Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
59.


__ADS_3

Tidak ada rasa belas kasihan yang ditampakkan pada wajah Jack, ia langsung saja melepaskan tembakan yang tepat dan mengenai kedua kaki Belen.


" Tangkap wanita sialan itu, ingin rasanya aku mengulitinya saat ini juga. Dan kalian, kalau hanya ingin mengulur waktu untuk menangkapnya. Lebih baik pulang saja ke habitat kalian, sudah tahu nyawa nona hampir lenyap karena wanita itu." Jack tak henti-hentinya melayangkan protesnya kepada Azura dan Gael.


" Dasar cerewet sekali kau ini, kalian amankan wanita itu. Jika dia memberontak, habisi saja sekalian. Tidak usah pikir-pikir lagi untuk menyiksanya, untuk saja kau wanita. Kalau pria saja, sudah aku pisahkan kepalamu itu dari tubuhmu." Azura tak ingin kalah dengan argumennya.


" Kepalanya memang sudah terpisah dari tubuhnya, dasar manusia terlalu pintar. Lama-lama aku semakin tidak waras berdekatan denganmu, kalian cepat bawa wanita itu. Tunggu perintah dari tuan untuk selanjutnya, namun jika dia memberontak. Silahkan kalian lakukan semaunya, asalkan jangan sampai dia berhenti bernafas." Perintah Jack kepada anggotanya untuk membawa Belen.


" Awas kau! Lain kali akan aku tendang bokongmu itu, seenaknya saja menilai orang." Azura terus saja membalas perkataan Jack yang menyudutkannya.


Dari celoteh kedua pria tersebut, Gael hanya memandangi Belen dari jarak yang cukup jauh. Dimana sebelumnya mereka berdua berteman baik dan berada di dalam satu lingkup institusi beladiri yang sama, Belen terkenal dengan prestasinya yang sangat baik. Akan tetapi, takdir untuk hidup dengan baik tidak bisa berpihak padanya.


Begitu pula Belen, ia menatap ketiga pria yang sudah menangkapnya. Terutama tatapannya tertuju pada Gael, dengan begitu tajam ia menatapnya.


" Lepas! Lepaskan tangan kalian dariku, dasar kalian semuanya sampah. Bos kalian itu hanya memanfaatkan kalian saja, kalian pun sama-sama dengan mudahnya dibodohi oleh dirinya." Belen memberontak.


" Dasar wanita la***at! Jika mulutmu terus berbicara, jangan salahkan aku jika mulutmu itu akan tertutup selamanya!" Jack kembali emosi atas perkataan Belen.


" Hahaha, Bodoh tetap saja bodoh. Wanita itu akan mati, karena racun pada tubuhnya pasti sudah menyebar. Hahaha!"


" Racun?!" Azura, Jack dan Gael bergumam secara bersamaan.


" Ya, racun. Senjata yang tertancapkan padanya sudah kulumuri dengan racun yang sangat mematikan, hahaha. Lebih baik kalian secepatnya mengucapkan selamat tinggal padanya."


Entah apa yang ada di dalam pikiran Gael pada saat itu, setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Belen sendiri. Dengan sangat cepat ia berlari mendekati Belen, tanpa pikir panjang. Gael mencengkram rahang Belen dengan cukup kuat, membuat wanita itu meringgis kesakitan.


" Sudah cukup kau membuat kami bersabar, dasar wanita g***a! Enyahlah kau!" Gael melepaskan tangannya dari rahang Belen, lalu ia mengambil tongkat besi yang saat itu digunakan para anggota Jack.


Tang!


Tang!


Dua ayunan dari tangan Gael, cukup membuat Belen tak sadarkan diri.

__ADS_1


" Bawa dia, jangan sampai kalian lengah menjaganya. Dia begitu licik, ingat itu." Titah Gael kepada orang yang akan membawa Belen untuk diamankan.


Melihat aksi Gael, Jack dan Azura hanya menggelengkan kepalanya. Jack pun segera menghubungi Elvan, namun panggilan itu tidak mendapatkan respon. Mereka bertiga langsung berangkat menyusul Elvan, dan sebagian lagi anggota mereka tetap menjalankan misi mereka untuk mendapatkan informasi dan juga mencari tahu siapa dalang dari semuanya ini.


......................


Keadaan dirumah sakit semakin menegangkan, keadaan Tami sudah selesai mendapatkan penanganan dari dokter. Dan saat ini, ia sudah dipindahkan pada ruang perawatan. Namun tidak untuk Ara, dokter yang berada di dalam ruangan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda untuk keluar.


" Kenapa lama sekali, apa yang mereka kerjakan?" Dengan begitu khawatirnya, Elvan menunggu dari luar ruangan.


Rara yang ikut dalam tindakan di dalam ruangan, juga belum menunjukkan batang hidungnya. Hingga habis kesabaran dari seorang Elvan, ia berjalan begitu cepat menuju pintu ruang tindakan istrinya dan bermaksud untuk masuk ke dalam.


Klek! Pintu itu akhirnya terbuka, memperlihatkan beberapa dokter dan juga tenaga medis lainnya yang sedang mendorong brankar untuk keluar. Betapa kagetnya Elvan, disaat kedua bola matanya melihat siapa yang berada di atas brankar tersebut.


" Sa sayang."


" Liam! Cepat singkirkan kak Elvan!" Teriak Rara yang juga ikut berada disisi brankar tersebut.


Mendapati teriakan itu, Liam mempercepat langkahnya dan menarik diri tuannya untuk menyingkir dari tempatnya semula ia berdiri. Semua tenaga medis dengan segera mendorong brankar tersebut menuju ke sebuah ruangan khusus, Elvan memberontak atas apa yang dilakukan Liam kepadanya.


Secepat mungkin Elvam menarik tubuh Rara untuk menyingkir dari sana, cengkraman pada lengan Rara begitu kuat. Hal itu membuat Rara memukuli Elvan, agar ia bisa melepas tangannya dari tubuh Rara.


" Sakit kak, lepaskan!"


Tangan kekar itu pun terlepas, kini Rara yang memghujani Elvan dengan tatapan tajamnya. Dan setelahnya, air mata Rara mengalir dengan isakan tangis yang terdengar memilukan.


" Katakan! Bagaimana kondisi Ara?!" Tegas Elvan kepada Rara.


Plak!


Tiba-tiba saja Rara menampar wajah Elvan, itu membuat Elvan semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


" Aku tanya! Bagaimana keadaan istriku Rara?! Jawab!" Suara itu semakin meninggi, siapa pun yang mendengarnya pasti akan ketakutan.

__ADS_1


Mata yang memerah, lalu Rara menampakkan wajah marahnya pada Elvan.


" Kau memang tidak pernah becus menjaganya kak, kau memang bre***ek!" Rara membalas ucapannya dengan berteriak dihadapan Elvan.


" Aku akan mengutukmu seumur hidup! Sudah kesekian kalinya, kau membiarkan nyawa Ara berada diantar hidup dan mati! Apa pantas orang sepertimu ini disebut suami? Jawab!"


Memukuli tubuh sang kakak secara brutal, Rara sudah merasa kecewa dengan apa yang terjadi. Bahkan untuk menikmati kebahagian sementara saja, Ara harus merelakannya. Demi bertahan dengan status sebagai istri dan juga ibu dari benih seorang leader dunia bawah.


" Apa maksudmu, hah! Apa maksudmu berkata seperti itu Rara!"


Tubuh Rara berguncang atas sikap Elvan padanya, Liam tidak bisa ikut ambil andil dalam pembicaraan kedua adik dan kakak itu. Tak berselang lama, kedatangan Jack bersama Azura dan juga Gael disana. Mereka juga menyaksikan perdebatan yang terjadi, lalu Jack mengambil keberanian untuk menyampaikan sesuatu hal.


Pada sebelumnya, Jack sempat menghubungi Liam untuk menayakan sesuatu kepadanya. Dan kini, Liam mempersilahkan Jack untuk mengatakan langsung kepadantuannya.


" Tuan."


Sapa Jack, dan Rara langsung menghapus airmatanya saat mendengar suara tersebut. Begitu pun pada Elvan, ia juga mengetahui bahwa Jack akan mengatakan sesuatu kepadanya.


" Hem." Elvan hanya memberikan tanggapan melalui suara deheman, namun tidak menatap Jack.


" Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada tuan."


" Katakan!" Elvan mengusap wajahnya dengan kasar dan beracak pinggang.


Menarik nafas dan menghembuskan perlahan, Jack mengumpulkan keberanian untuk berbicara.


" Pelakunya telah kita amankan tuan, dan..."


" Dan apa?!" Elvan merasa kesal karena ucapn Jack yang bertele-tele.


" Senjata yang digunakan oleh wanitu itu mengandung racun yang sangat mematikan. "


Jack tidak sanggup untuk berkata lebih lanjut, karena setelah ia mengatakannya. Wajah Elvan tampak mengeras, matanya semakin memerah. Kedua telapak tangannya mengepal dengan sangat kuat, belum sempat Elvan menanggapi perkataan Jack. Rara sudah terlebih dahulu mendahuluinya.

__ADS_1


" Sekarang kau mengetahuinya, nyawa Ara hampir tidak bisa kami selamatkan. Senyawa racun itu dengan cepatnya sudah menyebar menyerang organ vitalnya, makanya sekarang dia diantara hidup dan mati! Sudah kuperingatkan berulang kali padamu, jangan pernah melibatkannya pada dunia kotormu itu! Dia tidak tahu apa-apa! Kau memang manusia kejam kak!"


__ADS_2