
Kepulangan Ara yang secara tiba-tiba, membuat semua penghuni mansion merasa kaget.
" Ara, kamu sudah pulang nak." Tegur Elliza saat melihat putrinya itu memasuki mansion.
" Iya bu, maaf. Ara istirahat dulu kamar." Melanjutkan langkahnya, Ara menginggalkan semua orang yang sedang berada diruang utama.
Hal itu mengundang tanya dari semuanya, tentu saja saat melihat Ezra. Mereka pun melayangkan pertanyaan tersebut kepada Ezra, akan tetapi. Ezra dengan begitu tenang berjalan mendekati sang adik, yang berada dalam pangkuan neneknya, Bella.
" Abang, Mommy kenapa?" Tanya Bella dengan raut wajah yang begitu penasaran.
" Tenang saja nek, Mommy tidak akan apa-apa." Mengelus pipi baby yang semakin gembul, membuat Ezra menjadi gemas.
" Jangan membuat para orangtua bertanya-tanya, Ezra. Ada apa dengan Mommymu? Tidak biasanya ia langsung masuk ke dalam kamar." Timpa Nany dengan perkataannya.
" Nenek buyut dan semuanya, nanti akan tahu kok. Sebentar lagi juga, kalian akan mengetahui penyebab Mommy seperti itu."
Jawaban yang Ezra berikan, membuat semua orang disana menjadi bertanya-tanya dan sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Terdengar suara deru mobil yang baru saja tiba, dengan begitu sangat tergesa-gesa pria bertubuh kekar itu memasuki mansion.
" Elvan!" Semua orang tampak terkejutkan dengan kedatangan Elvan yang dalam keadaan terburu-buru, masih menggunakan pakaian rumah sakit.
" Dimana Ara?!" Tanyanya dengan tegas.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, semua orang masih tampak shock dengan kehadiran Elvan. Bagaimana bisa orang yang mereka lihat beberapa jam sebelumnya masih terbaring tidak sadarkan diri dirumah sakit, dan kini. Orang tersebut berjalan dengan sangat cepat dihadapan mereka, bahkan tidak tampak sedikitpun kesakita dan juga kelemahan dari orang sakit disana.
" Boy! Dimana Mommy?" Tidak mendapatkan jawaban dari orang-orang disekitarnya, Elvan melemparkan pertanyaan itu kepada puteranya.
" Tuh." Ezra dengan santainya mengarahkan telunjuk tangannya.
__ADS_1
Sebelum melangkah lagi, Elvan menyapa baby terlebih dahulu. Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju tempat yang ditunjuk oleh Ezra, langkah itu lagi-lagi terhalang sang mertuanya.
" Tunggu Van, kamu baik-baik saja? Ada apa ini?" Ray menghalang laju Elvan dengan pertanyaan.
" Huh!" Mengusap wajahnya dengan kasar, Elvan merasa sangat pusing.
" Tidak usah khawatir kek, Daddy hanya dihukum Mommy kok." Jawaban Ezra yang semakin membuat semua orang mengkerutkan keningnya.
Menolehkan sejenak wajahnya untuk menatap Ezra yang sangat receh, Elvan melanjutkan langkahnya menuju kamar dirinya dengan sangat cepat. Beruntungnya, pintu kamar tidak terkunci. Menghembuskan nafasnya perlahan, Elvan membuka pintu dan masuk kedalamnya.
Setelah hilangnya bayangan Elvan dari semua mata orang, Ray mendekat dan membawa Ezra untuk duduk berasamanya. Bermaksud untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya sedang terjadi diantara kedua orangtuanya.
" Coba jelaskan pada kakek, kenapa Mommy dan Daddy seperti itu nak? Bukannya Daddymu masih dalam keadaan kritis, kenapa ini sudah bisa berjalan dan pulang?" Ray dengan rasa penasaran yang besar.
" Benar nak, bisa jelaskan pada kami semua." Elliza yang juga penasaran dengan apa yang terjadi.
" Daddy pura-pura kritis, biar Mommy selalu memanjakannya. Lagi pula, Daddy sudah sadar lebih cepat dari yang kita tahu, dan itu membuat Mommy mengomel." Dengan mudah dan lancarnya, Ezra memberikan penjelasan.
Atas penjelasan tersebut itu, hampir semua mulut orang yang berada disana membentuk huruf O. Menganggukkan kepala sebagai tanda mereka mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
" Aku mau istrirahat dulu, menyiapkan tenaga untuk menyaksikan drama terbaru dari anak nakal itu. " Nany meninggalkan ruang utama.
" Wah, ide Nany sungguh bagus dan tepat. Besan, lebih baik kalian beristirahat saja disini. Tidak baik melewatkan drama dari anak-anak kita, ini akan menjadi pertunjukkan yang menarik." Elliza sudah sangat hafal dengan apa yang akan terjadi dalam kebucinan menantunya itu.
" Baiklah, kami akan mengikuti saran kalian. Ayo sayang, lebih baik kita beristirahat." Ray memboyong Bella yang sudah tertawa dengan ucapan para anggota keluarga barunya itu.
Satu persatu, orang disana meninggalkan ruanh utama. Begitu juga dengan Baby, menyisakan Ezra yang masih menatap seluruh anggota keluarganya.
__ADS_1
Dunia orang tua sangat tidak bisa ditebak, bukannya khawatir. Eh malahan senang dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, benar-benar keluargaku yang sangat aneh. Ezra.
Didalam kamar, Elvan mendapati Ara yang sedang duduk disofa dengan menatapnya sangat tajam. Jantung Elvan berdetak begitu cepat dan tidak beraturan, melangkah perlahan mendekati istrinya dan ikut duduk bersama. Akan tatapi, Ara langasung berdiri disaat Elvan mendaratkan tubuhnya.
" Sayang, tunggu dulu. Aku akan menjelaskan semuanya, jangan mengacuhkanku seperti ini." Elvan menarik tangan Ara dan menggenggamnya.
" Sayang, kumohon. Jangan diam saja, dimana istriku yang begitu sangat cerewet dan perhatian pada suaminya." Tangan Elvan membelai wajah Ara dan mencubit perlahan pipinya yang membuat gemas.
Atas perbuatannya itu, bukannya membuat Ara terbuai dan menjadi melunak. Membalikan tubuhnya sehingga berhadapan dengan wajah Elvan secara langsung, lalu ia memberikan tatapan tajam.
" Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Berani melakukan, berarti berani menerima konsekwensinya. Paham!" Dengan sangat tegas, Ara mengucapkannya dihadapan Elvan.
Bagaikan tersengat listrik, disaat Ara menghempaskan genggaman tangan Elvan dan meninggalkannya begitu saja tanpa memperdulikan apa yang Elvan lakukan. Tubuh Elvan kaku dengan ucapan Ara, merasa sangat bo**h dalam melakukan perannya untuk mendapatkan perhatian dari sang istri.
Huh! Sia-sia saja aktingku kali ini, bukannya mendapatkan perhatian. Ini malah mendapatkan hukuman, oh Tuhan. Jangan biarkan Ara mengacuhkanku seperti ini, bisa hancur duniaku. Aku harus membuatnya kembali lembut kepadaku seperti dulu. Elvan.
" Nih! Tidur di sofa atau tidur diluar. Tidak ada protes ataupun pembelaan, nikmati hasil aktingmu yang sudah membuatku khawatir setengah mati!" Ara melemparkan pakaian ganti dan juga bantal kepada Elvan.
" Sayang."
" Atau aku yang tidur diluar!" Ancam Ara.
" Ti tidak, jangan sayang! Oke, oke. Aku akan tidur disofa." Elvan seperti anak kecil yang sedang dimarahin oleh orangtuanya.
" Bagus." Ara naik ke atas tempat tidur dan menutupinya dengan selimut, namun dari balik selimut itu ia tertawa.
Maaf Bee, aku menghukummu sebentar saja. Ara.
__ADS_1