Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
34.


__ADS_3

" Di di a." Suara Ara terbata-bata melihat apa yang ada dihadapannya kini.


" Hem, masuklah. Dia membutuhkanmu saat ini, aku akan menunggumu diluar. Semangat kakak ipar, bye!" Rara meninggalkan Ara yang bingung dengan keadaannya saat ini.


" Tu tunggu!" Belum sempat ia keluar, pintu iti telah tertutup dam terkunci dari luar.


" Semangat kakak ipar!" Teriak Rara dari luar.


Berusaha untuk membuka pintu yang tertutup, Ara memukulnya dengan cukup keras. Akan tetapi, hasilnya nihil. Penuh keraguan untuk dirinya membalikkan tubuh itu untuk melihatnya kembali, perlu beberapa saat untuk berdamai dengan keadaan.


Pria yang sudah melukai hidupnya, salama beberapa waktu telah menghilang darinya. Dan ternyata, kini pria itu berada disuatu tempat yang tidak pernah ia duga. Sempat terpikir dalam kepalanya untuk menjauh darinya, namun jauh dari lubuk hati kecilnya. Ia juga merindukan kehadiran pria tersebut, mungkin itu hanya alasan dari kehamilannya saja yang kini ia alami.


Sedang apa dia berada disini? Tempat ini sangat menyeramkan, lagian untuk apa dia menjauhiku. Jika memang benar dia menyukaiku dan menganggap diriku adalah istrinya, kenapa harus bersembunyi dan menghilang? Akh, kenapa malah aku berpikiran seperti ini, aku kan masih sangat membencinya. Ara.


Menyandarkan punggungnya pada dinding ruangan tersebut, ia membalikkan tubuhnya. Menatap pria yang sedang berbaring di atas tempat tidur, yang tak jauh darinya. Melihat pria itu tidak bergerak sedikitpun, membuat Ara semakin penasaran. Ia pun berjalan dengan perlahan mendekati pria itu, semakin mendekat semakin berdetak kencang jantungnya.


Tidur toh, kirain mati. Tapi, kalau tidur pasti ada ...


" Panas! Hei, bangun! " Ara meletakkan telapak tangannya di atas kening Elvan.


Tidak ada pergerakkan dari Elvan atas perlakuan Ara padanya, seakan bingung dengan keadaan. Ara melirik kesegala sudut ruangan, berharap bisa menemukan apa yang ia butuhkan saat ini. Tidak ada yang bisa ia handalkan, isi ruangan itu tidak ada apa-apanya. Bahkan Ara menemukan tumpukkan senjata dan juga lemari pakaian saja, dengan terpaksa Ara harus mengambil sebuah handuk yang berukuran sedang. Mengambil air hangat dari kamar mandi yang terhubung dengan pemanas air, segera ia meletakkan handuk basah yang hangat itu di atas kening Elvan.


Dalam waktu yang cukup lamanya, Elvan masih nyaman dalam lelapnya. Tiba-tiba saja, Ara mendapati beberapa luka pada tubuh Elvan. Ara semakin penasaran dan mencari luka lainnya, betapa kagetnya Ara dengam luka tersebut. Tak terasa, air matanya menetes dari sudut matanya, hatinya terasa sedikit sakit melihanya


" Argh! Keram lagi, jangan sakit ya sayang." Ara mengelus perutnya yang masih terlihat datar.


Disaat Ara masih fokus mengelus perutnya, handuk yang semula ia letakkan dikening Elvan. Terjatuh kedalam pangkuannya, dengan bingung Ara melihat pria itu terbangun dari tidurnya dan sedang duduk bertumpuhl pada lengannya. Sorot mata tajamnya itu membuat Ara merinding, tanpa berkata apapun. Elvan menarik tangan Ara dan membawa ke arah pintu.


" Tunggu! Lepaskan tanganku!" Teriak Ara.

__ADS_1


Tanpa menggubris ucapannya, Elvan tetap membawanya mendekati pintu. Luka yang sempat tertutupi oleh sebuah kain selimut tipis disaat ia terlelap, kini terlihat sangat jelas dan mengenaskan. Sontak saja, Ara menutup mulutnya dengam telapak tangan. Elvan menarik gagang pintu, namun tidak berhasil. Karena sebelumnya pintu itu telah Rara kunci, lalu Elvan menghempaskan tangan Ara dan mencari kunci cadangan miliknya. Untuk beberapa saat, namun ia tidak menemukannya. Elvan menuju nakas tempat tidurnya, mengambil ponsel dengan maksud untuk menghubungi orangnya. Hasilnya tetap nihil, karena Rara sudah mengultimatum mereka semuanya. Ponsel itu ia hempaskan dan hancur, Ara melihatnya menjadi sangat terluka. Ia mengerti akan semuanya yang Elvan lakukan, bahwa dirinya tidak ingin melihat pria itu lagi dalam hidupnya.


" Jangan pergi lagi." Tangan mungil itu melingkar di atas perut dari arah belakang tubuh Elvan.


Mendapati hal itu, membuat tubuh Elvan menjadi kaku dan terdiam. Ada perasaan kaget dan juga bahagia yang ia rasakan, yang pada akhirnya ia tersadar.


" Lepas dan keluarlah. Hubungi mereka untuk membuka pintunya." Elvan berbicara namun tidak berniat untuk melepaskan tangan itu dari atas perutnya.


" Tidak! Berjanjilah untuk tidak menghilang lagi, aku merindukanmu." Pelukan itu semakin erat melingkar pada tubuh Elvan.


Memang dalam beberapa waktu menghilang dari kehidupan Ara, membuat Elvan juga menahan rindunya untuk bertemu. Namun ia sadari, jika kemunculannya hanya akan menambah luka pada wanitanya.


" Apa kau tidak merindukan kami?"


Ucap Ara dengan begitu lirih, mengharap pria yang ia peluk menggeluarkan suaranya. Sampai akhirnya ia harus menghembuskan nafas beratnya, sepertinya harapan itu tidak akan terwujud.


" Arkh!" Rintih Ara yang merasakan perutnya nyeri kembali, ia melepaskan tangannya dan berlutut memeluk perutnya.


" Kamu tidak apa-apa? Apa masih terasa sakit? Katakan!"


Kepanikkan Elvan membuat Ara tersenyum, bagaimana pun kerasnya pria itu. Dia tidak akan membiarkan orang yang ia cintai terluka, itulah yang Ara tangkap dari sikap Elvan. Ara menarik tangan Elvan dan meletakkannya di atas perutnya, memberikan rasa kenyamanan yang luar biasa pada Ara.


" Dia sangat membutuhkanmu."


Terasa jika tubuh Elvan bergetar, mendapati dirinya diperlakukan seperti itu oleh wanita yang sudah ia lukai. Ia menarik tangannya dari atas perut Ara, hingga sudut mata Elvan mengeluar air mata, yang tidak pernah ia alami sebelumnya dengan rasa haru menyelimuti dirinya.


" Ma maafkn aku, maafkan aku." Suara berat di iringi isakan tanggis, membuat dirinya terlihat begitu rapuh.


" Bagaimana pun juga, kau adalah Ayah dari anak yang sedangku kandung. Berstatus suami atas hidupku, walaupun aku belum sepenuhnya memaaf atas semuanya. Kau berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki itu semua, aku tidak ingin anak ini tumbuh tanpa sosok Ayah disampingnya. Jangan pergi lagi." Ara memeluk tubuh Elvan yang masih terisak dalam kesedihannya.

__ADS_1


Atas ucapan yang Ara berikan padanya, membuat hati Elvan menjadi sejuk dan damai. Membalas pelukan yang ia dapati dari Ara, membuat keduanya melepaskan semua permasalahan yang ada untuk kebaikan mereka.


" Bisa lepaskan tanganmu? " Tiba-tiba Ara berkata demikian, Elvan segera melepasnya setelah mendapati perkataan itu.


" Ah iya, maafkan aku."


" Tidak apa-apa, hanya saja kau memeluknya terlalu kencang. Aku menjadi sulit untuk bernafas, lebih baik lukamu segera diobati dahulu. " Ara berjalan bermaksud untuk mencari obat-obatan yang ia butuhkan untuk mengobati luka Elvan.


Baru saja akan melangkah, tubuhnya kembali masuh ke dalam perlukan hangat Elvan.


" Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." Ucap Elvan dengan penuh semangat.


Mendapati sikap Elvan yang mulai sangat lembut padanya, Ara melebarkan senyumnya.


" Ajarkan dan bimbing aku untuk membalas cintamu." Ara pun membalas pelukannya.


" Terima kasih, terima kasih telah memberikanku kesempatan."


Larut dalam situasi yang ada, tanpa mereka sadari. Rara dan Liam yang secara diam-diam membuka pintu kamar tersebut, setelah cukup lama mereka merasakan kekhawatiran akan terjadinya sesuatu didalam sana. Tidak terdengar suara jeritan, tanggisan dan juga barang-barang hancur lainnya, membuat mereka berdua memutuskan untuk membukan pintunnya segera.


Brak! Pintu terbuka.


" Yiak!"


" Ups!"


Melihat orang yang mereka khawatirkan dengan berpelukan, membuat keduanya sontak berteriak dan menyesal.


⚘⚘⚘

__ADS_1


Jangan lupa akan jejaknya ya, terima kasih sudah mampir pada novel outhor😊.


__ADS_2