
Sudah lebih dari satu minggu, keadaan Ara masih belum menunjukkan perkembangan. Untuk racun yang menyebar dalam tubuhnya, belum sepenuhnya hilang. Rara dan juga beberapa dokter yang Elvan datangkan dari berbagai negara, hanya untuk membantu menghilangkan zat racun dan juga memberikan pengobatan yang terbaik untuk istrinya.
" Bagaimana perkembangannya dok?" Tanya Elvan yang mempertanyakan keadaan Ara pada salah satu dokter.
" Untuk saat ini cukup baik tuan, hanya saja racun itu belum sepenuh hilang. Kita harus memastikan keadaan organ vital dari nona Ara tidak terganggu." Jelas dokter tersebut kepada Elvan.
" Kenapa istri saya belum sadar? Apa ini sangat berbahaya?"
" Sampai saat ini, tubuh nona memberikan respon yang cukup baik untuk pengobatan dari kami tidak ada penolakan dari tubuhnya. Kami harap, anda dapat bersabar untuk proses ini. Tubuh nona cukup kuat, tuan. Terbukti dari daya tahan tubuhnya terhadap racun tersebut, untuk manusia biasa. Bisa dikatakan tidak akan bertahan dalam keadaan seperti ini, kami akan terus berusaha yang terbaik untuk kesembuhan nona. Tetap terus berdoa dan berikan rangsangan melalui pembicaraan, hal itu dapat memancing respon dari tubuhnya." Dokter tersebut merupakan dokter yang terbaik dari negaranya,ia sangat kagum akan kekuatan dari Ara untuk melawan semua zat racun didalam tubuhnya.
Elvan tampak terdiam akan penjelasan yang dokter berikan, orang lain saja sangat kagum dengan istrinya. Apalagi ia sendiri yang merupakan suaminya, namun ada juga sisi hatinya yang tidak terima akan kekaguman pria lain terhadap istrinya. Hal itu membuat dirinya merasa cemburu, namun ia harus membuang egonya demi kesembuhan belahan jiwanya.
" Baiklah dok, terima kasih atas bantuannya."
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya dan berlalu dari hadapan Elvan, dalam keadaan seperti ini. Elvan memasuki kamar perawatan Ara, dari kejauhan ia menatapi wajah istrinya. Tampak begitu tenang dan damai, hanya saja berubah sedikit pucat. Berbagai alat medis masih tertancap pada tubuhnya, hal itu membuat Elvan meringgis.
" Sayang, bagaimana keadaanmu saat ini? Aku harap, kamu bisa dengan segera membuka kedua matamu yang indah itu. Jangan terlalu lama tidurnya, baby juga sudah sangat merindukanmu." Elvan meraih punggung tangan Ara yang tertancap jarum infus dengan perlahan lalu mengecupnya.
" Lihat sayang, apa kamu tidak kasihan dengan suamimu ini. Aku sangat mencintaimu, sangat sangat merindukanmu. Bangunlah sayang." Dengan memejamkan kedua bola matanya, tanpa sadar ia meneteskan air mata pada sudut matanya.
Keadaan Elvan saat ini begitu sangat rapuh, disalah satu sisi ia harus kuat berhadapan dengan keadaan Ara dan juga babynya. Namun dilainnya, ia juga harus menghadapi dan menyelesaikan segera kasus penyerangan tersebut. Semua anggota kelompoknya berusaha dengan semaksimal mungkin, untuk segera menemukan dalang dari kejadian tersebut. Namun rivalnya kali ini begitu licik dan juga pintar, maka ia juga harus menyiapkan strategi untuk menangkapnya.
" Cepatlah sadar sayang, aku dan baby menunggumu." Kembali Elvan memberikan kecupan hangat pada kening dan juga punggung tangan Ara, sebelum ia meletakkan tangan istrinya.
__ADS_1
Berdiri dan merapikan penampilannya, Elvan berjalan keluar dari ruang perawatan Ara.
" Kalian tetap berjaga, jangan sampai terjadi sesuatu pada istriku. Kalian sudah tahu sendiri bukan akan akibatnya." Ujar Elvan kepada orang-orangnya yang ia tugaskan untuk menjaga istrinya.
" Baik tuan, kami akan melakukan yang terbaik." Jawab mereka dengan tegas.
Berjalan meninggalkan tempat dimana Ara dirawat, Elvam melangkahkan kakinya menuju markas. Dimana Liam dan lainnya sudah menunggu akan kehadirannya disana, disaat bayangan tubuh Elvan sudah menghilang. Seorang dokter berjalan menuju kamar perawatan Ara, seperti biasanya. Siapa pun yang akan memasuki ruangan tersebut, akan mendapatkan pengecekkan dari orang suruhan Elvan. Setelah selesai dan aman, maka orang tersebut akan dipersilahkan untuk memasuki ruang perawatan dari nona mereka.
Pintu terbuka, dokter tersebut berjalan memasukinya dan menatap pasien yang berada disana. Pintu tersebut tertutup oleh penjaga disana, dengan perlahan dokter itu mendekati pasiennya. Namun tidak ada tindakan ataupun memeriksa kondisi dari pasiennya, dokter tersebut hanya menatap dengan lekat keadaan dan wajah dari pasiennya.
" Kita bertemu lagi, bidadari." Ujar dokter itu.
Menggunakan caranya sendiri, Arion yang saat itu mendengar tentang Ara. Ia pun mencari cara agar bisa berjumpa dengan bidadarinya, dan inilah caranya.
Bagaimana bisa mereka melukaimu? Bahkan orang terkejam seperti suamimu saja bisa berubah dengan kehadiranmu, dan itu juga berlaku untuk diriku. Aku berjanji padamu akan mencari dan menghabisi mereka yang sudah membuat dirimu menjadi seperti ini, namun kau juga harus berjanji. Akan selalu menjadi bidadariku, walaupun suamimu itu menjadi penghalang untuk kita bertemu. Cepatlah sadar dan sembuh, aku akan mengusahakan pengobatan yang terbaik untukkmu bidadari. Arion.
Tidak ingin membuat curiga, Arion menyudahi tugasnya menjadi dokter palsu hanya untuk bertemu dengan Ara.
" Sampai bertemu kembali, bidadari."
Arion segera keluar dari ruang perawatan Ara, ia tidak ingin kesempatannya untuk bertemu Ara akan hilang atas ke egoisannya. Tanpa menaruh curiga, para penjaga tersebut kembali berjaga.
......................
__ADS_1
" Eak, eak!"
Suara tanggisan dari baby terdengar sangat memilukan, hal itu membuat Elliza dan Nany menjadi kebingungan.
" Cep cep cep sayang, kamu lapar ya? Kamu haus ya?" Ucap Elliza yang saat itu sedang menggendong cucunya.
" Eak eak!" Tanpa sebab yang jelas, baby terus menanggis.
" Apakah popoknya sudah penuh? Atau dia mengantuk?" Nany pun dibuat pusing.
" Entahlah, tapi dia terus menanggis. Mungkin baby merindukan Mommynya, cep cep cep ya nak. " Elliza masih terus mencoba menenangkan baby.
" Mungkin saja, jika aku mengetahui dari awal. Wanita itu sudah habis aku lenyapkan dengan tanganku sendiri, kasihan Ara. Dia tidak tahu apa-apa dan menjadi korban atas dendam yang ada, apalagi baby mereka ini." Tatapan sayu Nany kepada baby yang terus menanggis, perasaan bersalahnya cukup besar atas kejadian yang terjadi.
" Mungkin ini sudah cerita perjalanan hidupnya, sepertinya kita harus meminta Elvan untuk pulang, Nany. Siapa tahu dengan bertemu Daddynya, baby akan merasa nyaman." Elliza yang sempat terpikir akan hal tersebut, ia sangat tidak tega melihat cucunya menanggis terus menerus.
" Benar sekali, kenapa aku tidak terpikir akan hal itu. Ah, dasar otakku sudah mulai tua. Jef, Jefri!" Nany memanggil dengan suara yang cukup keras.
Dari kejauhan orang yang namanya dipanggil, dengan sedikit berlari kecil segera menghampiri Nany.
" Iya Nany, saya."
" Coba kau hubungi anak nakal itu, segera suruh dia pulang. Bilang saja, babynya terus menanggis dan tidak mau diam." Perintah Nany.
__ADS_1
" Bain Nany." Jefri yang saat itu juga langsung menghubungi tuannya, melalui ponsel pribadinya.
Pembicaraan pun terhubung dengan Elvan, Jefri langsung menyampaikan perintah yang sebelumnya Nany katakan. Mendengar laporan dari Jefri, Elvan pun segera pulang menuju tempat dimana babynya berada.