
Keesokan pagi harinya, Ara sudah terlebih dahulu turun menuju dapur. Hanya berdiam diri di kamar, membuatnya semakin bosan. Bermaksud untuk membantu para maid yang lainnya, dan bisa berinteraksi dengan orang.
" Mila, apa aku bisa membantu?"
" Eh, Ara! Aaa senangnya bisa melihatmu lagi, kamu baik-baik saja kan? Maafin aku ya." Mila memeluk Ara dan ia merasa sangat bersalah atas kejadian kaburnya Ara yang berakhir dengan tertangkapnya kembali oleh tuannya.
" Tidak apa-apa, aku sudah baik-baik saja kok. Hem, kamu sedang membuat apa? "
" Oh ini, aku sedang membuat sarapan untuk tuan. Eh tahu nggak, akhir-akhir ini pola makan tuan sedang tidak baik. Nany selalu menyuruh kami untuk membuat menu yang berbeda-beda setiap harinya, biar tuan mau makan." Mila dengan semamgat bercerita.
Tidak makan dengan teratur? Wajar saja mukanya semalam terlihat begitu cekung, tapi. Biasanya monster itu akan selalu sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja, aneh. Ara.
" Baiklah, nanti biar aku saja yang membawakan sarapan itu untuk tuan. "
" Siip! Itu baru kerjasama yang baik, oh iya Ara. Bisa tolong bantu buatkan minuman untuk tuan? Aku belum mengerjakannya."
" Iya Mila cantik, apa sih yang nggak buat kamu." Puji Ara untuk teman terbaiknya.
" Ah kamu bisa saja, pasti mukaku sudah memerah seperti tomat. " Dengan tersipu malu, Mila bergaya layaknya seorang wanita yang baru saja mendapat kejutan dari pacarnya.
Mereka berdua lalu mengerjakan apa yang sudah disepakati sebelumnya, maid yang lain juga larut dalam pekerjaannya sendiri-sendiri.
Prang!
Suara pecahan dari benda yang berbahan kaca, lalu terlihatlah siapa yang melakukan hal tersebut. Berdiri di dekat lemari pendingin, Friska dengan bertolak pinggang menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kebencian.
" Lu ngapain mecahin gelas segala, sudah hebat rupanya ya." Mila berdengus kesal dengan perbuatan Friska.
" Sudah Mil, lanjutin saja pekerjaanmu." Ara mencoba melerai keduanya, agar tidak berlanjut.
__ADS_1
" Biarin Ra, ni orang memang harus dikasih pelajaran. Masa dia selalu ngomongin kamu yang tidak-tidak, dasar wanita eror." Umpat Mila.
Mengamati perkataan Mila, ada rasa penasaran dalam diri Ara untuk mengetahuinya.
" Dasar wanita penggoda, ingat statusmu. Kamu disini adalah pelayan, jadi bekerjalah sesuai porsimu. Jangan sibuk menggoda tuan Elvan saja."
" Friska! Mulutlu bener-bener ya, biar cabe ini yang menampalnya." Mila langsung mengambil cabe yang baru saja ia bersihkan dari tangkainya untuk diberikan kepada lawan bicaranya.
" Coba kalau berani!"Friska seakan menantang perkelahian.
Akan tetapi, tangan Mila langsung ditarik oleh Ara. Dengan ekor matanya, ia memberikan tanda untuk tidak meladeni apa yang dilakukan Friska.
" Lanjutin aja kerjaan kamu Mil, lebih baik tidak usah terpancing emosi dengannya. Aku hantar makanan ini dulu ya, nanti kita ngobrol lagi." Ara mengambil nampan dan mengisinya dengan menu sarapan utnuk tuannya.
Baru saja berjalan beberapa langkah untuk keluar dari dapur, tiba-tiba saja kaki Ara tersandung sesuatu yang akhirnya membuat tubuh kecil itu jatuh bersama nampan makanan yang dibawa.
Prang!
" Ara!" Mila histeris mendapati Ara yang terjatuh.
Segera ia membantu Ara untuk berdiri dan membereskan kekacauan yang ada, Friska berlalu begitu saja dari hadapan mereka tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
" Ra, tangan kamu berdarah." Mila menunjuk ke arah luka yang terdapat pada lengan temannya itu.
" Nggak apa-apa kok Mil, hanya luka kecil. Bantuin buat yang baru ya, kasihan nanti tuan menunggu lama. Biar aku saja yang membereskan ini."
Membenarkan perkataan Ara, Mila segera membuatkan makanan yang baru untuk tuannya. Ara menghembuskan nafasnya dengan begitu kasar, berharap untuk tidak ikut terpancing emosi dengan ketidaksukaan Friska pada dirinya. Setelah selesai dengan makanan yang baru terteta rapi di atas nampan, Mila bermaksud untuk mengantikan Ara menghantarkan sarapan untuk tuannya. Namun rasa takut akan wajah tuannya, membuat Mila mengurungkan niatnya dan membiarkan Ara saja.
Tok tok tok
__ADS_1
" Permisi tuan." Ara membuka ruang kerja Elvan dan memasukinya.
Terlihat Elvan baru saja keluar dari ruang pribadinya dalam keadaan sudah berpakaian sangat rapi, lalu Ara meletakkan nampan di atas meja kerjanya.
" Perban tuan harus diganti terlebih dahulu."
" Tidakk usah, aku sedang terburu-buru." Elvan berpura-pura menyibukkan dirinya dengan ipad ditangannya.
Kembali lagi menghembuskan nafas beratnya, melangkah mendekati pria sibuk tersebut dan menarik ipad dari tangannya dan meletakkannya di atas meja.
" Pekerjaan anda akan terhambat, jika tubuh anda sendiri dalam keadaan tidak sehat. Luka itu harus dirawat agar proses penyembuhannya lebih cepat, dan tubuh anda juga harus mendapatkan haknya untuk menerima asupan makanan. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan dan melupakan kesehatan anda. Tangan!" Ara berceloteh dengan panjang, berharap pria monster itu mendengarkan perkataannya.
" Rupanya, tikus kecil ini cerewet juga." Sudut bibir Elvan kembali mengukir senyuman, hal itu membuat Ara kaget.
Pria ini, ternyata bisa tersenyum juga. Cukup baik, akh! Kenapa malah jadi kepikiran seperti ini, dia kan monster. Ara.
Membersihkan luka dan menggantikan kain kasanya, setelah selesai dengan itu, Ara mengarahkan Elvan untuk menyantap sarapan yang ia bawa. Tampak sekali kecanggungan diantara mereka berdua, namun Ara tidak ingin terlihat begitu membencinya. Ara segera pamit dari hadapan Elvan setelah semuanya selesai, namun disaat ia akan keluar dari ruangan itu.
" Apa maksud dari ini semua?" Elvan bertanya kepada Ara atas sikapnya.
Memejamkan mata sejenak, Ara yang tubuhnya tidak berbalik menjadi terdiam. Tampak ia sedang berpikir sejenak, untuk menjawab perkataan dari tuannya.
" Aku hanya ingin menebus kesalahanku pada anda, tidak lebih dari itu. Sepertinya, sekarang tugas saya sudah selesai. Saya harap, anda bisa menjaga semuanya sampai pulih. permisi." Mempercepat langkahnya, Ara tidak ingin terlibat lagi dalam kehidupan tuan monsternya itu, apalagi ia takut akan hatinya yang mudah goyah.
Sepeninggalan Ara, Elvan melamun sejenak. Merenungkan kembali perkataan Ara padanya, terasa sakit jika jawaban itu benar adanya.
Hanya menebus kesalahan hanya karena sudah melukaiku? Ternyata, dia masih sangat membenciku. Hati ini merasa sakit jika menerima penolakan darinya, apa aku benar-benar sudah mulai menyukainya? Atau ini hanya rasa bersalahku padanya? Elvan.
Dengan perasaan dan pikiran yang tidak baik, Elvan melepaskan kain kasa yang berada di tubuhnya. Berjalan keluar dari ruangan dan menuruni anak tangga dengan begitu cepat tanpa memperdulikan siapa pun. Bahkan Ara yang saat itu sedang membersihkan ruang utama bersama Mila tidak ia hiraukan, kembali dengan sikapnya yang begitu dingin. Dimana Hugo sudah menunggunya di luar, dan siap untuk berangkat bekerja.
__ADS_1