
Flashback on.
" Bagaimana bisa saham kita anjlok seperti ini?! Akh, siapa yang sudah berani mempermainkanku!" Teriak Xavier yang saat itu mendapati nilai saham perusahaan miliknya menurun drastis dalam waktu yang sangat singkat.
Seluruh berkas yang berada di tangannya, langsung ia robek dan di lemparkan ke lantai. Alan sang asisten dan juga merupakan orang kepercayaannya, hanya bisa terdiam dan memandangi berkas yang sudah berserakan.
" Jelaskan padaku Lan? Kenapa ini bisa terjadi!" Dengan penuh amarah, Xavier membentak Alan.
Menghembuskan nafasnya dengan kasar, Alan mengatur dirinya untuk tidak terpancing dan ikut emosi berhadapan dengan bosnya.
" Seperti yang anda ketahui bos, Blade Company lah yang menjadi dalangnya. Saham kita dengan mudahnya mereka tarik semuanya dari perusahaan yang mereka kelola, saya dan juga beberapa anggota kita yang lainnya. Sudah berusaha mengalihkan perhatian mereka, namun semuany gagal bos. Mereka sangat ahli dalam hal ini." Jelas Alan kepada Xavier dengan sangat berhati-hati, jika ia melakukan kesalahan sedikit saja. Maka ia akan tinggal nama saat itu juga.
" Elvan Aristides, rupanya dia masih kuat seperti dulu."
" Tapi bos, kita dapat informasi terbaru tentang mereka."
" Apa?!"
" Dari informasi yang kita dapatkan, jika musuh anda itu sudah mengakuisi beberapa perusahaan milik anda dan juga beberapa klien yang lainnya. Namun, perlu anda ketahui bos. Dia sudah menikah dan memiliki anak, anda bisa memanfaatkannya menjadi suatu kelemahan." Senyum seringai dari Alan atas informasi yang ia sampaikan.
" Menikah? Anak?" Benarkah itu!" Xavier tampak sedang berpikir atas apa yang baru saja ia dengar dari Alan.
Atas apa yang telah ia sampaikan kepada bosnya, Alan sangat percaya dan yakin akan pikiran dari bosnya tersebut, ia pasti akan mencari cara untuk membalaskan semuanya ini. Layaknya seperti dahulu, dimana Xavier selalu kalah dalam setiap aksinya. Dalam dunia bisnis maupun pada dunia bawah, ia akan selalu terkalahkan oleh kelompok yang Elvan pimpin.
" Hem, sepertinya cukup menarik. Istri, anak. Rupanya manusia itu sudah banyak mengalami perubahan, aku sangat tertantang dengan hal ini." Tampak begitu sinisnya, Xavier dengan tatapannya yang begitu sangat tajam.
" Benar bos, kali ini kita akan dengan mudahnya membuatnya mereka menyerah. Kemenangan akan berpihak pada anda." Alan mulai memberikan kata-kata manis untuk membuat jiwa mafia bosnya bangkit.
Ctek! Xavier menjentikkan jemarinya.
__ADS_1
" Kau atur strategi untuk memulainya, jangan sampai mereka mengetahui jika kita dibalik semuanya. Lebih baik tarik ulur waktu untuk mereka, daripada membuat kita semakin hancue. Kau mengerti akan maksud perkataanku, bukan!" Menaikkan satu alis matanya ke atas, membuat wajah Xavier menjadi sangat menyeramkan.
Bos bos, wajahmu tampak seperti akan menerkam seseorang sebagai mangsamu. Sudah lama aku menantikan hal ini, jiwa gelapmu perlu dibangkitkan kembali. Setelah sekian lama terkubur di dalam ketenangan yang semu, selamat datang kembali dengan jiwamu bos. Alan.
" Baik bos, akan saya laksanakan dengan sebaik mungkin." Dengan penuh percaya diri, Alan menanggapi perkataan dari bosnya.
Lalu dengan senyuman iblisnya, Alan melangkah keluar dari ruangan milik bosnya. Menyiapkan strategi yang harus mereka siapkan, untuk melawan musuh lama yang cukup kuat.
" Rupanya manusia dingin dan juga kejam sepertimu. Bisa juga berpikir tentang wanita, heh! Bersiaplah untuk pembalasanku, Elvan. Tidak sepatutnya kau mencari perkara denganku, lihat saja nanti. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
Flashback off.
Setibanya di mansion utama, Liam dan juga Rara segera membawa Elliza untuk masuk. Dimana Ara sudah menantikan kedatangan Elliza, dengan menunggunya di ruang utama dari mansion tersebut.
" Mami!"
Berjalan dengam sedikit berlari kecil, Ara segera menghampiri Elliza yang juga berlaku sama. Mereka saling berpelukan dan juga menanggis.
" Maafkan Mami nak." Ucap Elliza dengan nada yang begitu lirih.
" Tidak Mi, Mami tidak salah. Ini semua sudah jalannya hidup Ara." Membawa Elliza untuk duduk dan sedikit melepas rindu.
Melihat keadaan tubuh Ara yang sedikit mengalami perubahan, Elliza menatap Ara dengan penuh arti.
" Mami, Mami kenapa?" Tanya Ara yang mendapati Elliza menatapnya.
" Nak, bisa kau jelaskan maksud dari ini semua? Dan 'suami' seperti ucapanmu kepada Mami."
Ara menarik nafas dan menghembuskannya, membalas tatapan yang ia dapatkan dari Elliza dengan begitu sayu.
__ADS_1
" Maafkan Ara Mi, ini semuanya sudah terjadi. Memang benar, Ara sudah menikah. Dan suami Ara itu, emm mmm." Menggigit bibir bawahnya, Ara tampak ragu untuk mengatakannya.
" Siapa suamimu nak?" Elliza semakin dibuat penasaran oleh perkataan Ara yang belum terjelaskan.
Suasana begitu hening, tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Begitu juga pada Liam dan Rara, mereka merasa tidak pantas dan tidak berhak untuk menjelaskan semuanya. Disaat mereka sedang terbawa suasana yang begitu hening, terdengarlah suara langkah kaki mendekati.
" Akulah suaminya." Elvan berjalan semakin mendekat kepada Ara.
Mendengar suara tersebut, sontak saja membuat semuanya kaget dan mengalihkan fokusnya kepada sumber suara. Ara pun melepaskan pelukannya dari Elliza, jantungnya berdetak lebih cepat disaat ia mendapati suaminya itu sudah berada disamping tubuhnya dan memeluknya.
" Akh!" Ara tampak kaget dengan sikap Elvan padanya.
" Maksud anda tuan?" Elliza semakin tidak mengerti akan kejadian yang ia alami.
" Aku adalah suami dari Ara, kami telah menikah dan mempunyai seorang anak." Salah satu tangan Elvan menggenggam tangan Ara yang terasa begitu dingin.
" Menikah? Tapi, untuk wali nikahnya. Papi tidak,,,."
" Aku tidak memerlukan manusia tamak seperti suamimu itu, Ara hanyalah anak angkat didalam keluarga kalian. Istriku tidak membutuhkannya sebagai wali, apapun yang saat ini dia lakukan kepada istriku. Maka aku tidak akan tinggal diam, sudah cukup kalian menyiksanya selama ini!" Begitu tampak, jika Elvan sedang tersulut emosi.
" Bee." Ara menggelengkan kepalanya kepada Elvan, berharap suaminya itu bisa menahan amarahnya.
" Tidak sayang, kini kau sudah menjadi nyonya Elvan. Dan kalian, pasti sudah tahu status dari istriku. Jadi jangan harap kalian bisa menyentuhnya lagi, jika itu terjadi. Aku sendiri yang akan melenyapkan kalian semua, terutama untuk suami dan anakmu yang tamak itu." Begitu penuh penekanan, Elvan mengatakan jika Ara adalah istrinya. Dengan apapun ia akan menjaganya, bahkan nyawanya pun akan ia pertaruhkan.
Rasa bersalah dan juga penyesalan atas apa yang telah mereka perbuat kepada Ara, kini semuanya telah terlambat. Berada dalam lindungan orang seperti Elvan, tidak akan ada yang berani berurusan dengannya. Kalaupun ada, maka nyawa mereka adalah taruhannya.
Namun Ara memeluk tubuh Elliza yang bergetar, bagaimana pun juga ia adalah orang yang telah mengasuhnya. Memberikan ruang padanya untuk beristirahat, Rara memilih beristirahat di dalam kamarnya. Setelah lelah dengan teka-teki teror untuk Ara, untuk selebihnya ia tidak ingin terlibat lagi.
Elvan pun meminta Liam untuk menemuinya didalam ruang kerja, membahas langkah apa yang akan mereka lalukan untuk menghadapi musuhnya kali ini.
__ADS_1