
" Terlibat jauh seperti apa, Bee?"
Ara yang tersadar dari tidurnya, mendengar ucapan yang baru saja dikatakan oleh Elvan pada dirinya.
" Sa sayang! Kamu sudah sadar. Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter, sebentar ya." Dengan sangat bergegas, Elvan segera keluar dari kamar perawatan dan memanggil dokter. Sekaligus ia menghindar dari pertanyaan yang di lontarkan oleh sang istri, karena ia juga masih bingung harus menjawab apa.
Ketika dokter sudah datang, mereka langsung melakukan tugasnya. Membawa Ara menuju ruang pemeriksaan, untuk memastikan keadaan ibu dan bayinya dalam keadaan yang baik-baik saja. Hanya saja, keadaan Ara yang kurang baik. Ia akan terus mengalami pendarahan, sekecil apapun beban pikiran yang ia tetima. Itu sangat mempengaruhi kondisinya, sedangkan untuk bayinya sangat begitu kuat.
" Mau makan atau ada sesuatu yang kamu inginkan, sayang?" Elvan menawarkan sesuatu untuk membantu meningkatkan kesehatan Ara setelah tiba di kamar perawatannya.
" Sepertinya, aku begitu haus Bee. Rasanya mau sesuatu yang dingin dan menyegarkan, jus atau es." Ujar Ara.
" Eemm, apa itu tidak apa-apa sayang?" Elvan khawatir akan mempengaruhi kesehatan keduanya.
Ara menggunakan wajah sendunya untuk membujuk Elvan dalam memenuhi keinginannya, begitu tidak teganya. Mau tidak mau, akhirnya ia mengabulkan permintaan Ara. Mengutus orangnya untuk segera mencari minuman yang di inginkan istrinya, kembali lagi ia menemani Ara dengan segala kelembutan. Disaat yang tidak tepat, ketika Elvan sedang ingin memberikan kecupan hangat pada bibir Ara. Datanglah sang pengganggu kecil.
" Kunci pintunya Dad!" Suara Ezra yang terdengar cukup keras ketika memasuki ruang perawatan Ara.
Bukannya merasa tidak enak, Elvan hanya menghembuskan nafasnya secara kasar. Lain dengan Ara, ia tersenyum geli melihat sikap suaminya yang dingin itu menjadi kesal.
__ADS_1
" Mom, bagaimana keadaan Mommy dan adek?" Ezra langsung menyingkirkan Elvan dari sisi Ara, dan menggantikannya dengan dirinya.
" Mommy dan adek baik-baik saja, sayang. Bagaimana dengan sekolahmu?" Ara memeluk Ezra dan mengelus puncak kepalanya.
Dari sisi yang berbeda, Elvan mengkerutkan keningnya dan menatap tajam kepada Ezra. Akan tetapi, respon yang diberikan oleh sang anak semakin membuat emosi Elvan meningkat. Ezra begitu santai dan tersenyum kepada Elvan, tak lupa ia menjulurkan lidahnya sebagai tanda jika Ezra lebih unggul dalam mendapatkan perhatian dari Mommynya.
Jika bukan anakku, sudah aku asingkan dia ke negara tidak berpenghuni. Akh! Elvan.
Mengusap wajahnya dengan kasar, Elvan menghempaskan tubuhnya untuk duduk pada sofa yang berada disana. Ia tidak pernah membayangkan jika anaknya telah merebut posisinya dari istrinya, disaat Elvan memejamkan matanya sejenak. Ponsel pribadinya berdering, panggilan masuk dari nomor yang tidk dikenal.
" Siapa yang menelfon Bee?" Tanya Ara melepaskan Ezra yang mendekati Daddynya.
" Tidak ada nama pemanggilnya, biarkan saja sayang." Elvan mengacuhkan panggilan tersebut, namun saat akan memasukan ponsel itu kedalam sakunya, begitu cepat Ezra merebutnya dengan alasan meminjamnya untuk bermain game.
Tangan kecil itu begitu cepat bergerak, dengan celotehan yang keluar dari mulutnya. Menyakinkan jika dia sedang bermain, namun ternyata tidak demikian. Menunggu untuk beberapa saat, yang pada akhirnya Ezra tersenyum dan memperlihatkan layar ponsel kepada Elvan.
" Coba Daddy lihat, ternyata yang menghubungi Daddy tadi adalah mereka. Hati-hati Dad, mereka mulai mencurigai Daddy." Dengan senyuman sinisnya, Ezra berikan kepada Elvan.
Menerima ponsel miliknya, Elvan kembali lagi dibuat kaget oleh Ezra. Ternyata pihak Ray sedang mencari mereka secara tersembunyi dan licik, menggunakan akses legal yang dimiliki orang berkuasa di pemerintahan untuk mencarinya.
__ADS_1
" Heh, cara yang begitu aman bukan. Ternyata mereka masih mencarimu Boy, bukan Daddy. Kau yang sudah membuat kekacauan pada mereka, benarkan." Elvan berbisik di telinga Ezra, namun sang putera hanya memejamkan matanya dan berpura-pura tidak mengetahui apapun.
" Dasar bocah, jika Daddy memberitahukan semuanya ini pada Mommy. Habislah kau Boy, makanya jangan terlalu meremehkan Daddy. Hahaha."
Secara tidak langsung, Elvan mengakui kelebihan yang dimilik oleh Ezra. Namun ia tidak akan menurunkan egonya dihadapan puteranya itu, hanya dengan menggunakan nama sang istri pasti puteranya itu tidak akan berani padanya. Seolah tidak habis akalnya, Ezra juga mencari celah untuk membuat Elvan tak berkutik.
" Mom, Daddy melihat foto wanita di ponselnya Mom. Lihatlah!" Teriakan Ezra membuat Ara membukan matanya yang sempat terpejam.
" Benarkah itu? Bee, kemarikan ponsel itu." Dengan wajah yang begitu penasaran, Ara meminta segera ponsel milik Elvan.
Lirikan mata Elvan begitu tajam pada Ezra, betapa tak berkutiknya pada saat ini.
" Bee."
" Tidak ada sayang, puteramu ini hanya mengada-ngada." Elvan berupaya menyakinkan Ara, namun Ara masih memberikan kode untuk segera menuruti perkataannya.
Dengan langkah gontai, Elvan mendekati Ara dan memberikan ponselnya. Ara pun segera memeriksa isi dari ponsel milik suaminya itu, mencari kebenaran akan perkataan dari sang puteranya.
Butuh beberapa saat untuk Ara menyakinkan akan perkataan Ezra, setelah selesai. Ara mengembalikan ponsel suaminya, dengan secara bersamaan mereka berdua menatap puteranya.
__ADS_1
" Ezra." Keduanya menyebut nama anaknya yang sudah membuat mereka saling mencurigai.
Seperti tanpa dosa dan bersalah sedikitpun, Ezra hanya tersenyum dengan dua jari sebagai tanda perdamaian.