Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
45.


__ADS_3

Suara langkah kaki semakin terdengar di telingga Ara, banyak suara-suara yang saling bersahutan mencari keberadaannya. Ara melihat dari sedikit celah yang ada, banyak sekali orang-orang yang berada disana mencari dirinya. Waktu pun semakin larut, keadaan gelap menyulitkan Ara untuk bergerak mencari jalan untuk keluar dari persembunyiannya.


Berjalan perlahan untuk berpindah tempat, berusaha mencari keberadaan suaminya dan berdoa agar menemukan orang yang bisa menolongnya.


Krak!!


Tidak sengaja disaat berjalan, kaki Ara menginjak salah satu dahan ranting yang sudah kering. Sehingga menimbulkan suara patahan yang cukup nyaring, semua orang yanh sedang mencari keberadaannya pun mengalihkan pendengaran mereka lada sunber suara.


Tubuh Ara bergetar hebat dengan hal tersebut, berjalan kembali untuk menghindar dari pencarian orang-orang tersebut. Ara mempercepat langkahnya dengan rasa sakit yang sudah tidak ia rasakan, menanamkan keberanian dalam dirinya untuk bisa lepas dari rasa ketakutan yang ada. Sorot lampu bertebaran dimana-mana, tanpa sengaja cahaya itu tepat mengenai wajah Ara.


" Itu dia!!"


Suara orang tersebut memberikan tanda kepada yang lain, jika target mereka telah ditemukan. Ara berlari dengan tenaga yang ia miliki, melewati semak-semak yang begitu gelap dan juga terjal.


" Akh! Lindungi kami Tuhan, aku mohon jangan biarkan mereka menemukan kami." Ara terus berlari dengan keadaan tubuh yang sudah mulai lelah.


Berhenti sejenak setelah menemukan tempat cukup aman baginya bersembunyi, Ara berusaha untuk membuat dirinya tenang dan meredakan sedikit rasa sakit yang ia rasakan.


Tuhan, aku mohon selamatkanlah kami dari kejaran orang-orang tersebut. Pertemukanlah suamiku dengan kami, aku mohon. Ara.


Rasa sakit pada bagian perut Ara semakin kuat, disaat ia akan mendaratkan tubuhnya untuk bersandar pada bagian bebatuan yang cukup besar.


Plugh!


" Ti tidak!" Seperti air yang pecah dari sebuah tampungan, cairan bening itu mengalir dengam begitu banyak melalui celah-celah kakinya. Rasa sakit itu semakin menekan perutnya, Ara merasakan swakan-akan ada sesuatu yang mendorong dari dalam perutnya untuk keluar.


......................


Bugh!


Bugh!

__ADS_1


Elvan menyerang orang yang terus menghalangi jalannya, sorot tajam matanya mencari keberadaan istrinya.


" Ara! Ara! Dimana kau?!" Teriak Elvan dengan begitu keras.


Satu persatu, pihak lawan mulai mereka tumbangkan. Dengan bala bantuan dari kelompok lainnya yang berada dibawah kekuasaan Elvan, pihak dari Arion dan juga Carlos mulai bisa mereka atasi.


" Tuan, orang kita menemukan jejak nona berada di pinggiran yang terjal pada arah jam dua." Jelas seorang yang menggetahui keberadaan dari Ara kepada Elvan.


Tanpa berkata apapun, Elvan segera melangkah pergi mencari keberadaan istrinya. Perasaan yang begitu khawatir atas keadaan Ara, membuat dirinya tidak bisa tenang. Masih terdapat orang-orang menyerang yang mereka, Elvan mengeluarkan jati dirinya yang sebenarnya. Tanpa belas kasihan, ia menyerang orang-orang tersebut dengan sangat kejam.


Setiap orang yang menghalangi jalannya, tanpa ampun Elvan menghabisinya dengan tangan kosong. Memukul, menendang dan juga mematahkan bagian dari tubuh mereka hingga nyawanya lenyap. Bahkan dengan buasnya, ia menghabisi dengan mengoyakkan tubuh mereka hingga tercerai-berai.


" Tuan!"


Gumam Jack dan Liam melihat kesadisan dari tuannya telah kembali, mereka pun akhirnya mengikuti jejak dari tuannya. Dengan bantuan yang datang, mereka berhasil mengalahkan kelompok yang menyerang secara tiba-tiba.


Sementara itu, Ara yang sudah tak tertahankan lagi menahan rasa sakit pada perutnya, dan bagian punggungnya terus mengeluarkan darah. Tiba-tiba saja, ada sebuah tangan yang memegang punggungnya yang terluka dengan cukup kuat, membuat dirinya meringgis kesakitan.


" Arrgh! Sa sakit!!" Ara mengerang tanpa melihat siapa orang yang telah menyerang pundaknya.


Bagaikan tersambar kilatan petir, Ara membesarkan bola matanya setelah mendengar suara pria tersebut yang begitu sangat asing baginya. Tubuh Ara tertarik kebelakang, dengan menahan perutnya ia tetap bertahan.


" Rupanya, kau sangat cantik. Sayang sekali, dia sudah terlebih dahulu mendapatkannya. Kali ini, aku akan membalas semua yang sudah dia lakukan padaku!" Arion mendorong tubun Ara hingga perutnya membentur bongkahan batu besar didekatnya.


" Aakh!!"


" Kalian harus lenyap ditangaku! Dan dia akan merasakan apa yang sudah ia lakukan pada wanitaku!" Arion menendang Ara hingga terpental cukup jauh dan terjatuh menuruni jurang kecil disampingnya.


Cukup jauh Ara terjatuh hingha pada dasar jurang tersebut, Ara menjerit dengan rasa sakit yang cukup membuatnya seakan mati. Mendapati wanita yang ia tendang menghilang dari tatapannya, Arion mengerahkan semua bawahannya untuk mencarinya.


" Kalian cari wanita itu sampai dapat, jika tidak! Nyawa kalian jadi taruhannya! Cepat!" Arion mencari Ara begitu marah.

__ADS_1


Begitu lemahnya, Ara berusaha untuk membangkitkan tubuhnya yang sudah tidak berdaya. Setelah jatuh ke dasar jurang yang bermuara pada pinggiran aliran sungai, darah terus mengalir dari celah kakinya.


" Bertahan Ara, berta han." Menyakini diri sendiri untuk tetap kuat, Ara menarik dirinya untuk tidak jatuh ke sungai.


" Arkh! To tolong! Arkh!!" Tekanan pada perutnya semakin kuat dan tak tertahankan.


Tubuh itu semakin bergetar, tangan Ara mencengkram bebatuan disekitarnya. Merasakan sesuatu yang akan keluar, Ara menurunkan segitiga yang ia gunakan sampai terlepas. Dress yang ia gunakan sudah berubah warna, dengan berbagai noda yang melekat. Menggigit bibirnya dengan sangat kuat, Ara semakin tak tertahankan atas dorongan dari perutnya.


" Huh huh huh, sa sakit! Huh huh." Ara mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


" Eeeggh! Eeggh!" Mengejan tanpa intruksi dari siapapun, Ara mengikuti alur rasa sakit pada perutnya.


Menekuk kedua kakinya, Ara kembali mengejan untuk kesekian kalinya. Rasa putus asa dan ketakutan kini menyelimuti dirinya, ia tidak menyangka akan ada dalam posisi dan keadaan seperti ini. Tiba saatnya, dorongan itu semakin kuat, Ara pun mengejan kuat sehingga urat-urat lehernya terlihat. Cengkraman tangan pada bebatuan itu menguat.


" Huh huh huh, eeghh! Eggh!"


" Eeegghhh!!" Mengejan panjang dan teriakan dari mulutnya terdengar pilu.


" Ooeekk! Oeekk! Oek!"


Tanggisan bayi laki-laki yang baru saja keluar dari perut sang ibu terdengar, tidak tahu kekuatan darimana yang membuat Ara berani melihat dan memeluk tubuh yang begitu kecil dan masih basah akan cairan merah. Tanggis Ara kembali pecah saat melihat sosok malaikat kecilnya telah lahir.


" Oek! Oek!"


" Baby, kamu sudah lahir nak." Membawa tubuk kecil itu ke dalam pelukannya, Ara takut anaknnya akan kedinginan dengan suhu udara yang ada.


Rasa bahagia itu begitu terlihat jelas dimatanya, namun hal itu tidak serta merta dengan dirinya. Perlahan daya tahan tubuh Ara melemah, memeluk anaknya dan mempertahankan agar babynya tidak terjatuh. Berdiri dengan kekuatan yang ada, Ara berjalan dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.


" Berhenti! Jika kau melangkah lagi, peluru ini akan menembus kepalamu!" Ternyata Arion menemukan keberadaan Ara, ia pun menodongkan senjatanya pada Ara dari Arah belakang tubuhnya.


Tanpa rasa takut, Ara membalikkan tubuhnya. Menatap halus pada Arion yang sudah mengarakan senjatanya, tubuhnya kembali bergetar dan terjatuh. Menjaga agar sang anak tetap aman, Arion melihat Ara yang berbeda.

__ADS_1


" Bayi?! Ka kau!" Betapa kagetnya Arion melihat bayi yang berada dalam pelukan Ara, tanpa selembar benang yang menutupinya dan dengan tali pusar yang masih tersambung pada ari-ari.


" To to long, sela matkan anakku. Ku mohon selamatkan dia."


__ADS_2