
Perlahan namun tetap berjalan dengan baik, Ezra kini bisa bersekolah dengan tenang. Elvan sudah mengembalikan semua milik dari James yang sudah ia janjikan pada anaknya, namun setelah kejadian tersebut. Tidak ada lagi yang berani untuk mengusik seorang Ezra, bahkan Justin dan teman-temannya kini malah ikut mengakrabkan diri mereka kepada Ezra.
" Gue sebel banget sama tu anak, nggak ada malu-malunya." Arya berdengus kesal dengan sikap Justin yang berusaha mencari perhatian dan simpatik dari Ezra.
" Sudah sudah, nggak ada manfaatnya juga buat kita Ar. Lu tahu sendiri kan Ezra itu gimana orangnya, biasa aja lah." Marlon dengan begitu santainya, ia tahu sikap sahabatnya tersebut sangat diluar nalar dirinya.
......................
Perusahaan Blade Company kini sedang berada pada puncak kejayaannya, tidak ada satupun perusahaan yang bisa menandinginya.
" Hugo, bagaimana kondisi perusahaan di negera seberang?" Tanya Elvan melelui sambung telfon dari ponselnya.
" Untuk saat ini, masih sangat aman tuan. Ada beberapa masalah kecik sebelumnya, namun semuanya itu sudah bisa kita atasi." Jelas Hugo yang kini sudah kembali ke negara seberang, karena ia mendapat tugas dari tuannya untuk menangani anak perusahaan mereka tersebut.
" Bagus, aku tidak ingin menerima laporan yang kurang enak didengar. Telingaku bisa berdenyut karena hal itu, ya sudah."
Tut tut tut...
Elvan memutuskan pembicaraan mereka berdua secara sepihak, hugo berdengus kesal dengan sikap tuannya.
" Selalu saja seperti ini, jika buka bosku. Sudah lama aku patahkan kakinya jenjangnya itu, biar tidak bisa tinggi lagi seperti sombongnya itu. Huh!"
Melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena telfon dari tuannya, mata Hugo benar-benar teliti dalam memeriksa berkas-berkas penting di atas meja kerjanya. Ia tidak sendirian disana, Azura dan Gael ikut bersamanya setelah mereka bergabung dalam perusahan besar milik Elvan.
Namun ketika ia sedang membolak-balik salah satu berkas, yang dipimpin oleh Azura. Sudut mata Hugo mengecil dan menconteng beberapa kalimat dan perhitungan dalam berkas tersebut, baru kali ini ia menemukan sedikit kejanggalan pada berkas laporan. Tidak hanya sedikit yang mendapatkan coretan dari tangan Hugo, namun ada beberapa berkas lainnya yang bernasib sama.
Apa ini! Hugo.
Benar-benar Hugo dibuatnya sakit kepala oleh berkas tersebut, karena tidak ingin berlama-lama sakit kepala sendirian. Lalu Hugo menelfon yang bersangkutan untuk segera datang keruangannya.
__ADS_1
" You kemari, cepet!" Tanpa berbasa-basi, Hugo hanya menyampaikan hal tersebut dan langsung menutup telfonnya.
Sedangkan Azura, yang baru saja mendapatkan panggilan itu merasa bingung. Ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang Hugo, namun dirinya belum menyadari permasalahan yang akan ia hadapi.
Klek!
" Masuk!" Suara Hugo sangat berat
Berjalan dengan santai seperti biasanya, Hugo belum menatap Azura yang begitu bar bar.
" Ada apa pak ketua, tiba-tiba saja menyuruhku kemari. Apa ada sesuatu yang mau diberikan padaku? Ah, kau royal sekali." Azura dengan senyumnya, belum bisa menyadari jika sesuatu sedang mengintainya.
Brak!
Beberapa berkas Hugo lempar kepada Azura, dengan gelagapan berkas itu ia tanggap.
" Hei, ada apa ini? Kenapa kau melempar berkas ini kepadaku?" Dengan menggerutu, Azura mengumpulkan kembali berkasnya yang berserakan.
Menuruti perkataan Hugo, Azura membuka dan membaca berkas laporan tersebut. Pada awalnya ia biasa-biasanya dan tidak menemukan keanehan pada laporan miliknya, akan tetapi pada saat melihat tanda coretan dari Hugo. Kedua matanya mendadak melotot dan mulut terbuka besar.
" Tutup mulutmu itu, lalat pun engan masuk ke dalamnya." Hugo dengan seringainya.
" I i ini ti tidak mungkin! Aku sudah berkali-kali memastikannya, ini bukan berkas milikku!" Azura membolak berkas-berkas tersebut, menyakinkan jika itu benar milikknya atau tidak.
" Kau yakin!" Tatapan mata Hugo begitu tajam kepada Azura.
" Yakinlah! Kau tahu sendiri jika aku membuat laporan, tidak seperti ini. Ah, siapa yang berani menukar laporanku." Kedua tangan Azura menarik rambut kepalanya dengan cukup kuat.
Hugo pun membenarkan hal tersebut, tidak seperti biasanya Azura memberikan laporan tentang perusahaan seperti itu. Setiap laporan yang diberikan kepadanya selalu sempurna, Azura bukan tipe orang yang menganggap sepele untuk masalah laporan.
__ADS_1
" Kau selidiki hal ini, jangan sampai berita ini sampai ke telinga tuan besar." Hugo juga menyakini, jika ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Makanya ia menugaskan Azura untuk menyelidiki terlebih dahulu kejadian tersebut.
" Iya! Aku tidak terima jika ada orang lain yang membuat namaku rusak begitu saja, akan kubuat mereka menyesal!" Begitu emosinya Azura dengan peristiwa yang ia alami kali ini, ia lalu meninggalkan ruangan Hugo untuk segera mencari dalang dari semuanya ini.
Kejadian tersebut, membuat Hugo merasakan ada sesuatu yang ingin membuat perusahaan tersebut kacau.
Sepertinya ada sesuatu yang ingin menjatuhkan perusahaan tuan Elvan, tapi siapa? Berani sekali orang itu, kalau hanya bermodal nekat saja akan kupastika dia hancur. Tapi, jika itu balas dendam. Wah, berat ini. Hugo.
Ddrt dddrtt...
" Hallo." Hugo menerima panggilan telfon dari rekannya.
" Sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan kita, di negara B dan C juga sama." Saat itu, Jack sedang berada di negara A. Untuk memeriksa laporan rutin dalam tiga bulan terakhir, dan ia juga menerima laporan yang sama persis dari orang yang berada di negara B dan C.
" Seperti apa?"
" Laporan fiktif." Tegas Jack menyebutkannya pada Hugo.
Terjadi kesunyian diantara mereka berdua, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mereka.
" Sebaiknya kita segera mencari tahu penyebabnya, siapa yang menjadi pelaku dan juga dalangnya. Sebelum tuan Elvan mengetahuinya." Hugo memecah kesunyian tersebut dengan mengambil keputusan yang harus segera mereka laksanakan.
" Hem benar, jangan lupa katakan pada Liam untuk melacaknya." Jack merasa jika kepalanya menjadi pusing dengan kasus ini.
Jika mereka diberikan dua pilihan, bertarung atau bekerja di perusahaan. Maka jawabanya akan pasti, yaitu bertarung. Pembicaraan itu terputus dan mereka berdua melanjutkan tugasnya, dengan berbagai gejala sakit kepala pada diri mereka berdua.
Memutar isi kepalanya yang sedang ruwet, Hugo mencoba mencerna dari setiap kejadian yang menyerang perusahaan mereka. Tidak hanya perusahaan pusat yang menjadi target, bahkan perusahaan anak cabang juga ikut.
Krek!
__ADS_1
Krek!
" Baiklah, sepertinya sudah lama otak ini beristirahat. Saatnya untuk digunakan kembali, huh." Kedua telapak tangan Hugo beradu dan menimbulkan suara.