
Saat sedang asik menikmati hidangan dari restoran tersebut, Ara merasa seakan-akan dirinya sedang diperhatikan oleh seseorang disana.
Apa yang sedang aku pikirkan, atau ini hanya perasaanku saja. Ara.
Ia berusaha menutupi perasaannya itu, namun ekor mata Ara melirik salah satu pengunjung yang juga berada disana. Kedua mata mereka beradu satu sama lain, terasa begitu aneh didalam diri Ara saat menatap wanita paruh baya tersebut. Dengan cepat, Ara memalingkan wajahnya tanpa ada yang menyadarinya.
" Mai, aku ke toilet dulu ya."
" Em, iya iya. Jangan lama-lama." Maia melanjutkan menguyah makanannya.
Ara pun beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju toilet di arah belakang. Awalnya Jefri ingin mengikuti nonanya, namun hal itu dicegah oleh Ara. Melihat Ara yang beranjak, wanita paruh baya itu mengikutinya. Saat berada didalam, wanita itu menunggu Ara.
" Permisi nak, boleh aku bertanya?" ketika melihat Ara sudah keluar dari salah satu kamar kecil yang berada disana, wanita itu segera menghampirinya.
" Hem, iya nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?" Ara menawarkan bantuannya, ia hanya berpikir jika wanita itu membutuhkan sebuah bantuan.
" A apa kau mempunyai tanda lahir di telapak kaki kirimu nak? Seperti tanda kemerahan dan juga tahi lalat didekatnya?" Tanya wanita tersebut dengan wajah yang memelas.
Deg!
__ADS_1
Tiba-tiba saja Ara terdiam dengan apa yang ia dapati saat itu, bagaimana bisa ada seorang wanita paruh baya berkata dihadapannya. Mengatakan apakah ia mempunyai tanda khusus pada tubuhnya yang ia miliki sejak lahir, secara tidak langsung wanita itu mengatakan jika Ara adalah bagian dari dirinya.
" Maksud nyonya?"
" Puteriku telah tidak bersamaku sejak ia masih bayi, dan dia mempunyai tanda lahir seperti yang telah aku sebutkan tadi nak. Tapi, saat aku melihatmu. Hatiku mengatakan jika kau memilikinya, apakah itu benar nak?" Wanita itu terus menanyakan hal tersebut kepada Ara.
Tersadar dari kelalaiannya menikmati hidangan yang ada, mata Jefri melirik ke arah tempat duduk Ara. Mendapati nonanya tidak berada ditempatnya, Jefri segera bergerak ke seluruh sudut tempat tersebut dan mengarahkan seluruh anggotanya. Hanya satu ruangan yang belum ia periksa, yaitu toilet wanita. Namun karena dalam posisi yang begitu terdesak, Jefri terpaksa harus membuka pintu tempat tersebut dengan menggunakan kekuatannya.
Brak!
" Nona!" Teriak Jefri pada saat pintu toilet terbuka.
" Nona, anda tidak apa-apa?!" Jefri sudah begitu tampak khawatir.
" Em, aku tidak tidak apa-apa Jef. Maaf sudah membuat kalian mencemaskanku, ayo keluar. Tidak baik laki-laki berada di toilet wanita." Ara mengalihkan pandangannya dan menundukkan separuh tubuhnya untul menghormati wanita tersebut dan segera berlalu dari tempat tersebut dan di ikuti oleh Jefri dari belakang.
" Ara!" Teriak Maia saat melihat sahabatnya itu telah menampakkan wajahnya, segera ia menghampirinya.
" Kamu nggak apa-apa kan? Kemana aja sih, buat khawatir." Maia membolak-balikkan tubuh Ara, memastikan tubuh sahabatnya itu baik-baik saja.
__ADS_1
" Mai, aku nggak papa kok. Pusing Mai, stop!" Mendapati tubuhnya diputar-putar, membuat kepala Ara merasa pusing.
" A.. Iya-iya. Tapi, kenapa wajah kamu pucat gitu Ra? Kamu sakit?" Maia semakin cemas melihat Ara.
" A aku tidak apa-apa Mai, makannya sudah selesai kan? Kita pulang ya."
" Iya iya, ayo kita pulang!" Maia segera menuruti perkataan Ara, sungguh ia sangat mencemaskan kondisinya.
Dengan sigap, Jefri dan lainnya bergerak cepat. Namun baru saja beberapa langkah Ara menuju mobilnya, sakit di kepalanya semakin kuat. Tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi buram dan gelap seketika, perlahan Ara menghentikan langkahnya dan mencengkram lengan Maia dengan begitu kuat.
" Ara! Kamu kenapa?" Merasakan lengannya sakit, Maia langsung merangkul tubuh Ara yang sedikit oleng.
" Ma Mai." Suara Ara terdengar lirih dan sangat kecil.
Brukh!
Tubuh itu seketika ambruk dalam dekapan Maia, dan hal tersebut membuat semuanya menjadi panik.
" Ara!"
__ADS_1
" Nona!"