
Seperti biasa, setelah kepergian bosnya. Ara segera bersiap untuk berangkat juga untuk kuliah, hal itu telah mendapatkan persetujuan dari kepala pelayan dirumah tersebut. Akan tetapi, salah satu pelayan dirumah tersebut selalu mencari masalah kepadanya.
" Mau kemana lagi lo hah? Yang lain pada kerja, lu enak-enak pergi. Tahu diri dong, pelayam itu kerjanya gimana." Friska mengeluarkan jurus ghibahnya.
Tanpa menanggapi, Ara tetap berjalan menuju pintu keluar. Beberapa langkah lagi untuk sampai ke pintu gerbang utama, tiba-tiba tas ransel yang Ara gunakan tertarik ke belakang. Hal itu membuat Ara yang tidak siap, menjadi terjatuh dan terseret.
" Aaaa..." Jerit Ara saat terjatuh.
" Rasain lu, siapa suruh berani melawan Friska!" Dengan bangganya, Friska menunjukkan jika dirinya selalu menang.
Karena tidak ingin mencari masalah dan diburu waktu, Ara melewatkan saja perlakukan yang diberikan oleh Friska kepadanya.
" Dasar perempuan nggak tahu diri, lihat saja nanti." Melihat Ara yang mengacuhkan dirinya, Friska semakin ingin menyingkirkannya.
Dengan sedikit tertatih, Ara berjalan mendekati ojek online yang sudah ia pesan seperti biasanya. Ia sengaja berangkat lebih awal, karena ingin menyelesaikan tugas perkuliahan yang belum kelar. Sesampainya ditempat yang ia tuju, Ara langsung mengerjakan tugasnya dan ketika telah selesai. Mengirimkannya kepada ketua kelas, yang selanjutnya mereka yang akan menyerahkannya kepada dosen mata pelajaran.
" Hoam! Akhirnya selesai juga."
Melihat jam tangannya masih menunjukkan pukul sembilan, jam perkuliahan akan dimulai pukul sebelas nanti. Kaki itu melangkah dan membawanya menuju suatu tempat, yaitu tempat jajanan makan kecil. Walaupun tempatnya kecil dan sedikit lebih jauh dari warung lainnya, rasa yang diberikan oleh makanannya sungguh menggugah selera. Sayangnya, yang mengetahui masih sedikit.
" Bang, pesan seperti biasa ya." Ucap Ara yang baru saja tiba dan mencari tempat duduk.
Sambil menunggu pesanannya tiba, Ara mengeluarkan ponselnya. Melihat berita yang ada dari sosial media, hanya akan menambah pusing. Berita hoax dan kebenaran, kedua sisi itu suka berbanding terbalik.
" Ini pesananya neng." Abang penjual meletakkan pesanan Ara di atas meja.
" Terima kasih bang."
Satu piring batagor dan siomay dalam porsi sedang, kini telah tersedia dihadapannya. Dengan lahapnya, Ara begitu cepat menghabiskan makanan tersebut. Perutnya sekarang sudah terasa kenyang, membayar makanan dan berjalan kembali menuju tempatnya untuk menimba ilmu. Jalan yang ia lalui begitu sepi dengan orang yang melalui, hal itu sudah menjadi hal biasa bagi Ara.
" Apa itu?" Melihat sesuatu yang bergerak dari semak belukar, membuat Ara merasa penasaran.
__ADS_1
Berjalan mendekati semak-semak yang rimbun dengam rerumputan, bahkan tingginya melebihi tinggi manusia pada umumnya. Semakin mendekat, Ara mendengar suara manusia yang sedang kesakitan. Ada rasa takut pada dirinya, namun rasa penasaran itu melebihi dari semuanya. Ketika mata itu menangkap apa yang menjadi sumber penasarannya, Ara langsung membekap mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Flashback on
Saat sedang memeriksa berkas yang diberikan Hugo, tiba-tiba ponsel Elvan berdering. Terlihat kontak yang menelfon dirinya, lalu ia menggeser lambang hijau yang tertera.
" Ada apa?" Tanya Elvan dengan suara beratnya.
" Maaf tuan, ada yang sedang ingin bermain-main dengan kita." Liam, ia menghubungi bos mereka disaat ada gerakan dari kelompok kecil yang mencari masalah dengan mereka.
Salah satu tangan Elvan yang sedang memengang sebuah pulpen, benda itu seketika patah menjadi dua bagian setelah mendengar penjelasan dari Liam.
" Singkirkan!" Rahangnya mengeras, menampakkan jika dirinya merasa terganggu.
" Baik tuan." Liam menyudahi pembicaraan mereka.
Ponsel yang saat itu gunakan, masih berada dalam genggaman tangan Elvan. Setelah panggilan tersebut terhenti, ponsel tersebut telah berubah menjadi barang rongsokan yang tidak berguna.
Prangk!
" Aku akan keluar sebentar, persiapkan alat-alatku!" Elvan menghubungi Hugo melalui intercom di ruangannya.
Tidak menunggu lama, Hugo telah menyediakan apa yang bosnya inginkan. Mengendarai sendiri kendaraannya, membuat Hugo menghembuskan nafas dengan sangat kasar.
" Hufh! Korban lagi, selalu saja ada yang memancing jiwa gilanya keluar." Hugo kembali mengerjakan tugasnya.
Flashback off
Ketika melihat suatu kejadian yang sangat diluar nalar manusia, rasanya saat itu juga Ara ingin berteriak dengan sangat kencang. Tanpa ada rasa takut ataupun belas kasih, mencungkil kedua bola mata dan membelah perut dari korbannya. Membuat Ara ingin muntah, akibat dari bau amis darah yang begitu banyak. Saat orang yang melakukan kekejaman tersebut membalikkan tubuhnya, semakin membuat tubuh Ara menjadi kaku.
Tuan Elvan! Ini tidak mungkin. Ara.
__ADS_1
Merasakan kehadiran seseorang disana, Elvan membalikan tubuhnya.
" Ternyata, ada tikus kecilku. Kemarilah, kau sudah melihatnya bukan?" Elvan begitu santai, menawarkan Ara untuk mendekati dirinya yang sudah basah dengan cairan berwarna merah.
Tubuh Ara bergetar hebat, rasa takut itu semakin besar. Bahkan matanya ia tutup, agar tidak melihat hal yang cukup mengerikan bagi dirinya.
" Aaaahk, mmmppphh!" Semoat berteriak disaat tubuhnya ditarik oleh Elvan, yang kemudian membekapnya.
Sangat mudah bagi Elvan untuk membawah tubuh Ara yang mungil, masuk ke dalam mobilnya. Lalu ia menghubungi seseorang untuk membereskan karya yang telah ia buat, siapa lagi kalau bukan Liam.
" Bereskan!"
Menghidupkan mesin mobil yang kemudian ia kemudiakan dengan kecepatan yang cukup kencang, membuat Ara yang sebelumnya sudah sangat ketakutan dan hal itu semakin menjadi.
Liam yang saat itu sedang membereskan penganggu dari kelompok kecil, memberikan perintah bagi bawahannya yang lain untuk segera membereskan hasil maha karya dari bosnya.
" Kalian bereskan hasilnya, di jalan ****. Segera!" Berbicara melalui ponselnya, Liam harus bertindak cepat sebelum pihak yang berwajib mengetahuinya.
Laju mobil yang cukup kencang itu, kini telah tiba di sebuah villa yang terletak cukup jauh dari keramaian. Elvan membuja pintu kemudinya dan berjalan menuju pintu disampingnya.
" Keluarlah, tidak perlu takut."
Dalamm keadaan seperti itu, Ara masih tidak bergeming dari tempatnya. Bahkan, mendengar suaranya saja, sudah membuat Ara ingin menghilang.
" Sepertinya, tikus kecilku ini ingin dimanjakan." Ucap Elvan yang tersenyum seringai kepada Ara.
Sungguh tidak terduga, Ara kembali dibawa oleh Elvan memasuki area villa. Dimana ada beberapa pelayan disana yang sudah menyambut kehadirannya.
" Selamat datang tuan, nona." Ujar pria yang sepertinya menjadi pimpinan bagi pekerja yang lain.
" Hem, siapkan makanan untuk kami." Sambil berjalan menuju kamarnya, dimana Ara masih menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik Elvan.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar, tubuh Ara di lempar begitu saja di atas ranjang besar milik Elvan. Hal itu membuat Ara sangat terkejut, melihat seketarnya adalah tempat yang sangat asing bagi dirinya.
" Dimana ini?" Mata Ara menyelusuri setiap sudut ruangan disana.