
Keributan terjadi didalam rumah mewah milik Bagaskara, Monick yang dengan lantangnya berteriak memaki Papinya.
" Dasar pria breng***ek! Sejak kapan Papi membohongi Mami, hah? Sejak kapan?!"
" Diam! Kau tidak berhak meneriaki Papi seperti itu, selama ini semua kebutuhanmu selalu Papi berikan dan terpenuhi. Jadi jangan pernah ikut campur dengan urusan Papi." Bagas berbalik memarahi Monick yang memergokinya sedang bermesraan dengan seorang wanita.
Elliza yang mendapati suami dan anaknya sedang bertengkar, memilih untuk diam. Sebenarnya ia sudah mengetahui kelakuan suaminya itu sejak lama, namun ia bungkam dan menuruti segala perintah dan kemauan dari suaminya. Bahkan disaat suaminya ingin menjadikan Ara sebagai jaminan, ia tidak bisa berbuat banyak.
" Siapa perempuan itu? Aku tidak akan membiarkan Papi bersamanya, itu sama saja menyakiti hati Mami! Papi tega berbuat seperti itu pada kami?" Bentak Monick.
Dengan menarik nafas dalam-dalam, Elliza menarik tangan Monick untuk duduk bersamanya. Berusaha untuk meminta anaknnya untuk tidak berdebat lagi dengan Papinya, namun Monick menepis tangan Elliza dan bertolak pinggang dihadapan Bagas.
" Tahu apa kau tentang Papi? Yang kalian tahu hanyalah uang dan uang saja, kalau masih ingin Papi memenuhi semua kebutuhan kalian. Diam dan tidak usah mencampuri semua apa yang Papi lakukan, jika Papi tahu salah satu dari kalian mencampuri urusan Papi, maka bersiaplah untuk hidup menjadi gelandangan di luar sana." Bagas menghempaskan sebuah vas bunga dihadapannya hingga menjadi serpihan kecil berhamburan, lalu ia pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang berderai air mata.
" Mami kenapa diam saja sih! Bukannya marahin Papi, Mami itu sudah dibohongin dan diduain sama Papi, Mi! Monick lihat sendiri kalau Papi sedang bermesraan sama tu perempuan." Monick semakin meninggikan ucapannya dihadapan Elliza.
Menghapus air mata yang mengalir dari kedua bola matanya, Elliza yang sebelumnya begitu cerewet dan juga suka menghambur-hamburkan uang. Semenjak suaminya ketahuan bermain belakang dari dirinya, sempat ia murka. Akan tetapi, kekerasan verbal dan juga fisik yang ia terima. Bahkan dirinya diancam dengan ancaman yang sangat mengerikan, akhirnya kejadian itu membuat ia sadar dan mulai memperbaiki diri. Menjadi istri penurut disaat dihadapan suaminya, namun tidak berlaku saat ia jauh dari suaminya.
Hubungan dirinya dengan anak angkatnya, Ara. Yang sebelumnya sangat buruk, perlahan ia perbaiki semuanya. Sebagai bentuk permintaan maaf dan juga penyesalan, atas apa yang telah ia lakukan.
" Cukup Monick, itu sudah menjadi pilihan Papimu. Doakan saja dia, agar tidak terlalu jauh terjerumus dalam tipu daya dunia. Nak, Mami hanya ingin hidup tenang. Biarkan Mami menghadapi Papimu dengan cara Mami sendiri. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Papi, jika dia tidak memberikan kita nafkah. Kita bisa apa nak?" Air mata yang sudah mengering, kini mengalir kembali dengan sangat deras.
" Mami itu sama saja kayak Papi, menyebalkan!" Monick merasa tidak terima dengan pendapat dari Elliza, ia menganggap jika Elliza begitu lemah.
Setelah pertengakaran selesai, Monick pergi begitu saja tanpa berbuat apapun untuk menenangkan Maminya. Hanya tinggal Elliza yang meratapi kejadian yang baru saja ia alami.
__ADS_1
......................
Menjalani kehidupan sesuai dengan keinginan yang kita mau, terasa begitu sangat sulit. Setelah kejadian dimana Ara mengatakan tidak mau mengandung anak dari Elvan, maka sejak itu Elvan memilih tidak pernah menemuinya lagi. Menyibukkan diri dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Bahkan ia memilih untuk tidak menampakkan wajahnya dihadapan Ara, memikirkan kondisi kejiwaannya yang tidak boleh tertekanan. Karena hal itu akan berpengaruh pada kondisi tubuhnya dan juga janin yang sedang sangat rawan untuk keguguran.
" Tuan, anda tidak pulang?" Tanya Hugo sembari merapikan berkas-berkas yang baru saja mereka periksa.
" Tidak, jika tidak ada lagi yang dikerjakan. Aku akan ke markas."
" Sepertinya tidak ada lagi tuan, apa perlu saya antar ke sana?" Menawarkan bantuannya, Hugo melihat tuannya sedang tidak dalam keadaan yang baik.
" Tidak, kau bisa mengerjakan yang lain." Elvan berdiri dari duduknya dan mengambil jasnya, melangkah dengan cepat meninggalkan perusahaannya.
Akhir-akhir ini, tuan terlihat sangat aneh. Ada apa dengannya? Hugo.
" Selamat datang, tuan." Sapa Liam dan semua bawahannya yang lain ikut menundukkan sedikit tubuh mereka.
" Hem." Hanya dengan seperti itu, Elvan membalas ucapan Liam. Ia berjalan tanpa menghiraukan apa-apa.
" Dimana mereka?" Elvan menayakan orang-orang yang sebelumnya telah menipu dirinya.
" Mereka ada diruangan milikmu, tuan." Ruang milikmu adalah kata lain dari ruang hukuman yang biasa Elvan gunakan untuk menyalurkan bakatnya sebagia psycopath, Liam mengiringi langkah Elvan menuju ruangan yang ia maksud.
Brak!
Pinti terbuka dengan paksa, memperlihatkan empat orang yang keadaannya sudah cukup mengenaskan.
__ADS_1
" Ambilkan." Perintahnya pada Liam.
Perintah itu tak lain adalah mengambilkan alat yang biasa ia gunakan untuk bermain dengan jiwanya yang lain, kini senjata itu telah Liam berikan kepada tuannya.
" Tuan, ini yang anda minta."
Sebuah senjata khusus yang bentuknya kecil, namun itu sangat mematikan. Tanpa membutuhkan waktu lama, dalam hitungan detik. Ke empat pria itu sudah tak bernyawa, senjata kecil itu telah melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dengan nafas yang memburu, Elvan melempar begitu saja senjata itu ke lantai.
Tring!
" Buang mereka seperti biasa." Berjalan keluar dengan tatapan yang begitu tajam dan seperti sedang meluapkan emosinya, Elvan merobek bajunya yang terkena cairan merah itu dengan kasar.
Melihat tuannya telah pergi, Liam semakin mengkerutkan keningnya. Apalagi dengan kondisi dari ke empat pria yang ia tawan, sungguh menggenaskan. Tanpa ampun Elvan melakukannya, hingga tubuh mereka seperti tidak layak lagi disebut manusia.
Aneh! Akhir-akhir ini, tuan tidak banyak bicara dan menghukum orang tanpa ampun. Apa ini bersangkutan dengan kejadian nona Ara? Oh tidak, jika seperti ini. Akan menambah tugasku saja. Liam.
Berganti pakaian yanh telah ia robek sebelumnya, kini Elvan mendaratkan tubuhnya untuk bersandar pada kursi di dalam kamar pribadinya miliknya. Memejamkan mata dengan sangat lama, tiba-tiba saja. Ia menendang meja yang berada didepannya hinga berantakan.
Brak!
Brak!
" Argh! Kenapa dia tidak menginginkan mengandung anakku?! Sampai kapan pun tidak akan aku biarkan dia melakukannya! Anakku, anakku harus hidup. Anakku harus hidup."
Meluapkan emosi yang sudah ia tahan, Elvan meluapkan kekesalannya atas ucapan Ara yang tidak ingin mengandung benih darinya. Tubuh yang orang-orang lihat begitu kekar dan juga menyeramkan itu, tiba-tiba saja jatuh berlutut ke lantai. Air mata yang tidak pernah ia keluarkan dalam waktu berpuluh tahun lamanya, kini mengalir dari kedua bola mata itu.
__ADS_1