
Kini jam perkuliahan telah selesai, semua mahasiswa yang berada didalam ruang kelas tersebut telah hilang. Hanya tersisa dua orang saja, Ara dan Maia. Dengan perasaan yang tidak menentu, Ara termenung dengan apa yang akan ia dapati dari manusia monster itu.
" Ngelamun lagi ni anak, kamu hari ini aneh banget Ra. Coba ceritain deh, ntar gue kurangin beban lu." Dengan bercanda, Maia menarik perhatian Ara.
Jemari tangan mengetuk meja, dengan kepala yang bersandar pada salah satu lengannya. Ara menghembuskan nafasnya dengan begitu kasar, menatap sahabatnya yang sudah menunggu penjelasan darinya.
" Hei, kesambet apa sih lu sampe begini?" Maia menoyor kening Ara dengan cukup kuat, membuat wanita itu sedikit terhuyung.
" Main toyor-toyor aja, sabar dong." Ara mengelus keningnya.
Maia pun bersedekap di hadapan Ara, ia menuruti apa yang telah sahabatnya itu katakan. Menanti dan menunggu penjelasan, yang cukup memakan waktu untuk mengheningkan suasana.
" Aku dijadikan jaminan hutang oleh papa, dan orang yang meminjamkan uang itu adalah orang yang baru saja menjadi dosen pengganti pak Leon hari ini."
" Apa?! Mmph mmpp." Teriakan Maia terdengar begitu kuat, hingga dengan cepat Ara harus membekap sumber suara itu.
" Aish kau ini, mau konser apa. Keras banget tu suara, kalau mau teriak. Nanti saja, saat kau pergi kehutan."
Dengan amat terpaksa, Ara harus menceritakan semua yang ia alami kepada sahabatnya itu. Jika tidak, maka wanita itu akan mencari tahu sendiri tentang apa yang sedang dialami oleh sahabatnya ini.
" Gila bener bokap lu, orang tua nggak punya hati. Walaupun lu bukan anak kandung mereka, tapi nggak harus menyakiti lu terus-terusan dong. Enak bener hidup anaknya tu orang, yang berhutang siapa. Yang dijadiin jaminannya juga siapa, enaknya bokap lu itu diapain ya. Biar taubat gitu, bener-bener bukan manusia." Tanggapan Maia atas apa yang sudah di alami oleh Ara, sungguh membuatnya tidak habis pikir.
" Terus, lu disana gimana? Apa tu orang baik sama lu, apa sebaliknya?" Dengam penuh penasaran, Maia terus mengintrogasi Ara dengam begitu banyak pertanyaan.
" Entahlah Mai, doakan saja yang terbaik untuk semuanya."
Ddrrttt...
Ddrrttt..
Ponsel Ara bergetar dan ia segera melihat sebuah panggilan dari nomor yang tidak terdaftar dalam kontaknya, untuk memastikan siapa yang menelfonnya. Ara pun menggeser ikon hijau pada ponselnya.
" Aku tunggu di parkiran, sekarang!"
Tut tut tut...
Keningnya pum berkerut, Ara sudah menggenal suara yang menelfonnya tadi. Jantungnya pun berdetak dengan sangat cepat, berharap hukuman yang akan ia terima tidak akan menyulitkannya.
" Siapa ra?"
" Si monster, aku harus cepat menemuinya. Sampai jumpa Mai." Bergegas menuju parkiran yang dikatakan oleh sang penelfon.
__ADS_1
" Tunggu Ra, hei tunggu!"
Maia tidak bisa menghalangi langkah sahabatnya itu, namun banyak sekali timbul pertanyaan dari dalam kepalanya tentang apa yang di alami Ara. Banyangan Ara sudah tak terlihat, Maia pun ikut beranjak dari tempat duduknya untuk pergi.
Langkah cepat itu membawa Ara tiba di parkiran, tapi ia tidak menemukan orang yang menelfon dirinya.
Kok tidak ada, apa ini hanya leluconnya saja. Ara.
Nafas yang tidak teratur, membuat Ara mencari tempat duduk untuk sekadar menghilangkan lelahnya. Keringat telah membasahi wajah dan sebagian pakaiannya, teriknya cuaca membuat orang-orang mencari tempat untuk berteduh.
Ddrrttt...
Ddrrttt...
Hah, nomor ini lagi.
" Hallo,..."
" Dalam waktu lima menit, kau tidak sampai. Bersiaplah tikus kecil!"
Tut tut tut.
Melihat sekelilingnya dengan cermat, akan tetapi keberadaan sang penelfon tidak dapat Ara temukan. Merasa pasrah dengan keadaan yang ia alami saat ini, Ara menyapu keringat diwajahnya dengan menggunakan telapak tangannya.
Ddrrttt...
Ddrrttt...
" Hall..."
" Parkiran mobil!!" Suara teriakan begitu keras, sehingga membuat telingga Ara berdengung hebat.
" Aish, kenapa nggak pakai toa saja sekalian. Ya Tuhan! Ini parkiran motor, pantas saja nggak ketemu. Aduh, mampus aku." Tingkat kecemasan pada diri Ara menjadi begitu besar, secepat mungkin ia langsung berlari menuju parkiran mobil yang berjarak cukup memakan waktu.
Ketika telah sampai pada tempat yang benar, Ara kembali harus mencari keberadaan monster itu berada. Orang-orang yang melihat kondisi Ara saat itu, sudah seperti seorang atlet yang baru saja selesai latihan. Keringat yang membasahi wajah dan pakaiannya, membuat dirinya menjadi perhatian banyak orang.
" Silahkan masuk, nona."
Tiba-tiba saja, suara seseorang menyadarkan Ara. Yang ternyata adalah suara Hugo, berdiri tegap disamping sebuah mobil mewah.
" A a apa?" Ara begitu terkejut saat disuruh memasuki mobil yang sudah terbuka pintunya.
__ADS_1
Hugo menganggukkan kepalanya, dengan amat terpaksa Ara mengikuti arahan yang diberikan kepadanya. Keterkejutan itu tidak berhenti begitu saja, saat Ara sudah memasuki mobil tersebut. Tubuh besar itu telah menunggu dan menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam, hal itu semakin membuat tubuh Ara bergetar ketakutan.
" Aakh!!"
Pria itu menarik rambut Ara dengan cukup kuat, namun begitu santainya ia melepaskan tarikan dan menghempaskannya begitu saja. Ara mengusap kepalanya yang berdenyut, sungguh miris sekali.
" Jalan!"
Mendengar ucapan bosnya, Hugo segera menjalankan laju mobil tersebut. Ia tidak berani untuk menatap wajah orang yang baru saja memberikannya perintah, Ara hanya bisa terdiam dengan situasi yang ada.
Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan ataupun yang lainnya. Hening, hingga pada akhirnya mobil itu berhenti pada sebuah gedung yang teramat besar, tinggi dan mewah.
" Bawa tikus ini keruanganku." Elvan meninggalkan mereka begitu saja.
" Baik tuan."
Bisik-bisik mulai terdengar lagi, siapa lagi kalau bukan para karyawaan yang sedang memuji ketampanan bos mereka. Ara yang mengikuti langkah Hugo, menjadi sangat rendah diri melihat kejadian itu.
" Tu tuan, kenapa aku harus mengikuti kalian? Bisakah aku pulang ke ..." Belum saja menyelesaikan kalimatnya, Hugo telah menyela ucapan Ara.
" Ikuti saja perintah dari tuan Elvan, jika kamu masih sayang dengan nyawamu sendiri. Dan ingat, membantah dan menyalahi aturan yang dibuat oleh Tuan. Berarti kamu harus siap menerima hukumannya, jangan membuat tuan marah." Hugo berjalan terlebih dahulu didepan Ara, dengan langkah malasnya. Ara terpaksa mengikuti apa yang Hugo ucapkan, dengan tidak memungkiri jika dirinya juga takut akan hukuman yang akan ia terima.
Memasuki gedung mewah, menaiki lift khusus dan berakhir pada lantai paling atas dan begitu luasnya. Sapaan dari wanita, yang merupakan sekretaris perusahaan. Disambut hangat oleh Ara, namun tidak untuk Hugo.
" Selamat datang."
" E e terima kasih." Ara yang gagap menjawab sapaan wanita itu, segera mendapatkan lirikan mata dari Hugo untuk masuk kedalam ruangan yang berada dihadapannya.
" Masuklah."
" Ba baik tuan, terima kasih."
Pintu tertutup kembali, Ara mengedarkan pandangan matanya keseluruh ruangan. Mencari si pemilik dari ruangan tersebut, berjalan perlahan dan terus melangkah.
" Tikus kecil selalu mengendap-endap kalau berjalan."
Tubuh Ara menjadi kaku, ternyata orang yang sedang ia cari sudah berada dibalik tubuhnya.
💐💐💐
Jangan lupa dukung serta tinggalkan like, komen, vote dan koin kalian pada novel ini ya.😊
__ADS_1