
Keadaan mansion berubah seketika, disaat mengetahui kabar bahwa Ara masuk rumah sakit. Untuk penyebabnya, belum ada yang mengetahuinya.
" Oma." Suara itu mengagetkan Elliza yang sedang duduk bersama Nany di ruang keluarga.
" Eh, Ezra sudah pulang?!" Elliza tampak bingung, karena ini belum saatnya Ezra pulang dari sekolah dan kenapa sudah ada dirumah pikirnya.
" Iya Oma, tadi disekolah sedang ada rapat. Mommy dimana? "
" A a i itu, apa ya. Aduh, em." Elliza sangat gelagapan untuk mengatakan dimana keberadaan Ara pada Ezra.
" Ada apa Oma? Kenapa gugup seperti itu?" Ezra menaikan alis matanya, menatap aneh pada Elliza.
Tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, Elliza begitu bingung harus menyampaikan atau tidak perkara Ara yang sedang dirawat di rumah sakit.
" Kamu tukar pakaian dan makanlah dulu, nanti Nany yang akan jelaskan." Nany menangkap situasi yang sudah tidak bisa Elliza atasi, lalu ia yang mengambil alih.
" Ada apa sih sebenarnya, kan Nany sama Oma bisa langsung katakan. Ah ini menyebalkan!" Ezra melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya.
Setelah bayangan Ezra telah hilang dari pandangan kedua wanita tersebut, Elliza bisa bernafas dengan lega. Ia memahami karakter cucunya tersebut, jika ia mendengar sesuatu yang terjadi menimpa Mommynya. Bisa-bisa gempar seluruh mansion dibuatnya, Ezra begitu posesif kepada Mommynya, sama sekali dengan Elvan.
" Nany." Elliza menatap Nany.
" Ikuti saja perkataanku." Ujar Nany dengan tenang.
......................
Menatapi wajah pucat istrinya, yang masih terlelap. Elvan sesekali memberikan kecupan hangat pada pada punggung tangan dan dahinya Ara, sedangkan Maia. Ia sudah berada dirumahnya, setelah sempat bersitegang dengan Elvan untuk menjaga Ara. Namun pada akhirnya, ia harus menuruti perkataan suami dari sahabatnya itu.
__ADS_1
" Eugh." Suara itu terdengar dari mulut Ara dan membuat Elvan kaget.
" Sa sayang!"
" Ha haus." Dalam keadaan mata terpejam, Ara mengucap kalimat tersebut. Ingin ia membuka matanya lebar, namun cahaya yang ada membuatnya menyipitkan matanya.
Segera Elvan mengambil segelas air dan membantu Ara untuk meminumnya, perasaan Elvan begitu bahagia saat mendapati istrinya telah sadar.
" Bee." Kembali Ara mengeluarkan kalimat lembutnya.
" Iya sayang, apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Elvan tanpa melepaskan tangannya dari tangan Ara. Ia pun menekan tombol darurat yang ada di dekatnya, sehingga dokter pun bisa dengan segera memeriksa keadaan Ara.
" Bee." Ara menatap Elvan dengan penuh arti, namun Elvan berusaha untuk tetap tenang.
Ia tahu jika saat ini, istrinya itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Elvan tersenyum dan membiarkan dokter untuk melihat kondisi istrinya terlebih dahulu. Setelah memastikan semuanya baik, dokter pun memberikan beberapa nasihat dan juga sedikit saran agar bisa membuat kondisi Ara menjadi lebih baik. Seusai Menghilangnya dokter tersebut dari pandangan mereka, Elvan kembali merapatkan dirinya bersama Ara.
" Bee."
" A a ku." Begitu jelas terlihat di wajah Ara, jika ia masih memikirkan perkataan dari wanita yang di temuinya saat itu.
" Katakan perlahan saja, kamu saat ini sedang hamil sayang. Kasihan babynya kalau kamu seperti ini, pasti dia akan mengikuti perasaanmu sayang." Elvan secara perlahan mengatakan hal tersebut kepada Ara, agar dirinya tidak terlalu kaget.
" Hamil?! A aku hamil Bee?!" Mendengar jika dirinya sedang hamil, Ara begitu nampak kaget dan bingung akan perasaan yang sedang ia alami.
Hanya anggukan kepala dan senyuman yang Elvan berikan kepada Ara, disusul oleh kedatangan dokter disana. Lalu Ara segera diperiksa akan kondisinya, setelah dinyatakan baik-baik saja. Dokter pun berlalu dari mereka, kembali lagi Ara menatap Elvan dengan penuh arti.
" Ada apa? Apa yang membuatmu menatap suamimu ini seperti itu sayang? Apa ketampananku bertambah, hem." Dengan memberikan sedikit gombalan, Elvan tidak ingin membuat Ara semakin tertekan.
__ADS_1
Awalnya Ara begitu ragu untuk mengatakan mengenai sesuatu yang sudah membuat ia menjadi kepikiran terus menerus, namun semuanya itu ia sampingkan.
" Bee, ada seseorang yang mengatakan ji jika me mereka kehilangan puterinya sejak bayi. Dan dan..."
" Hem, dan apa sayang." Elvan mengelus punggung tangan Ara perlahan.
" Dan tan tanda itu, sama seperti yang aku punya. Apa benar semuanya itu, Bee? Aku takut, jika mereka hanya ingin mempermainkanku. Hiks hiks."
Akhirnya yang menjadi penyebab beban pikiran Ara, kini sudah ia ceritakan kepada suaminya. Ia takut jika kejadian itu hanya bagian dari rencana musuh dari Elvan yang mau mengincar dirinya, mendapati Ara yang menanggis, sungguh hal ini membuat Elvan tersenyum.
" Kenapa kamu tersenyum, Bee? Kamu tega, jika mereka benar-benar mau menculikku? Jahat kamu!" Ara melepaskan tangan Elvan dari tangannya, dengan perasaan yang kecewa dan berbaring memungguminya.
" Hei! Sayang, jika memang mereka akan menculikmu, mana mungkin aku membiarkannya begitu saja. Sudah jangan marah ya, kasihan babynya nanti bertambah tertekan sayang."
" Oh iya ya, aku sedang hamil. A apa, hamil?"
" Kamu sih, olahraga terus. Jadinya gini kan, nanti Ezra bagaimana. Pasti dia akan kaget." Ara membalikkan tubuhnya dan menatap Elvan dengan tatapan tajam.
" Lho, bukannya bagus sayang. Ezra akan mempunyai adik, selama ini dia seorang diri. Pasti dia kesepian, nanti kita beritahukan padanya perlahan-lahan. Bila perlu, kita olahraga terus dan adik-adiknya akan bertambah banyak, bagaimana?"
Ara hanya bisa menghembuskan nafasnya yang berat dan memutar bola matanya dengan malas saat mendengar perkataan Elvan, pada dasarnya ia sangat bahagia mengetahui kehamilannya kali ini. Hanya saja, ia masih memiliki rasa trauma yang berat pada saat kehamilan pertamanya. Namun pikirannya semakin bertambah, dikala ada seorang wanita yang menyatakan ciri-ciri pada dirinya, sama seperti anaknya yang hilang.
Brak!
Pintu ruangan tempat Ara berada terbuka dengan paksa, mengakibatkan terdengar suara yang begitu keras dan mengalihkan perhatian mereka berdua.
" Mommy!"
__ADS_1
" Ezra!"
" Boy!"