
Dengan perkataan, karma akan berlaku pada orang yang melakukan hal-hal buruk kepada objek yang tidak tepat. Karena semua perlakuan buruk itu akan berdampak pada kehidupannya, terbukti pada saat ini.
Ara yang telah sadar dan pulih, serta bayinya juga dinyatakan sehat oleh dokter. Mereka pun memilih untuk pulang ke mansion, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Ara kepada Elvan. Seakan memberikan hukuman kepada suaminya, dan hal itu membuat Elvan begitu pusing menghadapinya.
" Sayang, bicaralah. Ada apa denganmu, semenjak kelahiran baby. Kamu sepertinya tidak mau berbicara padaku, selalu saja menghindar. Jangan menghukumku seperti ini, sayang." Elvan mengikuti setiap langkah kaki Ara kemana saja, bahkan disaat Ara akan memberikan ASI kepada baby mereka.
Masih dalam diamnya, berbanding terbalik dengan Ezra. Ia malah tertawa dengan begitu keras atas sikap Daddynya yang sedang berusaha keras membuat Mommynya berbicara, kali ini Ezra menyadari jika Elvan sangat mencintai Ara. Kebucinannya terlalu over menurut Ezra, bagaimana tidak. Elvan bahkan rela tidak berangkat kerja, tidak mau makan, tidak mau beraktivitas yang lainnya. Membujuk terus sampai titik lelahnya, agar Ara kembali seperti dulu.
Bruk!
Tiba-tiba saja, tubuh kekar dan besar Elvan ambruk. Ia tidak sadarkan diri saat mengikuti langkah Ara untuk meletakkan baby pada boxnya, Ara yang tidak pernah melihat suaminya tumbang seperti itu menjadi panik.
" Bee!"
Perlahan setelah meletakkan baby yang tertidur di dalam boxnya, Ara segera menghampiri tubuh Elvan yang sudah tak berdaya.
" Bee, kamu kenapa? Bee." Menepuk wajah Elvan dengan perlahan, namun tidak ada reaksi yang diberikan.
Ara keluar dari kamarnya dan segera meminta bantuan kepada Jefri, hanya dia yang pertama kali Ara jumpai.
" Jef, Jefri. Tolong, Elvan tidak sadarkan diri!" Dengan nada panik, Ara segera membawa Jefri mengikutinya menuju kamarnya.
Jefri yang kaget saat itu, hanya bisa mengikuti saja perintah dari nonanya. Ketika melihat tubuh tuannya yang terbaring di lantai, Jefri pun tampak kaget atas penampakkan yang ia lihat saat itu.
" Jef, tolong bantu untuk membaringkan suamiku di tempat tidur ya."
" Baik nona." Tanpa menunggu lama dan bersusah payah, Jefri membaringkan Elvan.
__ADS_1
Hufh! Jefri menyapu keringat dari dahinya, ternyata tidak sebanding dengan apa yang ia pikirkan. Rupanya, memindahkan tubuh tuannya itu lebih beratnya melebihi dari memindahkan sebuah batu besar.
" Jef, bisakah untuk menelfon Rara agar datang kemari?"
" Baik nona, akan saya hubungi." Jefri mengambil ponselnya dan menghubungi Rara dan memintanya untuk segera datang.
Membutuhkan waktu sepuluh menit, kedatangan Rara penuh dengan celotehannya yang cukup membuat telinga orang lain menjadi berdenging.
" Ada apa sih, kenapa juga menyuruhku secepat mungkin untuk datang. Siapa sih yang harus aku periksa? Kalau manusia batu lumutan itu yang harus diperiksa, akan kubuat dia semakin lumutan! kakak ipar." Teriakan Rara berhenti, disaat ia memasuki kamar utama milik sang kakak.
" Sstthh, suara aunty begitu berisik sekali. Nanti adek akan bangun jika mendengarnya." Ezra dengan wajah garangnya, terlebih dahulu mencegat Rara di depan pintu.
" Eh, keponakan aunty rupanya. Iya iya maaf, siapa yang sakit?" Rara mengelus puncak kepala Ezra dan sedikit mengacak rambutnya.
" Aunty!" Erang Ezra atas kelakuan auntynya yang mengesalkan.
" Lihat saja sendiri, ingat aunty. Pelankan suara aunty itu, kalau adek bangun gara-gara suara aunty. Awas saja!" Ancam Ezra yang berlalu mendekati box sang adik.
" Eh bocah, sebelas dua belas dengan bapaknya. Huh, kakak ipar."
Mendengar pertengkaran diantara keponakan dan tantenya, membuat Ara geleng-geleng kepala. Menyambut pelukan dari adik iparnya, yang sudah cukup lama tidak bertemu.
" Apa kabarmu kak? Siapa yang sakit? Jefri mengancamku jika datang terlambat."
" Baik, sayang. Maaf ya, sudah membuatmu buru-buru. Kakakmu tadi tiba-tiba tidak sadarkan diri, itu yang membuat khawatir." Ara membawa Rara untuk mendekati Elvan yang masih terbaring di atas tempat tidur.
" Wah wah wah, rupanya bisa tumbang juga ni batu lumutan. Tenang saja kak, dia tidak akan selemah itu."
__ADS_1
Rara memberikan ucapan tersebut, agar tidak membuat Ara merasa khawatir. lalu ia mengeluarkan beberapa alat yang akan ia gunakan, memulai tugasnya dan menempelkan alat tersebut ke tubuh Elvan. Setelah beberapa saat, Rara menghentikan kegiatannya.
" Bagaimana, apakah ada sesuatu yang gawat?" Tanya Ara yang sudah mengkhawatirkan keadaan suaminya.
Menyiapkan beberapa alat yang akan dipasangkan pada tubuh Elvan, Rara tersenyum mendengar kekhawatiran kakak iparnya.
" Tidak apa-apa kak, dia hanya dehidrasi ringan. Orang sepertinya tidak akan sakit parah, terkecuali jika kau yang menyiksanya. Orang dengan sindrom bucin akut, ya begini ni akibatnya." Ingin rasanya Rara tertawa terbahak-bahak dengan ulah sang kakaknya.
Ada perasaan bersalah dalam hati Ara, sehingga membuat suaminya menjadi seperti ini.
" Daddy hanya perlu tidur sebentar Mom, masa orang seperti Daddy begitu lemah." Ezra semakin menindas Daddynya.
" Benar sekali keponakanku ini, sepertinya kamu akan menggantikan Daddymu dalam kesuksessan dimasa depan. Jangan punya penyakit bucin akut juga, awas saja kau." Rara pun mengikut keponakannya untuk menindas Elvan.
Terdengar begitu menggemaskan percakapan aunty dan keponakannya itu, membuat Ara menjadi lega. Namun ada kecurigaan dalam hati Ara, lalu ia mendekati Rara dan berbisik di telinganya. Rara pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.
" Kakak ipar, sepertinya aku harus memasukkan sesuatu pada tubuh suamimu ini."
" Apa itu?"
" Obat tidur, biarkan dia tertidur sampai besok hari. Biar kita bisa pergi untuk mencuci mata, kau sudah lama tidak menghirup udara mall yang menyediakan berbagai brand terbaru. Sebentar ya, aku akan menyuntikkannya. Setelah itu, kita bersiap. Baby biar kita titipka sja." Rara memainkan bola matanya, sebagai tanda ia akan bersiap dengan aktingnya.
" Wah kau benar sekali adik ipar, cepat lakukanlah. Aku sudah tidak sabar."
Berpura-pura akan menyuntikkan sesuatu dari selang infus yang telah terpasang pada punggung tangan Elvan.
Brak!!
__ADS_1
" Tidak ada yang boleh membawa isteriku tanpa izin dan sepengetahuan dariku!!"