Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
21.


__ADS_3

Keadaan kamar itu semakin berantakan dan dipenuhi dengan pecahan berbagai benda yang terbuat dari kaca dan porselen. Cairan berwarna merah itu sudah memenuhi telapak kaki Elvan, tanpa ia sadari.


" Maaf, maafkan aku." Dengan tatapan penuh harapan, Elvan berikan kepada Ara.


" Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu! Pergi!"


Ara kembali melemparkan sebuah gelas kaca yang biasa ia gunakan untuk minum, lemparan itu melayang di udara dan mendarat tepat pada kening Elvan. Darah segar mengalir dengan sangat deras dari tempat yang terkena lemparan, hal itu membuat Ara begitu kaget.


" Da da rah." Ara menutup mulutnya disaat melihat akibat dari lemparan yang ia berikan.


Disaat lengah, Elvan menarik tubuh mungil Ara ke dalam pelukannya. Spontan saja hal itu membuat Ara memberontak dengan begitu kuat, bahkan ia memukuli tubuh orang yang memeluknya.


" Lepasin!"


" Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kamu memberikanku maaf." Elvan menahan tubuh Ara agar tidak terlepas darinya, namun tubuh wanitanya terus memberontak dan memukulinya


" Dasar monster tidak punya hati, dengan mudahnya kau meminta maaf dariku. Setelah apa yang sudah kau lakukan, hah! Dasar baji****gan breng***ek! lepa,,,s!" Teriak Ara dan menatap Elvan dengan begitu tajam.


Walaupun mendapatkan cacian dari wanitanya, Elvan tetap berdiam diri memeluk tubuh mungil itu. Rasa sakit yang ia rasakan, tidak akan sebanding dengan apa yang telah ia berikan kepadannya. Amarah yang Ara rasakan begitu sangat besar, ingin rasanya ia pergi sejauh mungkin dan tidak mau melihat wajah orang yang sudah membuat luka besar dalam hidupnya.

__ADS_1


" Jangan pernah berpikir untuk lari dariku, ini! Sudah menjadi milikmu seutuhnya. " Elvan mengarahkan tangan Ara untuk menempel di dadanya.


Mendapati orang yang berada dihadapannya menjadi rada aneh, Ara menaikan alisnya sebagai tanda keheranan.


" Aku tidak akan pernah mau menerima orang yang sudah menghancurkan hidupku! Sampai kapanpun, bahkan jika kau mati sekalipun. Aku tidak akan menerima manusia kejam sepertimu, lepaskan! " Sekuat tenaga Ara mendorong tubuh pria dihadapannya.


Mendapati ucapan yang baru saja ia dengar, perlahan pelukan itu melemah dan terlepas. Begitu sakit yang Elvan rasakan di dalam hatinya, dimana semua wanita akan berusaha untuk mendapatkan perhatiannya dengan berbagai cara. Bahkan dengan cara kotor sekalipun, namun kali ini. Wanita yang sudah mengambil perhatian dan hatinya, malah dengan begitu tegas menolak dirinya.


" Jangan pernah berharap aku akan memaafkanmu! Biarkan aku pergi dari sini."


" Jangan sampai kau melebihi batas, Ara! Kau tidak akan pernah bisa keluar dari mansion ini, sampai kapanpun!" Tiba-tiba saja Elvan berbicara dengan nada yang cukup tinggi, dan itu membuat Ara benar-benar kaget dan ketakutan.


Melihat Elvan yang baru saja keluar dari kamarnya dalam keadaan yang cukup mengenaskan, Rara yang baru saja tiba untuk memeriksa keadaan Ara menjadi sangat kaget.


" Kak, ada apa denganmu?"


" Jaga dia, jangan sampai ia pergi ataupun keluar dari mansion!"


" Tapi kak, kaki dan dahimu." Rara menunjuk ke arah luka yang Elvan alami.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Elvan berlalu begitu saja memasuki ruang kerjanya. Hal itu bemar-bemar membuat Rara bingung, namun pikirannya langsung tertuju kepada Ara. Dengan segera ia memasuki kamar itu dan benar saja, ia melihat Ara yang masih bersandar dalam keadaan menanggis.


" Kamu tidak apa-apa?" Sapa Rara.


Ara menegakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menyapanya, dengan tatapan sendu. Rara membawa tubuh Ara untuk duduk di tepian tempat tidur, sedikit merapikan penampilannya. Rara mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Ara, seteguk demi seteguk air itu memasuki kerongkongannya.


Kembali Ara menatap Rara dan mata itu mengeluarkan air lagi, Rara memeluknya dan memberikan tepukan lembut pada bahu Ara.


" Tenanglah, kakak tidak akan mengganggumu lagi. Percayalah." Sontak saja perkataan itu membuat Ara melepaskan pelukan, Rara yang mendapati itu menjadi heran.


" Apa maksudmu?"


" Kau akan mengetahuinya sendiri, wah. Kamarmu seperti habis bergelut dengan suami, aduh ni mulut." Rara menepuk mulutnya berkali-kali.


Hal itu semakin membuat rasa penasaran dalam hati Ara, Rara yang hampir saja membocorkan rahasia besar. Dengan cepat ia memeriksa keadaan Ara dengan alat yang ia bawa, setelah selesai. Ia langsung berpamitan dan keluar dari sana.


" Aduh ni mulut, hampir saja. Bisa mati aku kena amukan si manusia batu lumutan itu." Rara berceloteh menjauh.


Sementara itu, didalam kamar. Ara semakin dibuat bingung dengan keadaan di mansion tersebut, pria yang bersikap dingin, kejam itu berubah menjadi hangat secara tiba-tiba.

__ADS_1


Ada apa dengannya? Biasanya dia akan selalu bersikap dingin dan menyeramkan kepadaku, tapi. Kenapa akhir-akhir ini sangat berbeda. Ara.


__ADS_2