Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
35.


__ADS_3

Dari hari ke hari, hubungan Ara dan juga Elvan semakin membaik. Walaupun diantara mereka berdua, Ara masih menjaga jarak dengan pria yang berstatus sebagai suaminya.


" Selamat pagi, Nany." Sapa Ara kepada orang yang ia hormati.


" Pagi nak, ayo sarapan dulu. Biar kalian kuat dan sehat, dimana anak nakal itu? Masih belum bangun rupanya." Tidak mendapati Elvan bersama Ara, membuat Nany bertanya.


" Biar saya saja yang membangunkannya, Nany disini saja. " Ara merasa tidak enak hati jika membiarkannya, dan sebenarnya itu adalah tugasnya sebagai istri untuk membangunkan suaminya.


" Ah, kau disini saja. Biar Mila yang memanggilnya, Mila." Teriak Nany memanggil.


Orang yang namanya disebut, segera mendekati sumber suara dengan begitu tergesa-gesa.


" Ya, saya nyonya." Nafas yang masih tidak beraturan itu, harus segera ia atasi.


" Kau naik ke atas, bangun Elvan di ruang kerjanya."


" Apa nyonya! Sa sa ya mem bangunkan tuan?! Ja jangan saya nyonya, yang lain saja." Mila menjadi ketakutan setelah mendengar perintah dari Nany kepadanya.


" Memangnya kenapa?" Nany menaikan salah satu alisnya.


" Tidak nyonya, saya tidak pantas melakukannya. " Dengan menunduk, Mila berharap ada sebuah keajaiban.


Dengan melihat ketakutan pada diri teman seperjuangannya itu, Ara merangkul lengan milik Mila. Senyuman manis ia berikan, agar memberikan ketenangan dari rasa takutnya.


" Ara, terima kasih. " Mila membalas rangkulan itu dengan memengang tangan Ara.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, pahlawan datang dengan menawarkan diri untuk membantu. Dengan muka yang begitu cerah dan juga berseri, semangatnya itu begitu full.


" Saya saja yang membangunkan tuan, nyonya." Friska mendengar jika Mila menolak untuk tugasnya dan dirinya merasa mempunyai peluang dalam mencari simpati tuannya.


Hal itu membuat Ara dan Mila saling bertatapan, gambaran mata mereka seolah-olah sedang berbicara. Nany pun tak kalah heran dengan sikap Friska, berulang kali dia menawarkan diri untuk membangunkan tuannya.


" Sedang apa kalian disitu?" Suara berat yang begitu khas, membuat mereka terkejutkan.


Mila mendapati hal itu, ia langsung pamit undur diri dari sana. Lari dengan secepatnya, agar tidak bertatapan dengan tuannya. Sedangkan Friska, ia masih berdiri memandangi pria yang ia inginkan.


" Kau ini, biasakan untuk segera turun kebawah untuk sarapan." Melayangkan tongkat yang selalu ia gunakan untuk memukul lengan Elvan, dengan sangat cepat agar Elvan tidak bisa menghindar.


Puk!


" Nany." Suara Elvan sedikit meninggi.


" Aish, disini siapa yang tuannya sih. Kenapa aku selalu kena pukul." Celoteh Elvan atas perlakuan Nany padanya.


" Duduk dan sarapanlah, dan kau Friska. Kembalilah bekerja."


Perasaan kecewa atas kesempatan yang terlewatkan untuk mencari perhatian tuannya, Friska menyenggol bahu Ara dengan sangat kuat. Hingga yang menyebabkan tubuh mungil itu terhuyung, hampir jatuh menyentuh lantai. Jika tidak ada tangan yang menahan tubuhnya, Ara pun meringgis.


" Kamu tidak apa-apa?" Elvan tampak begitu khawatir.


" Eee, aku tidak apa-apa. Bisa lepaskan tangannya tuan? Tidak enak, nanti bisa dilihat oleh yang lainnya." Ara melirik-lirik orang disekitarnya, ia takut akan penilaian terhadap dirinya.

__ADS_1


" Memangnya kenapa? Kau berhak atas semuanya, apa ada yang mengganggumu tanpa aku ketahui?!" Perkataan Elvan sangat menekan pada penjelasan yang harus Ara berika padanya.


" Tidak ada tuan, semuanya sangat baik kepadaku. "


" Benarkah?" Sorot tatapan tajam Elvan berikan kepada Ara.


" Benar."


Gerakan tangan Elvan mengambil ponsel dari saku jas yang ia gunakan, menghubungi seseorang dan memintanya untuk segera menemuinya. Ara merasakan seperti akan ada sesuatu yang tidak baik terjadi, ia merapatkan dirinya untuk berdekatan pada Nany. Memeluk lengan wanita paruh baya itu dengan erat, menyembunyikan wajahnya pada bahu wanita itu.


Suara derap langkah kaki terdengar sangat jelas menghampiri mereka, seorang pria yang bernama Jefri datang dan menyerahkan apa yang diminta oleh tuannya. Dengan beberapa penjelasan yang cukup singkat darinya, Elvan mulai melihat layar tablet yang sedang memutar rekaman suatu kejadian. Setelah selesai dengan tablet ditangannya, Elvan melemparkannya begitu saja kepada Jefri.


" Kumpulkan semua pekerja sekarang juga, cepat!" suara retakkan rahang yang terdengar sangat mengerikan dari wajah milik Elvan.


Nany dan Ara menyaksikan wajah Elvan yang sangat menahan amarah, namun Ara belum terbiasa dengan keadaan seperti itu. Dalam waktu lima menit, semua pekerja yang berada di mansion sudah berkumpul dihadapan Elvan. Semuanya dalam keadaan kepala tertunduk ke bawah, tidak ada yang berani menatap wajah tuannya. Terkecuali Friska, ia dengan sangat percaya dirinya menatap wajah tampan majikannya. Ara yang sebelumnya berlindung pada Nany, ia juga perlahan menggeser dirinya untuk ikut bergabung dalam barisan teman-temannya yang lain. Ia merasa masih sama seperti mereka.


" Berhenti, kembali ke posisi awalmu!" Bentak Elvan ketika melihat Ara berjalan untuk bergabung dengan yang lainnya.


" Hah, ti tidak tuan. " Ara semakin merasa tidak enak.


" Aku bilang kembali! Jangan membuatku marah, Ara!"


Tersontak kaget dengan teriakan itu, dengan wajah tertunduk. Ara memilih kembali untuk berdiri didekat Nany.


" Heh, lihatlah. Anak nakal itu akan memberikanmu kejutan nak, bersiaplah."

__ADS_1


" Apa?" Dengan nada bingung, Ara menanggapi perkataan Nany kepadanya.


__ADS_2