, biasanya suamimu akan berbarangan denganmu untuk turun sarapan." Elliza menambahkan pertayaannya untuk Ara.


Ezra yang tidak menghiraukan percakapan orang dewasa disana, memilih mempercepat sarapannya.


" Mom, Oma, Nany. Ezra berangkat ke sekolah dulu ya, titip Mommy dan adek Ezra." Ketiga punggung tangan wanita itu ia kecup perlahan.


" Hati ya nak."


Ara melepas keberangkatan Ezra ke sekolah bersana dengan Dion. Hanya Dion yang menjadi pilihannya, tidak mau dengan pamannya yang lain. Banyak sekali jawabannya jika Dion tergantikan, bahkan sikapnya tak kalah dengam Daddynya yang berubah menjadi dingin. Maka dari itu, Dion tak tergantikan.


" Ara, apa Elvan sakit?" Elliza kembali menanyakan keberadaan menantunya.


" Ada Mi, sepertinya suami Ara terkena sindrom simpatik. Pagi tadi, Elvan mengeluarkan semua isi perutnya. Layaknya orang yang sedang mengalami morning sickness, bahkan maunya dekat-dekat dengan Ara terus."


" Hahaha, itu baru namanya penerus Elvan yang sesungguhnya." Nany tertawa dengan begitu lepasnya.


" Nany." Ara dan Elliza kaget dengan ucapan yang baru saja Nany lontarkan.


" Biar tahu rasa anak nakal itu, jangan bisanya membuat saja. Tapi tidak mau menanggung gejalanya, biarkan saja dia di hukum oleh anaknya sendiri. Tapi kamu juga harus bersiap untuk menghadapi sikapnya, bahkan jika harus memilih diantara mengasuh bayi atau dia. Kamu merasa lebih baik merawat bayi daripada dia."


Mendengar ucapan yang Nany berikan, membuat Elliza dan Ara tidak bisa lagi menahan tawanya yang sudah mereka tahan.

__ADS_1


" Mmmm, hahaha."


__ADS_2