Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
101.


__ADS_3

Di sisi lainnya, Ezra yang saat ini sedang libur dari sekolahnya. Memilih memanfaatkan waktu untuk bermain bersama para pamannya di markas sang Daddy. Dengan berbagai alasan dan juga menggunakan wajah yang sendu, pada akhirnya Ara dan Elvan mengizinkannya. Tentu pastinya, Dion yang menjadi tameng dari semuanya. Karena Ezra mengatakan pada Ara mau berjalan-jalan ke suatu mall, namum nyata tidak. Jika ia mengatakan sejujurnya, izin itu tidak akan ia dapatkan.


" Paman, apakah tempat kalian ini tidak bisa dibuat lebih menarik?" Ezra yang sudah sampai di markas milik Daddynya, berceloteh melihat bangunan tersebut.


" Jika terlalu menarik, semua orang akan mengetahui tempat persembunyian ini tuan muda."


" Bilanh saja kalau Daddy pelit, punya uang banyak tapi markasnya seperti tidak terawat." Ezra masih menelusuri setiap sudut dari markas.


Kalau bukan anak tuan besar, sudah aku potong lidahnya dan aku jadikan umpan memancing biawak. Benar-benar sebelas dua belas dengan bapaknya, oh Tuhan. Dion.


Membalikkan tubuhnya sebentar dan menatap Dion dengan tajam, hal itu membuat Dion terdiam. Lalu ia menyengir untuk menghilangkan keraguannya, ia yakin jika tuan mudanya itu mengetahui umpatan hatinya.


" Paman akan terlihat lebih manis, kalau saja hati paman tidak menjadi penggosip." Ezra lalu melanjutkan langkahnya.


Deg!


Deg!


Jantung Dion seakan berdetak tidak karuan, ia hanya bisa menahan nafasnya dengan kelebihan yang dimiliki oleh anak tuannya itu. Tidak habia pikir, kenapa keluarga tuannya itu memiliki keahlian yang sangat tidak wajar.


Tiba-tiba saja, Ezra menghentikan langkahnya. Dimana ia melihat suatu ruangan yang cukup menarik perhatiannya, berjalan menuju ruangan tersebut dengan cepat.


" Aauum!!!"


Belum saja ia tiba di depan pintunya, suara keras menggelegar telah terdengar menggusik telingga. Bukannya takut, namun itu semakin membuat Ezra mendekatinya.

__ADS_1


" Tuan muda, jangan mendekat!" Dion dengan cepat berdiri dihadapan Ezra.


" Minggir paman, jangan menghalanginya. Dia baru saja memanggilku, awas." Ezra berusaha menggeser tubuh Dion dari hadapannya.


" Jangan tuan, tuan besar akan marah. Itu adalah hewan buas peliharaan tuan besar, dia tidak bisa melihat orang asing. Tolong tuan muda, sayangi nyawa saya."


" Nyawa paman tidak ada harganya padaku, paman menghalangi jalanku."


Kegigihan dan juga keras kepalanya Ezra, membuat Dion segera menghubungi Elvan. Mengatakan hal yang sebenarnya, agar bisa ia menghentikan ide gila dari anakknya. Akan tetapi, jawaban Elvan benar-benar membuat Dion perperangah dan terdiam.


" Ezra akan menakhlukkannya." Jawaban singkat dari Elvan semakin membuat Dion frustasi dan pembicaraan mereka juga terhenti.


" Menakhlukkannya? Apa maksud tuan besar berkata seperti itu, benar-benar tidak bisa dimengerti. Anaknya akan bermain dengan hewan buas, tapi dianya tenang-tenang saja." Dion menggelengkan kepalanya, namun ia baru saja menyadari jika keberadaan Ezra sudah tidak dapat ia lihat.


" Tuan muda! Gawat ini, tuan muda! Tuan muda!"


" Ada apa Dion, kenapa kau berteriak dengan keras?" Liam yang juga ikut panik saat mendengar suara teriakan.


" Tuan muda, tuan muda Ezra. Hosh hosh hosh, tuan muda..."


" Ada apa dengan tuan muda, bukankah dia bersama denganmu?" Liam mengeraskan suaranya agar Dion segera menjawabnya.


Dengan nafas yang masih ngos-ngosan, tangan Dion mengarah pada ruangan dimana itu adalah tempat hewan peliharaan dari tuan besar mereka. Wajah panik seketika juga ditampakkan oleh Liam, mengetok kepala Dion dengan cukup keras.


Plak!

__ADS_1


" Bo**h! Kenapa bisa kecolongan, bisa mati kita semua. Sial!" Liam berlari meninggalkan Dion menuju tempat yang ditunjuk oleh Dion sebelumnya.


Betapa terkejutnya saat Liam memasuki ruangan tersebut, tidak ada suara apapun yang terdengar. Akan tetapi, pandangan mata yang ia saksikan saat itu sangat membuatnya geleng-geleng kepala. Hewan buas yang terkenal suka menyerang orang, kini sedang mengeluskan kepalanya dengan manja.


" Tuan muda!" Liam memanggil Ezra, agar ia keluar dari sana.


" Ada apa paman? Aku sedang bermain, kalian tidak pernah bilang ada teman bermain disini." Ezra asik mengusap wajah dari hewan buas tersebut, bahkan mereka terlihat begitu akrab sekali.


Saat Dion tiba, ia seketika terhempas ke lantai dengan pemandangan yang ia lihat.


" Akh Tuhan, selamatkanlah nyawaku ini."


Bahkan Ezra saat itu begitu larut dalam pertemanan barunya, Dion pun teringat akan ucapan Elvan sebelumnya.


Bapak sama anak tidak ada bedanya, Ya Tuhan. Aku mohon buatlah jantungku ini berdetak dengan normal-normal saja, jika berdetak terlalu cepat atau lamban. Habislah aku. Dion.


Semakin bingung dengan keadaan yang ada, Liam perlahan mendekati Ezra. Namun malah sebaliknya, suara ketidaksukaan dari peliharaan tuannya itu membuat Liam bergerak mundur.


" Aauum!!"


" Jiaah!" Liam bersembunyi dibalik tubuh Dion.


Keduanya saling berpandangan, sama-sama menggelengkan kepala. Hal itu membuat Ezra tertawa dengan tebahak-bahak, melihat kedua pamannya yang begitu ketakutan.


" Hei, jangan mengaum. Kasihan pamanku, lihatlah mereka seperti bocah kecil yang bersembunyi dari kecoak. Hahaha."

__ADS_1


Hewan itu menatap tajam kepada keduanya, seakan ia membenarkan perkataan dari Ezra. Pada akhirnya, Liam dan Dion hanya bisa mengawasi Ezra dari luar ruangan, mereka tidak ingin mati cepat terkena serangan jantung karena ulah anak dari tuan mereka dan hewan peliharaannya yang sangat buas. Harimau putih dengan jenis yang paling menakutkan itu dipelihara oleh Elvan dari bayi, ibunya telah mati terkena tembakan dari pemburu liar disaat Elvan melakukan misinya dinegara V. Dan kini, sudah sepuluh tahun mereka merawatnya. Hanya Elvan yang berani mendekatinya, namun kini bertambah lagi satu orang, yaitu Ezra.


__ADS_2