
Dengan jumlah personil yang cukup banyak, Hugo dan Dion memimpin anggotanya untuk menyerang dari arah timur. Sedangkan Jack bersama Azura dan Gael menyerang dari arah barat, untuk Jefri. Ia harus mengamankan dan menjaga baby dan keluarga lainnya.
" Jack, kita berpencar saja." Azura bermaksud agar mereka bisa dengan segera menemukan Ara dan juga lawannya.
" Dari awal aku sudah bilang, dasar kalian kembari siam tak terpisahkan saja mengikutiku kemana-mana. Dasar manusia menjengkelkan!" Jack berdecak kesal dengan kedua temannya itu, bagaimana tidak kesal. Setiap pekerjaannya selalu saja ikut campur.
" Aish kau ini sama saja seperti Elvan, menjengkelkan! Ya sudah. Siapa yang terlebih dahulu menemukan Ara, kasih sinyal kalian! Kita berkumpul pada titik yang akan ditentukan."
Ketiganya menganggukkan kepalanya lalu berpencar, begitu juga pada Hugo dan Dion. Mereka berdua sudah terlebih dahulu melancarkan aksinya, terkenal dengan manusia dingin seperti tuannya. Hugo tidak banyak bicara namun pergerakannya tanpa diketahui sudah terlebih dahulu berjalan.
Srak!
Brak!
Tangan licin Hugo sudah beraksi, dengan mudahnya tangan itu mematahkan leher pihak lawan. Kemampuan beladirinya juga tiada tandingan, begitupun juga Dion hampir tiada tandingan. Tanpa ampun, mereka memberikan perlawanan kepada lawannya.
Satu persatu lawan mereka tundukkaan, bahkan ada banyak yang meregang nyawa saat mereka eksekusi. Dan saat ini, Xavier sedang menantikan kedatangan orang yang sudah ia tunggu. Dengan keadaan Ara yang masih seperti awalnya, kedua tangan dan kakinya terikat dengan kuat oleh tali. Mulutnya tertutup oleh lakban yang cukup erat, menyisakan mata yang hanya bisa melihat dan mengeluarkan air mata.
Dor!
Dor!
Suara tembakan menggema pada ruangan yang memang sengaja Xavier siapkan, Jack dan lainnya sudah mengepung tempat tersebut dengan jumlah anggota yang sangat banyak. Namun, Xavier dengan tenangnya tidak takut pada hal tersebut. Dengan mudahnya ia berjalan dengan mengangkat kedua tangannya ke arah atas mendekati Ara, hal itu memancing kemarahan dari Hugo dan lainnya.
" Berhenti! Jangan kau mendekati nona kami!" Teriak Jack dengan mengarahkan senjatanya kepada Xavier.
" Jika selangkah lagi kau mendekatinya, akan kulenyapkan nyawamu!" Azura pun tak kalah marahnya.
Senyum seringai terpampang sangat jelas di wajah Xavier kala itu, ia membalikkan tubuhnya untuk menghadap Jack dan rekan-rekannya.
__ADS_1
" Heh! Ternyata kalian sangat perduli dengan wanita ini, wow. Ini sangat mengejutkan."
Situasi dan kondisi saat itu sangat mencekam, suara retakan dari rahang Hugo mengartikan jika ia saat itu sedang menahan semua amarah dan keinginannya untuk melenyapkan Xavier. Tatapannya tertuju pada Ara yang duduk bersimpuh dibawah kaki Xavier, terdapat beberapa luka yang terlihat dari mata Hugo. Dan itu semakin membangkitkan jiwa mafianya, akan tetapi ia dan lainnya tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Karena nyawa nona mereka dalam bahaya, lengah sedikit saja bisa membuatnya lenyap seketika.
Prak!
Xavier mengayunkan salah satu tangannya yang mengambil senjata dari saku baju ia kenakan, itu adalah sebuah senjata api yang ia pukulkan pada kepala Ara.
" Nona!"
Teriakan itu saling bersahutan. Ara hanya bisa meringig menahan rasa sakit pada kepalanha. Melihat nona mereka terluka, hal itu memancing jiwa pembunuh dari Huga dan lainnya.
Dor!
Dor!
Jack dan Azura melepaskan tembakan ke arah Xavier, namun hal itu terhalang oleh tubuh bawahannya yang rela menjadi perisai pelindung tuannya.
" Dasar ba****an la***at kau!" Geram Azura atas perlakuan Xavier kepada nona mereka, ingin rasanya ia langsung menghabisi nyawa Xavier. Namun itu ia urungkan, karena ia tahu jika ia melakukan hal tersebut. Maka nyawa nona mereka dalam bahaya, sungguh dirinya begitu menahan semua gejolak dalam dirinya.
Kelompok yang dipimpin oleh Elvan, kini hanya bisa menunggu intruksi dari para pimpinan mereka. Mereka juga mengumpat dari dalam hati masing-masing, dimana keberadaan tuannya saat ini berada.
" Katakan! Dimana Elvan?" Xavier kembali berteriak menyebut nama sang leader.
" Jika tuan kalian itu tidak memperlihatkan dirinya, jangan berharap wanita ini akan tetap hidup! Cepat suruh dia keluar, Elvan! Keluar kau, hah! Keluarlah!" Dengan begitu sangat amarah, Xavier menarik tubuh Ara dan menjadikannya sebagai sandera.
Dan kini, sebuah senjata tajam sudan berada diddepan leher Ara. Bergerak sedikit saja, sudah bisa menggoresnya menjadi luka.
" Jangan coba-coba menyakitnya!!"
__ADS_1
Suara itu berasal dari balik kumpulan para anggota dari kedua kelompok tersebut, semua pandangan teralihkan pada sumber suara tersebut. Seseorang pria terlihat begitu dingin dan menyeramkan.
Dor!
Dor!
Pria itu adalah Elvan, ia langsung melayangkan tembakan ke arah Xavier. Tembakan itu mengenai tangan dan juga kakinya, seketika senjata tajam itu terlepas dari tangannya dan tubuhnya berlutut ke bawah.
Elvan langasung menyambut tubuh Ara yang sudah lemas, begitupun dengan Hugo dan yang lainnya. Mereka juga kembali menyerang anggota kelompok Xavier yang masih berada disana, tanpa ampun dan kasihan. Mereka menyikat habis para lawannya.
" Sayang! Maaf." Elvan memeluk tubuh Ara dengan erat, ia melepaskan seluruh ikatan yang berada pada tubuh Ara.
Tanggisan dan pelukan Ara layangkan kepada Elvan, orang yang benar-benar ia tunggu kini telah hadir dihadapannya. Saat yang lainnya sedang sibuk dengan para musuh mereka, Xavier yang luput dari pengawasan sedang bersiap menyerang Elvan dari arah belakang. Ara yang tak sengaja menangkap sikap Xavier, ia melepaskan tangannya dari Elvan dan mendorong tubuh besar suaminya itu agar bisa terhindar dari serangan tersebut.
" Tidak, Bee!" Dengan sekuat tenaga Ara mendorong tubuh Elvan.
Mendapati tubuhnya didorong oleh Ara, Elvan mendadak keanehan dari sikap istrinya. Tanpa Elvan tangannya dari tubuh Ara, Elvan memberikan jarak dirinya dan Ara dan membalikkan sebagian tubuhnya.
Crash!
Crash!
Tangan Elvan yang sebelumnya memegang tubuh Ara ia lepaskan dan menjauhkannya dari Elvan, saat matanya melihat punggung dan lengannya terkena senjata yang digunakan oleh Xavier. Seketika rahang Elvan menggeretak dan sorot matanya yang sangat tajam menatap Xavier, tanpa menunggu lama. Elvan mencengkram tangan Xavier dan beralih mengambil senjata yang ia gunakan sebelumnya untuk menyerang Elvan, melihat tuan mereka terluka. Hal itu memicu kemarahan dari Hugo dan lainnya, mereka pun ingin ikut bersama tuannya menyerang xavier. Namun keinginan mereka terpatahkan oleh gerakan tangan Elvan yang terangkat ke atas, mengisyaratkan jika dirinya tidak ingin yang lainnya mencampuri urusannya.
" Bawa istriku dari sini, pastikan keadaannya. Jika terjadi sesuatu, aku tidak akan segan-segan melenyapkan kalian!" Kalimat Elvan penuh dengan ketegasan.
" Bee." Ara menatap wajah suaminya yang saat itu sudah begitu berubah, seakan-akan yang ia lihat bukanlah Elvan suaminya.
" Ikutlah bersama mereka, ada baby yang menunggumu. Hugo! Jack! Cepat bawa istriku dari sini!" Teriak Elvan dengan cukup keras.
__ADS_1
Bergerak dengan cepat, Hugo maupun Jack mengikut perintah dari tuannya. Awalnya Ara masih ingin bersama Elvan, akan tetapi Hugo membujuknya untuk segera menemui baby yang sangat membutuhkan Mommynya. Akhirnya, Ara pun luluh.