Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
47.


__ADS_3

Brankar itu melaju dengan begitu cepat menuju ruang tindakan, setibanya mereka. Helikopter mendarat pada bagian teratas dari bangunan rumah sakit yang mereka tuju, pihak medis disana pun telah menunggu mereka.


Elvan menyerahkan bayinya kepada perawat disana untuk segera mendapatkan penanganan lebih lanjut, menunggu dengan tidak tenang dari luar ruangan. Jack dan juga Dion yang baru saja tiba, ikut serta menunggu bersama tuannya. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara sepatah katapun, melihat tuan mereka yang begitu dinginnya. Tak lama kemudian, seorang perawat menemui mereka.


" Maaf tuan, dokter ingin berbicara pada anda." Ucap perawat tersebut.


Elvan yang baru saja menyadari, jika saat ini ia sudah menjadi seorang Daddy. Mengingat sang anak yang juga berada dalam perawatan, lalu ia mengikuti langkah perawat tersebut. Jack dan Dion tetap berjaga di depan ruanh tunggu, mereka juga ikut merasakan kekhawatiran yang tuan mereka rasakan.


Memasuki ruangan yang dimaksud, seorang dokter laki-laki menyambut kehadiran Elvan. Dengan penampilannya yang masih menggunakan pakaian penuh dengan berbagai macam noda, dokter tersebut dapat memakluminya.


" Bayi anda sempat mengalami hiportermia, dimana ketika kondisi tubuh mengalami penurunan drastis dari kondisi normal. Dan ini sangat berbahaya, bisa menyebabkan kematian jika dibiarkan saja. Namun untuk saat ini semuanya sudah bisa kita atasi, bayi anda sangat kuat tuan. Untuk masa observasi, kami menempatkannya pada inkubator. Karena usianya masih belum cukup untuk dilahirkan, ditakutkan akan terjadi komplikasi yang tidak di inginkan. Jika kesehatannya baik selama di observasi, tidak menutup kemungkinan bayi anda akan ditempatkan pada ruangan biasa. " Jelas sang dokter tersebut kepada Elvan.


" Hmm." Hanya itu jawaban yang diberikan Elvan, atas penjelasan dari sang dokter.


Ia kemudian berjalan mendekati box kaca yang berisikan bayinya yang berjenis kelamin laki-laki, dan itu terlihat begitu sangat aktif dan tidak menampakkan jika ia terlahir secara prematur serta tanpa bantuan siapapun selain Mamynya.


" Hello boy, berjanjilah untuk tetap kuat. Maaf kan Daddy atas semuanya." Ucap Elvam dengan begitu lirih, memandangi sang buah hati.


Menyakini anaknya telah baik-baik saja, Elvan kembali menuju tempat dimana istrinya sedang berjuang untuk hidup. Dalam waktu yang cukup lama mereka menunggu, pada akhirnya Rara keluar dari ruangan tersebut dengan langkah gontai. Membuka masker dan topi medis yang ia gunakan, Elvan langsung menghampirinya.


" Bagaimana? Bagaimana keadaan Ara? Katakan!" Dengan tidak sabar, Elvan ingin segera mengetahui keadaan dari istrinya.


Menarik nafas dengan cukup panjang, Rara memeluk Elvan dengan uraian air mata.


" Hiks hiks!" Terdengar suara tanggisan dari dalam pelukan itu.


Mendapati Rara yang menanggis, perasaan Elvan semakin tidak karuan. Pikirannya sudah membayangkan yang tidak ia inginkan, tubuhnya pun menjadi kaku. Hal itu pun membuat Rara bingung, dengan keadaan tubuh Elvan yang tidak bergerak.

__ADS_1


" Kak, kakak kenapa?" Tatap Rara kepada Elvan.


" Bagaimana keadaannya?" Suarat Elvan yang berat, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasa merinding.


Kembali menarik nafas yang panjang, memegang tangan yang kekar milik sang kakak. Rara memberanikan diri untuk menjelaskan, bagaimana keadaan dari kakak iparnya.


" Ko koma?!" Elvan membeo dengan ucapannya, tatapan mata yang sangat terlihat kosong.


Brukh!


" Kakak!"


" Tuan!"


Rara bersama Jack dan Dion sontak terkejut, melihat tubuh besar kekar dan juga koko itu ambruk terjatuh ke lantai.


" Kak, ada apa?" Rara tampak cemas dengan kondisi Elvan saat itu, ia tahu jika Elvan saat ini sedang terguncang.


" Semua ini salahku, salahku!" Elvan berteriak dan merutuki perbuatannya, jika saja ia tidak membawa Ara keluar saat itu. Hal ini tidak akan terjadi.


" Tidak ada yang salah kak, cobalah untuk berdamai dengan jiwamu yang sedang tidak karuan itu. Untuk saat ini, fokuslah pada Ara dan anak kalian. Berikan tugasmu kepada mereka, biarkan mereka juga membantumu. Ara dan bayi kalian, sangat membutuh kau kak."


Dengan perkataan Rara, membuat Jack menjadi tersentak kaget.


Gila ni perempuan, sembarangan saja kalau bicara. Ada tuan saja pekerjaanku sudah menumpuk, apalagi tuan tidak ada. Dasar menyebalkan! Jack.


Cekrek!

__ADS_1


Pintu ruangan tindakan terbuka, tampak dokter Amora yang baru saja keluar dari sana. Lalu ia menghampiri mereka yang sedang membantu Elvan untuk berdiri, dengan senyuman Amora yang ia tampakkan. Dengan tujuan, agar tidak menambah keteganggan pada orang-orang yang sedang sedih.


" Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU (Intensive Care Unit)." Jelas Amora dengan singkat.


Elvan berjalan menghampiri Amora, dengan tatapan mata yang begitu tajam.


" Apa yang terjadi padanya? Kenapa istriku bisa sampai tidak sadar seperti ini dan koma?! Jelaskan!" Ucapan Elvan begitu penuh dengan penekanan.


Menanggapi ucapan Elvan, Amora hanya tersenyum manis. Ia dapat merasakan seperti apa perasaan dari keluarga, yang mendapati salah satu keluarganya harus mengalami kejadian yang tak terduga seperti ini.


" Saya harap, tuan sebagai suaminya pasien untuk dapat menerima semuanya. Pasien mengalami pendarahan yang cukup hebat, akibat dari benturan yang mengenai bagian perut. Terjadi juga robekan pada dinding rahim, yang membuat trauma pada tubuh pasien. Dan juga, pasie mengalami hipotermia yang parah dan cukup sulit untuk bisa mengandung kembali. Untuk itu, kita butuh penanganan khusus." Jelas Amora.


Hancur sudah jiwa Elvan mendengar penjelasan dari Amora, disaat yang bersamaan. Pintu ruang tindakan kembali terbuka dan terlihat siapa yang sedang terbaring pada tempat tidur tersebut, dengan berbagai peralatan medis yang tertancap pada tubuh mungil itu. Semakin besar perasaan bersalah Elvan padanya.


" Sa yang." Menghampiri tubuh Ara yang terbaring tidak berdaya.


" Aku mohon, bertahanlah. Baby sangat membutuhkanmu, jangan pernah kau meninggalkan kami. Aku mohon." Bisik Elvan pada telinga Ara.


Tanpa disadari, sudut mata Ara mengeluarkan air mata. Seakan-akan ia juga ikut merasakan apa yang sedang Elvan rasakan, pada saatnya Amora mengatakan untuk segera membawa Ara. Elvan menatap sangat dalam wajah Ara, lalu ia memberikan kecupan hangat pada keningnya. Perlahan Ara dibawa meninggalkan Elvan yang hanya bisa menatapnya melalui sebuah kaca pembatas.


" Kakak ipar pasti akan segera pulih kak, bersabarlah dan jangan lupa untuk menjaga keponakanku. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali, jika tidak. Aku sendiri yang akan menghabisimu." Rara pun berlalu mengikuti arah dimana Ara dibawa.


Sepeninggalan semuanya, Jack yang seharusnya menemani Dion bersama tuannya. Kini ia harus segera kembali ke perusahaan, dimana salah satu klien mitra kerja mereka membuat ulah.


" Kau jaga tuan, jika ada sesuatu. Segera bertahu, kalau tidak aku akan menghabisimu." Ujarnya kepada Dion.


" Iya, pergilah. Kau benar-benar cerewet seperti dokter Rara."

__ADS_1


" apa kau bilang, hah! Perempuan menyebalkan itu, buatmu saja." Jacak segera berpamitan kepada tuannya dan melangkah dengam cepat menuju perusahaan.


Selalu bilang menyebalkan, memang cocok tu orang. Dion.


__ADS_2