Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
43.


__ADS_3

Mendengar nona mereka mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, membuat Liam menjadi tersulut emosi. Mendapat tugas untuk menyelesaikan kejadian tersebut, dengan sangat senang hati ia melakukannya. Mendatangi pihak kampus dan membuat kesepakatan yang di ingingkan oleh tuannya, membuat mereka menjadi ketakutan. Mengetahui jati diri Ara yang sebenarnya, sebagai seorang istri dari seorang pemilik perusahaan dan saham terbesar.


Dengan mudahnya Liam memberikan balasan kepada trio princess tersebut, perusahaan dan saham dari orangtua ketiganya. Dalam hitungan detik, telah hancur dan dalam keadaan gulung tikar. Begitu mudah bagi Liam melakukannya, dan kini. Ketiganya sudah berada disuatu tempat yang sudah dipersiapkan olehnya, hanya tinggal menunggu intruksi dari tuannya. Maka dari itu, nyawa mereka bertiga bertahan atau akan lenyap.


......................


Waktu berlalu dengan begitu cepat, kini usia kangdungan Ara memasuki bulan ke delapan. Dalam keadaan perut yang semakin membesar, membuat Elvan berubah menjadi suami yang begitu lembut dan begitu protektif kepada istrinya. Tapi tidak untuk yang lainnya, ia menjadi bertambah tegas pada perusahaan dan semakin menyeramkan pada dunia bawah.


" Bee, sudah lama Mami tidak kesini. Bolehkah aku menemuinya?" Menemani waktu santai pada akhir pekan, Elvan membawa Ara untuk sekadar minum teh pada balkon kamar mereka.


Kamar yang dulunya Ara tempati sendirian, kini mereka berdualah yang menghiasinya. Elvan tidak ingin mengambil resiko untuk membawa Ara berlibur kesuatu tempat, karena ia tidak ingin keselamatan istri dan calon anaknnya dalam bahaya.


" Memangnya kenapa sayang, bukannya Mami sering kemari?" Tangan Elvan mengelus dan mencium perut Ara yang semakin membesar.


" Terakhir kalinya kapan ya, sudah beberapa bulan yang lalu kalau tidak salah. Aku sangat ingin bertemu dengan Mami, entah mengapa perasaan ini sangat tidak enak."


Menatap wajah Ara yang mulai mendung, Elvan menarik dan membawa tubuh itu ke dalam pelukannya.


" Bagaimana kalau kita saja yang mengunjunginya?" Tawar Elvan kepada Ara.


" Benarkah itu Bee? Kamu nggak bohong kan?" Begitu antusiasnya Ara mendengar penawaran dari suaminya.


" Hem, apa yang tidak untukkmu sayang. Baby lihat, Mamy seperti anak kecil. Daddy semakin gemas, bahkan pipinya pun merona merah."


" Mamy Daddy? " Kening Ara mengkerut.


" Ya. Mamy dan Daddy, bagus kan sayang. Jangan diganti ataupun ditolak, ini sudah keputusan finalnya. Ayo, aku akan membantumu untuk bersiap." Elvan memampah Ara dengan perlahan, dengan kondisi perut yang semakin membesar. Membuat Ara mengalami sedikit kesulitan dalam bergerak, sebagai suami yang siaga. Elvan siap dalam berbagai situasi dan kondisi untuk istrinya.


Mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil yang nyaman untuk Ara, walaupun sempat kepergian mereka mendapat larangan dari Nany.


" Lebih baik Ara hari ini bersantai bersamu di mansion, apalagi dalam kondisi seperti ini." Nany mengkhawatirkan keadaan kandungan Ara yang cukup lemah.


" Aku akan menjaganya, Nany tenang saja." Elvan dengan sikapnya, membuat Nany geleng-geleng kepala menghadapi sikap keras kepalanya.


" Baiklah, berhati-hatilah. Jaga keduanya."

__ADS_1


Selama perjalanan menuju rumah kedua orangtuanya, Ara terlihat begitu bahagia. Dengan wajah yang tersenyum, melihat kehidupan luar yang sudah lama tidak ia nikmati. Salah satu tangan Elvan menggenggam tangan Ara, layaknya seperti pasangan yang sedang kasmaran.


Setibanya mereka di kediaman Bagas, pintun gerbang terkunci oleh sebuah gembok besar. Membuat Ara kaget dengan apa yang ia lihat, apalagi ada sebuah poster tertempel disana yang bertuliskan.


' Rumah ini dalam sitaan bank.'


Lirikan mata Ara tertuju pada Elvan, dengan mudahnya Elvan memainkan bahunya sebagai jawaban jika ia tidak mengetahui apa-apa.


" Coba hubungi terlebih dahulu ponselnya, sayang."


Benar apa yang dikatakan oleh Elvan, kenapa dari tadi ia tidak terpikir untuk menghubungi ponsel Mamy terlebih dahulu. Tangan mungil mulai menyentuh berbagai angka dan diakhiri dengan tamda hijau, begitu lama tidak ada jawaban. Ara terus mengulangingya sampai beberapa kali, namun tetap saja tidak ada jawaban.


" Tidak ada jawaban, Bee." Nada bicara Ara yang terdengar begitu kecewa.


" Jangan bersedih, ingat baby sayang." Elvan mencoba untuk menghibur Ara yang merasakan kecewa dan juga sedih tidak dapat bertemu dengan keluarganya, bahkan keberadaannya pun tidak diketahui.


" Kita pulang saja Bee." Ucap Ara lirih, dengan air mata yang mulai menetes dari sudut matanya.


Menghapus aliran air mata pada wajah istrinya, Elvan menambahkan kecupan manis pada kening dan bibir mungil Ara. Kembali menggenggam tangan Ara dan melajukan mobilnya untuk meninggalkan tempat tersebut.


" Bee, sepertinya mobil itu mengikuti kita." Ara menyadari akan situasi yang mereka alami.


" Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja." Mengatakan hal tersebut, Elvan ingin Ara tidak tertekan dengan keadaan mereka.


Brak!


Suara tabrakan dan guncangan pada mobil yang Elvan kendarai, membuat Ara kaget dan berteriak.


" Aargh!" Menutup mata seketika, kejadian tersebut membuat Ara menjadi kaget dan takut.


" Breng***ek!" Umpat Elvan yang berusaha mengendalikan laju mobilnya untuk tetap bisa berjalan.


" Bee, aku takut. Ini ada apa?" Ara begitu tegang dengan situasi yang mereka hadapi.


" Maaf sayang, sepertinya ada yang sedang ingin bermain-main. Kamu tidak apa-apa?" Elvan memegang jemari Ara yang sudah mulai dingin karena ketakutan.

__ADS_1


Menganggukan kepalanya, Ara mengerti akan ucapan dari suaminya. Ia harus mampu untuk menghadapi apapun yang akan terjadi, siap atau tidak siap. Peristiwa seperti ini akan terjadi, dunia bawah yang dimana suaminya sangat berperan penting dalam kelangsungan organisasi tersebut.


Dugh!


Dugh!


Mobil Elvan kembali ditabrak, kali ini ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


" Maaf sayang, kamu dan anak kita harus selamat. "


" Tapi Bee, kamu..."


" Itu akan aku pikirkan, kalian yang lebih utama."


Bugh!


Bugh!


Kaca pintu bagian samping, dimana Ara berada diketuk oleh seseorang yang menggunakan motor. Dengan itu, Elvan menggerakkan mobilnya untuk menabrak orang tersebut.


" Argh!" Ara meringgis dengan memeganggi perut bagian bawahnya yang terasa nyeri.


" Sayang!" Elvan terlihat panik, mendapati Ara yang kesakitan.


Sebuah mobil datang dari arah yang berlawaban, memberikan tanda jika mereka adalah bala bantuan yang baru saja tiba. Elvan langsung mengambil sisi lain dari jalan yang ia lalui, memikirkan Ara yang masih menahan sakit pada perutnya. Terlihat Jack dan Liam menghadapi orang-orang yang menyerang Elvan, pertarungan lum tak terhelakkan dan disaat mobil Elvan menepi. Dion segera menghampiri mereka dan menunjukkan akan ada helikopter yang segera tiba untuk menggevakuasi mereka, Elvan membuka pintu bagian Ara berada.


" Bee, sa sakit! Ini sangat sakit!" Ara mengeluh dengan rasa sakit yang sangat berbeda dari sebelumnya.


" Iya sayang, helikopter akan segera tiba. Kamu bertahan ya."


Ara menganggukkan kepalanya perlahan dan memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang ia rasakan.


⚘⚘⚘


Akankah Ara dan juga bayinya akan selamat?

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya (Komen, like, hadiah dan juga vote), terima kasih😊


__ADS_2