
" Tidak ada yang boleh membawa isteriku tanpa izin dan sepengetahuan dariku!!" Suara berat Elvan terdengar cukup keras.
Mendengar suara tersebut, orang-orang yang berada disana. Bukannya takut atau kaget, akan tetapi mereka malah tertawa dengan cukup garing.
" Hahaha, ternyata kau benar kakak ipar. Hahaha, batu lumutan ini sudah menipu kita." Rara tertawa begitu bahagianya.
Membuka mata dengan cukup lebar, Elvan menatap ke arah sumber suara yang menertawakan dirinya dengam sangat tajam, namun bukannya takut. Rara semakin tertawa dengan keras, disaat Elvan akan melemparnya dengan sesuatu benda terdekatnya. Rara memilih segera kabur dari kamar tersebut.
" Kakak ipar, aku pamit ya. Jangan lupa dengan hukumannya, bila perlu tambahin lagi. Biar kapok dan semakin lumutan, keponakanku. Aunty kerja dulu ya, biar bisa beliin kalian Daddy baru. Bye!"
" Rara!!"Teriak Elvan yang semakin geram dengan celotehan adiknya.
Ezra melambaikan tangannya melepas kepergian auntynya, ia tidak habis pikir. Bagaimana bisa auntynya menjadi dokter dengan sikap dan otaknya yang selalu aneh seperti itu, bahkan tidak ada pria yang tahan untuk selalu berdekatan dengan dirinya.
" Sayang, kamu tega ya. Suamimu sedang sakit, kamunya malah mau pergi bersenang-senang." Elvan mengeluarkan kalimat manjanya untuk menarik perhatian dari Ara.
Akan tetapi, Ara tidak menghiraukan perkataan Elvan padanya. Bahkan Ara berjalan mendekati kedua buah hatinya, melihat baby yang tertidur dengan begitu nyenyaknya. Ezra pun beranjak dari box sang adik, memeluk Ara dan menjulurkan lidahnya pada Elvan.
" Mommy, nanti malam tidur dikamar Ezea saja ya sama adek."
" Baiklah sayang, nanti Mommy dan baby akan tidur di..."
__ADS_1
" Tidak boleh! Ezra, kembalilah kekamarmu boy. Belajarlah untuk tidur sendirian, jika kamu takut. Ada Dion yang selalu siap menemanimu. Kembalilah kekamarmu." Elvan beranjak dari tempat tidurnya, melepaskan jarum infus yang tertancam pada punggung tangannya dengan kasar. Berjalan mendekati ketiga orang yang sangat ia cintai.
" Mom, Ezra ke kamar dulu ya. Tidur yang nyenyak adek sayang, mom. Hati-hati, Daddy lagi caper." Bisik Ezra.
" Caper? Apa itu?" Tanya Ara yang tidak mengerti akan singkatan yang Ezra ucapkan.
" Cari perhatian Mom, bye Mom."
Sangat terburu-buru untuk kabur, Ezra hampir saja tertangkap oleh tangan Elvan yang menghadangnya. Bukan Ezra jika tidak bisa lolos dari rintangan yang ada, Ara yang melihatnya hanya bisa menghembuskan nafasnya yang berat.
" Sayang, jangan mendiamkanku lagi ya. Kumohon, ini sangat menyiksaku sayang." Elvan memeluk Ara dari arah belakang, mengendus-enduskan kepalanya pada leher Ara.
Hal itu membuat Ara semakin merasa geli yang tak tertahankan, ingin rasanya ia tertawa. Namun berusaha untuk menahannya terlebih dahulu, tidak ingin terlihat begitu lemah dihadapan suaminya yang saat ini sangat pecicilan menurutnya.
" Jujur, saat itu. Aku begitu takut jika putih menyerangmu, apalagi dengan riwayat kandunganmu saat itu begitu lemah. Rasa cemburu dan kekhawatiranku telah menutup mataku, hingga aku gelap mata dan melenyapkannya. Maafkan aku." Suara Elvan semakin lirih.
Sebenarnya, Ara sudah mengetahui sifat cemburu suaminya itu terlalu besar. Akan tetapi, Ara ingin Elvan mengakuinya sendiri jika dirinya cemburu. Bukan malah harus menutupinya dan menyebabkan yang lainnya menjadi korban.
Melepaskan tangan Elvan yang melingkar pada tubuhnya, Ara beranjak dari sisi Elvan. Menduga jika Ara masih marah dan tidak mau memaafkannya, perasaan Elvan semakin tidak karuan. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Prang!
__ADS_1
Prang!
" Suara apa itu?" Ara bergegas mencari sumber suara.
Tidak mendapati suaminya disana, Ara mengedarkan matanya keseluruh sudut ruangan. Terus mencari sampai ke balkon luar kamar mereka, hasilnya pun nihil. Pada akhirnya, sudut mata Ara menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Berlarian kecil ia kesana dan memastikan keberadaan Elvan.
Tok tok tok.
" Bee, apakah kamu didalam?" Ara menempelkan daun telingganya pada dinding pintu kamar mandi.
Tok tok tok.
" Bee." Tangam Ara meraih pegangan pintu dan mencoba untuk membukanya, terkunci.
" Bee, buka pintunya Bee."
Berulang kali Ara berusaha membuat Elvan membuka pintu tersebut, namun hasilnya tetap sama dan pintu iti tidak terbuka.
" Baiklah, tidur saja didalam sana. Kalau kamu tidak mau keluar, jangan salahkan aku jika membawa anak-anak dan meninggalkanmu. Aku akan mencari suami baru, yang bisa memberikan kami ..."
Brak!
__ADS_1
" Satu langkah kamu keluar dari mansion ini, aku akan melenyapkan orang yang akan kau dekati itu!" Elvan membuka pintu kamar mandi dengan kasar, membuat Ara sempat kaget.