Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
68.


__ADS_3

" Kalian temukan wanita itu dalam keadaan hidup atau mati sekalipun aku tidak peduli, cepat!" Xavier yang sudah tersulut amarah, memberikan perintah untuk mendapatkan keberadaan Ara dalam bangunan tersebut.


Dengan cepat, semua anggota kelompok yang berada dalam pimpinannya berpencar menelusuri bangunan milik musuhnya. Sedangkan Arion berusaha untuk melindungi Ara, karena ia tahu jika Ara adalah target yang mereka inginkan.


Banyak sekali anggota dari kelompok Arion yang telah tumbang, dapat dipastikan jika Arion akan kalah. Karena jumlah dari kelompok yang baru ia bangun kembali, belum terlalu cukup untuk melakukan pertarungan antar kelompok. Apalagi kelompok yang di pimpin oleh Xavier cukup menguras tenaga.


" Argh!" Arion mengerang saat sebuah balok kayu menghantam bahunya dari arah belakang.


Mengelus bahunya yang terasa sakit, Ario berbalik untuk melihat siapa yang sudah menyerangnya. Dengan menggerakkan bahunya, menatap tajam orang tersebut.


" Ba***gan!"


Bugh!


Bugh!


Memghantamkan kepalan tangannya kepada orang yang menyerangnya, Arion pun terlibat baku hantam. Sangat mudah sekali baginya untuk mengalahkan orang tersebut, namun keberuntungan belum berpihak padanya. Menarik nafas setelah mengalahkan orang itu, saat akan berjalan kembali dan ternyata bermunculan lagi orang-orang dengan jumlah yang cukup lumayan banyak untuk menyerangnya.


" Oh tidak! " Arion memijit pelipisnya dengan cukup kuat, lalu ia memejamkan kedua bola matanya.


" Mau lari? Heh, jangan harap kau bisa lolos dari kami!" Salah satu dari mereka menghadang jalan Arion.


" Lari? Tidak ada dalam kamusku untuk lari dari ba***an kecil seperti kalian." Tatapan mata Arion cukup tajam.


" Ternyata kau cukup sombong juga, bersiaplah untuk menyerahkan nyawamu." Pergerakan kelompok tersebut cukup cepat, bahkan Arion dibuat pusing harus bertindak bagaimana.


Kalau aku lawan, yang ada malah mati konyol. Tidak dilawan, sama saja. Arion.


" Tunggu!! Jangan main serbu begitu saja, kalau berani satu lawan satu. Dasar egois, kalian banyak dan aku hanya sendirian, tidak adil." Arion memberi pembelaan atas dirinya.


" Baiklah, ayo lawan!" Orang tersebut dengan penuh percaya diri memasang pertahanannya untuk bertarung bersama Arion.


" Fuh! Ayo! Siapa takut." Arion pun bergaya dengan sangat menyakinkan.


Seperti hendak menyaksikan pertandingan tinju, rekan-rekan dari orang tersebut bersantai ria untuk menyaksikan teman mereka melawan Arion. Begitu pun dengan Arion, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Mereka berdua bersiap untuk saling menyerang, disaat orang tersebut lengah. Sesuatu yang begitu tak disangka telah terjadi.


" B***h! Bye..."

__ADS_1


Langkah seribu pun Arion lakukan setelah menyakinkan lawannya dengan cukup baik, melihat lawannya kabur begitu saja. Membuat semua mata lawannya terperangah dan terdiam satu sama lain, bagaimana bisa mereka terperdaya oleh ucapan manis dari lawannya sendiri.


" Hei! Kenapa masih diam, kejar!!"


Mendengar teriakan tersebut, mereka semua baru tersadar dari ke kagetannya dan mengejar tawanan yang sudah kabur terlebih dahulu.


......................


Dilain tempat, ruangan dimana Ara berada. Dalam keadaan ketakutan, Ara terus berdoa agar bisa selamat dari kejadian ini.


" Semoga saja mereka tidak menemukanku disini." Ara duduk di sudut ruangan dengan menekuk kakinya.


Terdengar suara kegaduhan dari luar ruangan tersebut, dan itu membuat Ara semakin khawatir akan keberadaannya.


" Kalian, cepat dobrak pintu ini."


Suara itu tepat berada di depan ruangan dimana Ara berada, suara kegaduhan itu semakin keras dan Ara pun bertambah ketakutan.


Brak!


Brak!


Perlahan namun pasti, dengan berbagai cara yang mereka lakukan. Pada akhirnya membuahkan hasil, pintu tersebut terbuka!


" Cepat kalian periksa ruangan ini, jangan sampai ada yang terlewatkan." Teriak seseorang yang seperti pimpinan disana.


Semua orang yang mendapatkan perintah tersebut, segera memasuki ruangan.


" Target kita dapatkan!"


" Akh! Tidak! Lepaskan!" Teriak Ara yang sudah ditarik salah satu dari orang tersebut.


Ara terus memberontak dari genggaman orang yang berhasil menemukan keberadaannya.


Plak!


Karena Ara terus memberontak, maka orang itu mendaratkan telapak tangannya dengan mulus pada pipi Ara. Karena begitu kuatnya, hingga ujung bibir Ara mengeluarkan cairan berwarna merah.

__ADS_1


" Diam dan menurutlah, jika tidak ingin kami melakukan sesuatu hal yang buruk padamu!"


" Tolong, tolong lepaskan aku. Aku mohon." Ara terus memohon agar dirinya tidak dibawa dan memberontak.


Krak!


" Argh!"


Senjata yang dibawa oleh orang tersebut, mendarat tepat pada kening Ara. Dan mengalirlah cairan merah dari tempat pukulan itu, Ara pun hanya bisa meringgis menahan rasa sakit.


" Jika kau melawan lagi, akan aku pastikan nyawamu lenyap begitu saja. Bawa dia!"


Dalam keadaan tidak berdaya, Ara mengikuti langkah mereka dan membawanya.


Brukh!


Tubuh Ara terlempar dan tubuhnya mendarat membentur sebuah meja, ingin rasanya ia berteriak kereras mungkin. Namun kini mulutnya sudah tertutup oleh sebuah plester hitam yang cukup kuat, hanya matanya yang menatap orang yang berada dihadapannya.


" Arabella! Ternyata wanitanya sangat cantik, Elvan sungguh pintar dalam memilih." Xavier berjalan semakin mendekatkan dirinya pada Ara yang masih berada di lantai.


Mencengkram rahang milik Ara dengan cukup kuat, Xavier menatap wajah Ara dengan begitu tajam.


" Kau tahu akan kesalahan suamimu itu padaku?" Xavier berbicara begitu lembut kepada Ara, namun cengkraman pada rahangnya masih sangat kuat.


Air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya, berhadapan langsung dengan musuh dari suaminya.


" Kau tahu, aku tidak akan membiarkan Elvan hidup dalam ketenangan begitu saja. Sampai kapan pun aku tetap terus membayangi dirinya, bahkan aku sangat ingin melenyapkannya dari dunia ini."


" Mendengarnya telah menikah dan mempunyai keluarga yang bahagia, hal itu membuatku sangat marah!"


Rasa sakit pada rahangnya, membuat Ara hanya bisa memejamkan matanya. Dengan keadaan kedua tangan dan kakinya yang terikat, Ara tidak bisa memberontak.


" Kau tahu alasanku membawamu? Heh, kau adalah umpan terbaik untuk membuat seorang Elvan tunduk padaku. Hahaha." Tawa Xavier bergema, membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi merinding.


Bee, kamu dimana? Tolong aku Bee, ku mohon. Ara.


Xavier menghempaskan tangannya dan melepaskan rahang Ara begitu saja dengan sangat kuat, lalu ia memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan semua keinginannya. Bahkan kini, Ara sudah ditempatkan pada sebuah kursi khusus yang ia persiapkan.

__ADS_1


" Kita hanya tinggal menunggu waktunya saja, seorang Elvan tidak akan membiarkan wanitanya terluka sedikit pun. Dia pasti akan segera datang, kalian bergegaslah mempersiapkan sambutan akan kedatangannya. Seorang leader yang cukup ditakuti dan kejam, tunduk pada seorang wanita. Ini adalah pertunjukkan yang sangat menarik dan juga sangat langkah untuk disaksikan, hahaha."


__ADS_2