
Flashback on.
Merasa penasaran dengan keadaan Friska, walaupun hubungam mereka dari awal bertemu tidak pernah baik. Ara memutuskan untuk berjalan ke luar dari kamarnya, mengendap-endap bagaikan pencuri yang sedang mencari barang buruannya.
Tanpa sadar, langkah kaki itu membawanya ke sebuah lorong yang cukup aneh baginya. Rasa penasaran pun semakin menjadi-jadi, ketika ia melihat ada seseorang yang baru saja memasuki tempat tersebut. Dan orang itu ia kenali, Liam.
" Itukan orang yang pernah bersama tuan, sedang apa dia disana?"
Kembali mengikuti orang tersebut dengan menjaga jarak, sehingga berhenti pada suatu ruangan yang sangat minim dengan cahaya. Lalu terdengarlah suara teriakan dan jeritan yang sangat menyayat hati, Ara pun mendekati ruangan itu.
Sungguh peristiwa yang ia lihat, membuat dirinya sangat bergetar dan tubuhnya menjadi kaku. Tepat disaat Elvan menancapkan benda kecil itu dan menariknya dengan cukup kuat, Ara dengan secara langsung menyaksikan aksinya. Lalu terdengar rintihan memohon ampun, yang berasal dari korbannya yaitu Friska.
Flashback off.
" Ara?" Gumam Elvan saat melihat bayangan istrinya.
" Nona?!" Liam dan Jefri bersamaan membeo.
Mempercepat langkah kakinya yang begitu lemas, Ara memaksakan untuk berlari dan menjauh dari apa yang ia saksikan. Masih tidak percaya, dengan nafas terputus-putus. Ara berusaha menetralkannya.
" Ara!" Teriakan Elvan membuyarkan pikiran Ara.
" Ti tidak, aku harus pergi darinya! " Saat kaki akan melangkah lagi, tubuh Ara tertahan dan tidak bisa bergerak.
Tubuhnya seketima masuk ke dalam pelukan Elvan, hingga tubuhnya tidak bisa bergerak karena tertahan.
" Lepas! Kau begitu kejam!"
__ADS_1
" Diamlah, tidak baik orang yang sedang hamil marah-marah. Itu akan berpengaruh untuk ibu dan anaknnya, lebih baik kita kembali ke kamar saja. " Elvan mengangkat tubuh Ara dan membawanya.
Ara terus memberontak dan meminta agar Elvan menurunkan dirinya, namun hal itu tidak berpengaruh untuk Elvan. Ia trus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, yang berakhir dengan memasuki kamar yang Ara tempati, meletakkan tubuh mungil itu di atas tempat tidur.
" Pergilah! Kau benar-benar manusia monster yang kejam! " Serang Ara dengan mendorong tubuh Elvan untuk menjauh darinya.
Mendapati Ara memaki dirinya, Elvan sama sekali tidak memberikan perlawanan. Bahkan ia menerima begitu saja yang Ara lakukan padanya, lemparan bantal dan guling pu juga tak terhelakkan mengenai dirinya.
" Pergilah dari sini! Aku membencimu!" Bentak Ara.
Menghembuskan nafas beratnya, Elvan bangun dari jatuhnya. Mendekati kembali Ara yang masih tampak menanggis dan juga ketakutan, Elvan mengambil kedua telapak tangannya lalu menggenggamnya dengan sangat lembut. Meskipun dengan penolakan, Elvan masih melakukannya.
" Jangan menanggis, nanti anak kita akan ikut merasakannya." Elvan menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya.
" Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, karena sekarang kau adalah istriku. Terserah setelahnya, kamu akan membenciku atau tidak. Itu semua, aku kembalikan padamu."
" Aku adalah seorang mafia."
" Ssstt, biarkan aku menjelaskannya terlebih dahulu. Sebelum menggenalmu, aku memang manusia yang sangat kejam. Pekerjaan di perusahaan, hanyalah sebagai tameng dari kegiatanku pada dunia bawah. Bertarung, membunuh dan kehidupan malam sudah aku rasakan. Dan juga kegiatan dalam pasar gelap, aku juga terlibat. Dan.." ucapan Elvan seakan terhalang oleh sesuatu hal, hingga ucapan itu sulit untuk keluar dari mulutnya.
" Dan, dan apa?" Ara yang merasa sangat tertarik dengan cerita perjalanan kehidupan dari seorang Elvan.
" Psycopath." Elvan menundukkan kepalanya, seakan-akan merasa dirinya begitu tidak pantas untuk berhadapan dengan Ara.
" Apa! Psycopath?" Ara menutup mulutnya dengan begiti kuat menggunakan telapak tangan.
" Ya, aku seorang psycopath. Tidak ada ketakutan dalam diriku untuk menghadapi siapapun, akan tetapi. Aku tidak pernah menyentuh tubuh dan mempermainkan wanita, tapi tidak denganmu. Maaf, aku begitu sangat tertarik padamu. Sampai akhirnya kejadian kotor itu terjadi, kau memang berhak membenciku seumur hidupmu. Tapi aku mohon, rawatlah benihku dengan baik. Hanya itu harapanku padamu, aku tidak ingin penerusku menuruni kelainanku ini."
Mata Elvan sudah berkaca-kaca, meluapkan beban yang ia simpan bertahun-tahun lamanya. Ada perasaan lega dalam dirinya setelah menceritakannya kepada wanita miliknya. Begitupun bagi Ara, cukup mengagetkan dirinya setelah mengetahui kebenaran tentang seorang Elvan. Merinding, menyeramkan, ketakutan. Itulah yang Ara rasakan saat mendengar penuturan dari Elvan padanya, akan tetapi. Ara menangkap ada suatu luka yang tersirat pada wajah Elvan, yang berusaha ia tutupi.
__ADS_1
" Beristirahatlah, maaf atas perbuatanku padamu yang sudah membuatmu ketakutan." Elvan beranjak dari tempatnya, memberikan waktu bagi Ara untuk mencerna cerita yang ia berikan padanya.
" Tunggu."
Ara menuruni tempat tidur, mengejar langkah Elvan yang sudah beranjak dari tempatnya. Meraih tangan kekar nan besar untuk ia genggam, sedikit menegadahkan wajahnya untuk melihat wajah Elvan.
" Jangan pernah menghukum orang dengan menggunakan tanganmu, apalagi sampai nyawanya menghilang. Aku sedang mengandung, pepatah lama mengatakan tidak baik untuk kedua orangtuanya melakukan hal yang tidak baik. Nanti itu akan bisa berimbas pada janinnya. Berjanjilah."
Ekpresi wajah Elvan semakin datar, ia tidak bisa menebak alur jalan pikiran dari istrinya itu. Terkadang mudah marah, cerewet dan lain-lainnya. Namun ia sedikit merasa bahagia, karena Ara bisa memahami dirinya walaupun belum sepenuhnya.
" Hei, kenapa tidak menjawabnya? Leherku mulai keram tuan." Benar saja, menegadah dalam waktu yang cukup lama membuat leher Ara merasakan sakit.
" Aaa..."
Tubuh Ara melayang ke atas, Elvan dengan mudahnya mengangkat tubuhnya ke dalam pelukannya. Seperti bayi koala yang berpelukan pada induknya, membuat wajah Ara bersemu merah.
" Maaf dan terima kasih. "
" Untuk apa?" Ara mengkerutkan keningnya.
" Heh, cerewet lagi rupanya. Mau hukuman kah dirimu, sayang?" Elvan menatap begitu dalam mata Ara.
Seperkian detik, Ara baru menyadari akan hukuman dari Elvan yang pernah ia terima akibat dari ia cerewet. Sontak saja, Ara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Hal itu membuat senyuman Elvan semakin renyah, lalu ia memberikan kecupan hangat pada kening Ara.
Cup!
" Terima kasih telah mau menerimaku."
" Mmm, apakah aku boleh bertanya?" Seru Ara.
__ADS_1
" Katakan." Elvan membawa Ara untuk duduk bersama ditepian tempat tidur.