
Beberapa hari setelah kehadiran Azura dan Gael, keadaan mansion lebih berwarna. Azura membuat sedikit acara keluarga, dimana mereka mengadakan pesta taman dan berbeque. Jack maupun yang lainnya ikut berpartisipasi dalam acara itu. Keadaan yang pada awalnya penuh dengan kecerian dan juga kebahagian, Ara yang saat itu bermaksud membantu untuk mengambil bahan-bahan makanan yang akan digunakan untuk acara barbeque di dapur. Disaat ia akan kembali ke taman, terjadi sesuatu padanya.
Prang! Terdengar suara pecahan benda terbuat dari kaca, dan juga teriakan.
" Argh!" Suara Ara terdengar sangat lirih dan juga keras.
Disaat Ara berjalan akan kembali dari dapur menuju taman dan membawa bahan-bahan makanan, sebuah benda tiba-tiba saja menancap pada punggungnya dengan sangat tajam. Semua yang ia bawa dengan tangannya terlepas begitu saja dan berserakan.
" Ara!"
" Kakak ipar!"
" Nona!"
Semuanya baru tersadar disaat mendengar suara teriakan Ara pun segera menghampirinya, Tami yang pada saat itu juga ikut membantu Ara tak luput dari serangan. Ia sudah dilumpuhkan terlebih dahulu dengan obat bius dan kini dalam keadaan tidak sadarkan diri di dapur, dengan kondisi tangan dan kaki yang terikat serta mulut juga matanya tertutup oleh lakban.
Tubuh Ara meringkuk menahan rasa sakit dari punggungnya, tanpa sepegetahuannya. Orang yang sudah menyerang Ara berjalan memutar kehadapannya, tawa sinis yang ia berikan sebagai tanda rasa tidak kesukaannya.
" Bagaimana nona? Ini merupakan kejutan untukmu, tidak akan ada yang menyangka jika aku akan melakukan ini padamu. Benar bukan?!" Ujar pelayan wanita yang sempat dicurigai oleh Tami dan juga Jefri sebelumnya.
" Ka kau, kenapa kau me lakukan ini padaku?" Ara menyandarkan tubuhnya pada dinding terdekatnya.
Pelayan tersebut semakin sinis dan menatap tajam pada Ara, serta melihatnya meringgis atas rasa sakitnya. Pelayan itu menarik senjata yang masih menancam pada punggung Ara secepat mungkin, hingga menimbulkan cucuran darah dari luka tersebut mengalir dengan cukup deras.
" Anda tidak perlu tahu tentang alasan apa aku melakukan perbuatanku ini, yang perlu kau khawatirkan adalah nyawamu sendiri nona. "
Wanita itu kembali mengayunkan senjatanya, ia berniat untuk menyerang Ara lagi. Namun hal itu diketahui oleh Ara, disaat senjata itu akan menyentuh tubuhnya. Tangan Ara reflek menangkap dan menahannya sekuat tenaganya, mendapatkan jika serangannya tidak berhasil. Wanita itu mengambil sesuatu dari saku pakaianya, sebuah jarum suntik yang sudah siap pakai.
__ADS_1
Namun disaat ia akan menancapkannya pada tubuh Ara, tiba-tiba saja sebuah terjangan kaki mendarat pada tubuhnya dan membuatnya terpental menjauh.
Bugh!
Tubuh Ara terlepas dari cengkraman wanita itu, pemilik terjangan itu tak lain adalah Elvan. Ia segera meraih tubuh Ara yang sudah terlepas, sorot matanya seakan tajam dan rahangnya mengeluarkan bunyi keretakan tulang. Dimana ia mendapatkan adanya luka pada tubuh istrinya.
" Sayang!" Suara Elvan tampak begitu cemas.
Sedangkan Azura dan lainnya mengejar wanita yang sudah menyerang Ara, baru diketahui identitas dari wanita tersebut disaat Gael melihat wajahnya.
" Belen, Belen!" Gael bergumam dan berikutnya berteriak memanggil nama wanita tersebut.
Dalam pelariannya, Wanita yang bernama Belen itu berhenti sejenak saat namanya disebut. Matanya melebar mengetahui siapa orang itu, bahkan ia tidak percaya jika mereka bertemu kembali.
" Gael?! Tidak mungkin, kenapa dia bisa disini? Sial!" Gerutu Belen.
" Kamu harus bertahan sayang, jangan pejamkan matanya! Kumohon bertahanlah!" Elvan memeluk tubuh Ara yang masih meringgis kesakitan.
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Elvan terus berusaha membuat Ara tetap terjaga. Setibanya mereka di rumah sakit, Ara maupun Tami langsung mendapatkan penanganan dari tim medis disana.
" Bagaimana bisa penyusup masuk ke dalam mansion?!" Erang Elvan dengan menjambak rambut kepalanya cukup kuat.
Terlihat Liam berlarian dan beberapa orang anggotanya menghampiri tuannya, ia juga tidak tahu persis mengenai kejadian yang terjadi di mansion utama. Sedangkan Jack dan juga Dion, mereka berdua segera mengerahkan sebagian anggota mereka untuk membantu mengerjar dan mengamankan mansion. Kabar mengenai peristiwa tersebut diberitahukan oleh Jefri, namun tidak begitu jelas.
" Tuan." Tegur Liam.
" Kalian cari tahu mengenai semua ini, terutama wanita bre****ek sialan itu! Bagaimana bisa dia berani melukai istriku, argh!" Elvan meninju tiang peyangga dari bagunan tersebut, ia begitu murka atas peristiwa yang terjadi.
__ADS_1
Liam tidak bisa mengatakan apapun, ia belum sepenuhnya membaca kronologis kejadian yang menimpa nona mereka. Akan tatapi, ia sudah menyelidiki beberapa hal yang menurutnya janggal tanpa sepengetahuan yanh lainnya.
......................
" Aku harus segera bersembunyi, jika tidak maka nyawaku dalam bahaya. Aku harus memberitahukan bos secepatnya, ya secepatnya." Belen kini berada dalam suatu tempat yang ia anggap aman untuk sementara.
Hampir saja aku berhasil melenyapkannya, dasar pria ba***t, dia selalu saja menggagalkan aksiku. Hahaha, paling tidak pria itu sudah aku peringatan melalui wanitanya. Tidak akan ada siapa pun yang bisa melawan bos kami, walaupun mereka adalah orang terkuat sekalipun. Belen.
Karena terlalu larut dalam emosinya, Belen tidak menyadari sesuatu yang sudah menunggunya. Bahkan nyawanya pun bisa lenyap pada saat itu juga, karena kecerobohan yang terus berulang terjadi. Sehingga membuat dirinya tidak mendapatkan kepercayaan dari bosnya, untuk membuktikan dirinya layak atau tidak menjadi seorang anggota suatu kelompok. Maka dari itu ia menerima melakukan siasat agar kembali mendapatkan simpatik dari bosnya.
Pada saat ia akan menghubungi seseorang, secara tiba-tiba dirinya terpojokan oleh kepungan dari banyak orang yang sudah mengintainya.
" Kau tidak akan bisa lari lagi, serahkan dirimu sekarang juga. Kalau tidak, nyawamu akan aku musnahkan!" Azura dengan lantangnya meneriaki Belen agar keluar dari persembunyiannya.
Gawat! Mereka menemukan persembunyianku, aku harus bagaimana sekarang. Ayo pikir bel! Belen.
" Keluar kau Belen! Serahkan dirimu baik-baik, kalau kau tidak ingin kami melakukan sesuatu kepadamu. Cepat keluar!" Kali ini Gael tak kalah tegasnya dari Azura.
" Dasar kalian ini, kalau seperti ini cara kalian menangkap wanita sialan itu. Yang ada dia sudah kabur, habis saja waktu untuk hal itu." Jack yang sudah dalam keadaan emosi tidak stabil, langsung menyergap keberadaan Belen yang sudah diketahui sebelumnya.
Dor!
Dor!
" Aaargghh! Bre***k!" Erang Belen dengan rasa sakit pada tubuhnya.
Tidak ada rasa belas kasihan yang ditampakkan pada wajah Jack, ia langsung saja melepaskan tembakan yang tepat dan mengenai kedua kaki Belen.
__ADS_1