
" To to long, sela matkan anakku. Ku mohon selamatkan dia."
Melihat bayi kecil yang begitu polos, Arion sangat tidak tega dengannya. Rasa kemanusiannya seketika terlintas, membuka jas yang ia gunakan. Arion mengambil bayi itu dari pelukan Ara dan membalutnya menggunakan jas yang ia gunakan tadi, akan tetapi. Arion melihat bayi tersebut tidak menanggis dan tidak bergerak. Warna bibirnya sedikit membiru, begitu juga pada Ara. Dalam keadaan mata yang tertutup, Ara berusaha untuk tetap sadar.
" To tolong selamatkan anakku." Ucapnya dalam kesadaran yang melemah.
" Hei, bangun! Bangun!" Arion menggoyangkan tubuh bayi itu untuk memastikannya hidup.
Memberikan intruksi kepada orang-orangnya untuk memberikan jalan padanya mendekati Ara.
" Kaun tidak apa-apa? Bangunlah." Ujar Arion kepada Ara.
" Sela matkan anakku, ku mohon." Tangan Ara meraih lengan Arion, dengan noda darah yang sudah mulai mengering ditangannya.
Tidak tahu mengapa, tiba-tiba saja Arion merasakan jika dirinya tidak tega untuk membiarkan kedua orang tersebut dalam keadaan seperti itu. Arion meletakkan bayi itu disamping ibunya, ia memerintahkan bawahannya untuk memberikannya air.
" Minumlah." Arion mendekatkan air tersebut pada bibir Ara. Namun Ara tidak berdaya untuk menggerakkan tangannya, menyadari akan hal tersebut. Arion membantunya untuk dapat meneguk air tersebut.
" Teri ma kasih tuan. Kau orang baik." Ucap Ara dengan setengah sadar.
Jleb!
Hati Arion sangat malu dengan ucapan yang Ara berikan padanya, ia begitu kerasnya ingin melenyapkan wanita itu. Namun, disaat seperti ini. Wanita itu seperti malaikat yang menyentuh hatinya, dengan ucapan yang ia berikan. Seakan tidak percaya, Arion membuang perasaannya untuk berbelas kasih, kembali dengan tujuannya untuk memberikan pelajaran bagi orang yang sudah membuatnya menderita dengan kepergian wanitanya.
" Tu an baik, siapa na mamu." Tangan Ara menyentuh telapak tangan Arion.
Sentuhan itu, membuyarkan pikiran Arion yang semulanya ingin menyerang Ara dengan senjata yang berada dibalik saku celananya.
" Hah, a apa katamu?"
" Na namamu tuan." Ara mengulang kembali pertanyaannya.
__ADS_1
" Ee... Na namaku A Arion." Ucapan itu terlontar dari mulut Arion yang begitu terbata-bata mengucapkannya.
" A arion, terima kasih tuan Arion. Aku menjadi saksi, jika kau adalah orang yang sangat baik."
Apa ini?! Kenapa aku sangat tidak ingin melukainya? Ada apa dengan diriku ini, wanita ini sangat berbeda dari wanita lainnya. Arion.
" Jangan bergerak, jika tidak. Nyawamu akan aku lenyapkan."
Tiba-tiba saja, suara itu mengagetkan Arion dan juga orang-orangnya. Tampak jelas jika Jack, Liam dan semua anggotanya sudah berada disana. Lalu Jack menodongkan sebuah senjata di kepala Arion, mereka berdua terlebih dahulu tiba disana sebelum yang lainnya. Arion sangat kaget, ia ingin memberontak. Namun Jack telah mengunci pergerakannya, sehingga tidak mereka tidak bisa berkutik.
" Ara!" Suara berat yang menjadi khas dari seorang Elvan bergema.
Berlari dengan begitu kencangnya, Elvan segera menghampiri tubuh Ara yang sudah terbaring tak berdaya.
" Sa sayang, bangunlah. Ara!!" Membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya, Elvan begitu shock dengan melihat keadaan istrinya saat itu.
" Be e. Ba by." Mata Ara yang hanya sedikit terbuka, melirik ke arah samping tubuhnya.
Benar saja seperti perkataan Ara, Elvan melihat seperti tumpukkan kain disamping tubuh istrinya. Menggunakan satu tangannya untuk menopang Ara dan satunya membuka tumpukan kain tersebut, seketika Elvan terbelalak dengan apa yang ia lihat.
" Ba by, i ni bayi kita?"
" Hhmm." Ara berdehem memejam matanya dan mencengkram dada Elvan dengan sangat kuat.
" Sa sayang! Ara!! Hei, buka matamu! Ara!" Teriak Elvan dengan mengguncang tubuh itu.
" Se lamatkan a nak ki ta." Berakhirnya kalimat tersebut, cengkraman tangan Ara melemah dan terlepas dari dada Elvan.
" Ti tidak! Bangun Ara, bangun! Hei, bangun!" Mata Elvan memerah dan rahang menggeras, mengeluarkan air mata atas apa yang ia alami saat itu.
Memeluk tubuh Ara dengan cukup kuat ke dalam dekapannya, Elvan begitu terpukul dengan keadaan istrinya yang sangat miris. Tiba-tiba saja, suara tanggisan dari dalam bungkusan kain disamping Ara. Dion yang mendengarnya langsung mengambil bungkusan tersebut dan membukanya, bayi mungil yang pada awalnya sudah dalam keadaan bibir membiru dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kini bayi itu menanggis dengan sangat keras, wajahnya yang terlihat memerah dengan tangan yang berusaha menggapai sesuatu dari balik kain pembungkusnya.
__ADS_1
" Oeek! Oek!"
Dion menggendong bayi tersebut dalam pelukannya, disaat yang bersamaan ssebuah helikopter mendarat. Terlihat Rara yang berlarian setelah turun dari benda terbang tersebut, menghampiri Elvan yang sudah seperti manusia tak bernyawa menatap istrinya.
" Minggir!" Rara mendorong tubuh Elvan, agar ia bisa dengan leluasa menanggani Ara.
Penanganan kepada Ara langsung diberikan, beberapa orang tenaga medis lainnya baru saja tiba dan juga dokter yang menanggani masalah kehamilan Ara yaitu Amora. Semua peralatan yang ia bawa, langsung ia gunakan untuk menolong Ara. Dengan adanya pertolongan untuk Ara, Elvan mengalihkan pandangannya pada sosok bayi mungil yang berada dalam pelukan Dion. Suara tangisan itu membuat tubuhnya berjalan perlahan menghampiri, Dion pun mengerti akan keadaan dari tuannya. Dengan lembut, Dion menyerahkan bayi itu kepada Elvan. Sempat ragu untuk menyambutnya, Elvan dengan tatapan mata kosongnya melihat malaikat kecilnya itu telah lahir. Dan kini, ia membawanya ke dalam dekapannya.
" Ma maafkan Daddy, maafkan Daddy." Tangisan itu akhirnya pecah, dari seorang Elvan yang terkenal kejam. Ia memberikan kecupan pada kening sang anak, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
Bagaikan pepatah yang mengatakan ikatan batin seorang anak kepada orangtuanya sangatlah kuat, sebelumnya bayi tersebut dalam keadaan menangis. Namun disaat ia berada di dalam pelukan ayahnya, suara tangisan itu pun hilang. Dua orang perawat menghampiri Elvan, mereka bermaksud untuk memberikan pakaian yang layak bagi sang bayi tersebut agar tidak kedinginan. Elvan menyerahkannya, akan tetapi bayi itu kembali menangis dengan begitu nyaringnya dan terdengar sangat memilukan.
" Berikan saja selimutnya." Elvan tidak ingin anaknnya semakin menangis karena terlepas dari pelukannya.
Mereka pun memberikan apa yang di inginkan Elvan, merasa nyaman dalam pelukan Daddynya. Membuat bayi itu kembali tenang, seakan-akan tidak ingin berpisah dengannya.
" Kak! Secepatnya kita harus kembali, nyawa Ara kritis! Ayo kak." Rara membuyarkan pikiran Elvan.
" Ara!" Gumam Elvan yang langsung menghampiri tersebut.
" Maaf tuan, nyawanya dalam bahaya." Tutut Amora kepada Elvan.
Rahang Elvan langsung mengeras, menatap Ara dengan keadaan yang begitu menyayat hatinya.
" Cepat bawa dia! Kenapa kalian masih disini, hah! Jika nyawa istriku dalam bahaya seperti ini, apalagi yang kalian tunggu! Cepat!!" Teriak Elvan yang mendapati mereka terlalu lamban dalam menyelamatkan nyawa Ara.
Atas hal itu, semua orang segera membawa tubuh Ara untuk berada didalam helikopter. Elvan masih membawa dan memeluk erat anaknya, sebelum ia memasuki helikopter.
" Kalian amankan dia, aku sendiri yang akan menghabisinya!"
" Baik tuan." Ujar Liam dan yang lainnya.
__ADS_1
Helikopter itu perlahan meninggalkan tempat tersebut, didalamnya. Amora dan juga tenaga medis yang ia bawa sedang menjaga kondisi Ara agar tetap stabil hingga sampai di rumah sakit.