Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
42.


__ADS_3

" Apa, apa! Terserah gue lah, adik-adik gue. Lu tu yang diem, nyerocos kayak kenalpot rusak." Jack membalas ucapan Maia.


" Adik?!" Maia menutup mulutnya saat mengetahui, Dion adalah adik dari pria yang selalu berseteru dengannya. Kepalanya semakin pusing dengan teka-teki yang baru saja ia hadapi, memijit kepalanya dengan memejamkan mata.


" Ah, kalian hari ini membuat kepalaku sakit. Lebih baik aku pulang saja, Dion. Nanti kabrin ya, gimana keadaannya Ara." Maia berjalan begitu saja dan dengan sengaja ia menyenggol lengan Jack yang sudah membuatnya kesal.


Mendapati bayangan Maia sudah menghilang dengan sempurna, Jack kembali mengintrogasi sang adik yang muncul kepermukaan.


" Apa yang membuatmu seperti ini? Kakak sudah bilang, jangan pernah menunjukkan jati dirimu, Dion!" Amarah Jack begitu tegas menegur Dion.


Menendang kaki Dion yang masih engan menjawab pertanyaan dari dirinya, membuat Jack sedikit kesal dengan sikap adiknya.


" Jangan sampai membuatku kesal, Dion."


Menyandarkan punggungnya dengan santai, Dion melipat kedua tangannya di depan perutnya. Menatap sekilas wajah Jack yang terlihat menahan kesalnya, membuat Dion menyunggingkan senyuman sinisnya.


" Aku tidak akan memperlihatkan diri, jika kau tidak ceroboh dalam bertindak. Wajahku jadi terpampang begitu jelas dihadapan nona, ini semua gara-gara kau." Lalu Dion bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan Jack yang masih termenung.


Benar juga, ini semua terjadi karena kelalaianku dalam menjaga nona. Seandainya saja, aku tidak mengiyakan perkataan nona. Tentu hal ini tidak akan terjadi, huh. Jack.


Tersadar dari lamunannya, Jack melirik kesana kemari. Tidak ada siapapun bersamanya, mendapati Dion yang sudah menghilang. Membuat rasa kesal itu kembali menyapa dirinya, dengan begitu marahnya. Jack menendang pot bunga yang berada didekatnya hinga hancur berantakan, sambil mengumpat dengan sumpah serapah kepada Dion.


Sementara itu, didalam kamar perawatan. Elvan masih menatap wajah Ara dengan begitu lembut, membelai kedua pipinya yang begitu halus.


Tok tok tok.


" Permisi tuan, dokter ingin visit." Ucap Jack yang memberitahukan kedatangan dokter.


" Hmm." Hanya gumamam yang Elvan berikan.


Dokter pun masuki ruangan dengan beserta satu perawat yang menemaninya, berjalan mendekati pasien yang masih tertidur. Dokter tersebut melanjutkan tugasnya untuk memeriksa sejenak keadaan pasiennya, setelah selesai. Dokter pun menyampaikan hasil pengamatannya.


" Dengan suami dari pasien?" Tanya dokter tersebut.


" Ya." Elvan menyahutnya dengan singkat.

__ADS_1


" Perkenalkan, saya Amora. Dokter yang menangani istri anda, saya hanya ingin mengatakan kepada anda. Dan ada baiknya juga dengan lingkungan sekitar, bahwa. Istri anda saat ini sedang mengandung, dalam proses tersebut didapatkan jika kandungannya sangatlah lemah, banyak potensi yang rentan untuk menjurus pada keguguran. Apalagi ini masih dalam periode trimester yang pertama, ada baiknya untuk tidak beraktivitas yang membuat sang ibu mudah kelelahan."


" Bagaimana dengan pendarahannya, apakah itu berbahaya bagi keduanya?" Tanya Elvan.


" Untuk saat ini, bisa kita atasi. Namun saya tidak bisa menjaminnya untuk dikemudian hari, karena letak plasentanya berada dibawah dekat dengan jalan lahir. Ditakutkan, akan menyebabkan dorongan untuk terjadinya kelahiran dini atau prematur, saya harapkan anda dan juga keluarga dapat menjaganya. Apa ada yang mau ditanyakan lagi?"


" Untuk saat ini, sudah cukup. Terima kasih." Ucap Elvan tanpa ekpresi diwajahnya.


Dokter pun berpamitan meninggalkan ruang tersebut dan juga Elvan, dengan berjalan kembali ke sisi Ara. Elvan membelas wajah lembut sang istri, lalu ia memberikan kecupan hangat pada kening Ara.


" Egh."


" Sayang! " Elvan terperangah dengan suara lirih dari bibir istrinya.


Perlahan Ara menggerakkan matanya dan membalas genggaman tangan Elvan pada tangannya, masih menyesuaikan cahaya yang berada disekitarnya dengan meyipitkan matanya. Ara kemudian bisa membuka matanya dengan sempurna, dan wajah yang pertama ia lihat adalah wajah Elvan.


" Bee, kaukah itu?" Ucap Ara masih dalam keadaan yang lemah.


" Sayang, iya. Aku disini, kamu tidak apa-apa kan? Apa masih ada yang sakit?"


" Tentu saja, sayang. Bayi kita baik-baik saja, karena kamu adalah ibu yang juga kuat untuk mereka. Tunggu dulu, tadi kamu menyebutkan apa?"


" Mmm, syukurlah. Menyebutkan apa memangnya?" Kening Ara tampak berkerut atas pertanyaan Elvan.


" Ta tadi, kamu menyebutkan apa untukku. Coba di ulangi."


" Perasaan nggak bilang apa-apa deh, ngarang." Ara memutar matanya dengan malas.


" Sayang, ayolah." Dengan sedikit memelas, Elvan begitu inginnya Ara mengulangi kembali ucapan untuk dirinya.


Memejamkan matanya sejenak, Ara tamoak sedang berpikir atas apa yang ia ucapkan kepada Elvan. Sehingga dirinya menjadi penasaran untuk disebutkan kembali.


Memangnya, aku tadi menyebutkan apa. Kan aku tadi hanya bertanya ' bagaimana keadaan bayinya, Bee?' Eh tunggu, aha. Itu dia. Ara.


Tidak ingin membuat Ara tertekan dengan keinginannya untuk mengulangi kembali panggilan yang ditujukan untuk dirinya, Elvan memilih untuk menundukkan kepalanya di samping tangan Ara.

__ADS_1


Menahan tawa yang ingin pecah, saat melihat tingkah konyol dari suaminya. Ara hanya mengelus rambut kepala Elvan, demgan wajah yang masih terbenam pada kasur pasien.


" Katanya leader dunia bawah, kok melow Bee." Tawa itu semakin tertahankan, namun sudah melebihi kapasitasnya.


" Nah itu, itu! Coba ulangi lagi, Yang." Dengan begitu semangat Elvan menatap wajah Ara untuk menunggu jawaban yang ia inginkan.


" Mmmppp, hahaha. " Akhirnya, tawa itu meledak tak tertahankan lagi.


Melihat Ara yang tertawa begitu lepas, ada rasa bahagia dalam dirinya. Elvan memeluk tubuh Ara yang masih setengah berbaring pada ranjang pasien.


" Bee, ada apa?" Ara yang kaget dengan perlakuan Elvan secara tiba-tiba.


Melepas pelukan tersebut, Elvan menempelkan keningnya untuk bersatu dengan kening Ara. Tatapan mata mereka berdua pun saling bertemu, membuat jantung mereka berdua berdetak sangat cepat.


" Puas sekali nampaknya mengerjai suamimu ini. Dasar istri nakal, tertawa pun sangat lepas sekali. Terima kasih sayang, kamu semakin menggemaskan." Elvan menarik ujung hidung Ara dengan jarinya, membuat Ara meringis dan meninggalkan warna merah mudah pada hidungnya.


" Akh, sakit Bee." Ara memprotes apa yang dilakukan oleh Elvan padanya.


" Bee?? Cukup bagus, mulai detik ini. Jangan lagi menggunakan nama lain lagi, jika itu terjadi..." Elvan mengantung kalimatnya dengan sengaja.


" Memangnya kenapa?" Membuat Ara penasaran.


" Kau akan mendapatkan hadiah khusus dari suamimu ini, sayang."


" Mmppp mmppp."


Secara tiba-tiba, Elvan menyerang bibir Ara dan menyatukan bersama dengan miliknya. Awalnya, Ara kaget dan menolak perlakuan Elvan tersebut. Seiring dengan irama yang Elvan berikan, membawa Ara terhanyut dalam hadiah yang Elvan berikan.


" Yiak!!"


Pintu terbuka dan terdengar suara teriakan dokter wanita dengan sangat keras, membuat kedua insan yang sedang terbuai dalam perasaan cinta itu menghentikan aktivitasnya.


" Ah, kalian selalu membuat mataku ternodai. Aku benar-benar akan menggunakan bantuan kacamata kalau seperti ini, kunci pintunya jika ingin bermesraan. Huh!" Rara, dialah dokter yang dimaksud. Bersedekap dengan wajah cemberutnnya, menatap horor kepada kedua manusia didepannya.


" Sepertinya, perawatanmu harus dipindahkan segera ke mansion saja sayang. Disini banyak sekali gangguan." Elvan berbisik di telinga Ara, membuat Ara tersenyum malu atas ucapan Elvan.

__ADS_1


__ADS_2