
Dengan begitu kuatnya tenaga yang dimilik seorang Elvan, pintu tersebut akhirnya bisa terbuka dalam dua kali dobrakan dan satu kali tendangan.
Brak!
Pintu kamar terbuka, menimbulkan suara yang sangat kuat. Elvan segera memasuki kamar miliknya, di ikuti oleh Nany dan Liam. Betapa terkejutnya mereka, melihat Ara dalam posisi tiduran di lantai, Elvan segera membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
" Bangun, bangun tikus kecil." Menggoyang-goyangkan wajahnya Ara yang begitu sangat pucat.
" Buka matamu, jangan menakutiku seperti ini!" Suara Elvan meninggi.
Semua orang yang berada disana menjadi panik, terutama Nany yang begitu kaget dengan kondisi Ara.
" Liam, cepat hubungi Rara." Pinta Nany dengan nada membentak.
" Baik Nany." Liam mengambil ponselnya dan menghubungi Rara agar segera datang.
Terus melakukan sesuatu, agar Ara membuka matanya. Elvan menangkap sesuatu yang berbeda dari arah kaki Ara, dan seketika rahang wajahnya mengeras.
" Siapkan mobil!" Dengan lantang, teriakan Elvan menggema.
Mendapati tuannya berteriak, Liam bergerak tanpa bicara. Ia menuruni anak tangga dengan begitu cepat, untuk menyiapkan permintaan tuannya.
" Ada apa?" Tanya Nany kepada Elvan.
" Ada darah dari kakinya, aku harus membawanya kerumah sakit!"
__ADS_1
Mengendong tubuh mungil itu ke dalam dekapannya, Elvan dengan berlarian menuruni anak tangga begitu cepat. Disaksikan oleh semua maid yang ada disana, jika tuannya sedang menggendong Ara dalam keadaan cemas. Melihat peristiwa yang terjadi, Friska mengeluarkan jurus rempongnya.
" Baru saja diperingatin, jangan mencari perhatian dan juga simpatik tuan Elvan! Awas saja dia, akan kubuat perhitungannya dengannya." Celoteh Friska dengan wajah yang sudah sangat memerah menahan amarah.
" Lu kebangetan ya Fris, bukannya kasihan lihat temen lagi kesusahan." Mila dengan menoyor kepala Friska menggunakan tangannya.
" Bukan urusan elu!" Ia beranjak dari tempatnya dan meninggalkan pertunjukan yang ada.
" Is, tu anak bener-bener. Ara kenapa ya? Huh, semoga tidak terjadi apa-apa denganmu Ara. " Memikirkan keadaan temannya yang terlihat sangat membutuhkan pertolongan dari medis.
......................
Liam melajukan mobil itu dengan begitu sangat cepat, menerobos beberapa pengguna jalan lainnya yang sedang melintas di atas jalan yang mereka lalui.
" Liam, cepat!" Teriak Elvan.
" Bangun, buka matamu!" Menepuk-nepuk pipi Ara yang semakin terasa dingin.
" Ayo buka matamu tikus kecil, jangan membuatku seperti ini!" Elvan memeluk tubuh Ara dengan begitu lekatnya, Liam melihat dari kaca pemantul. Begitu khawatirnya Elvan terhadap Ara, baru kali ini ia mendapatkan tuannya memiliki perhatian terhadap wanita.
Baru kali ini, aku melihat tuan seperti itu. Apakah benar, dia sudah berubah dan menyukai wanita? Ah, semoga saja nona Ara bisa membawa tuan menjadi lebih baik lagi hidupnya. Liam.
Setelah melewati perjalanan yang cukup memakan waktu, mereka akhirnya tiba dirumah sakit. Rara yang sebelumnya Liam hubungi untuk segera datang ke mansion, lalu ia memintanya untuk menunggu saja dirumah sakit.
" Apa yang terjadi?" Rara menyambut mereka dengan tatapan bingung dan juga khawatir.
__ADS_1
" Cepat kau periksa dia! Selamatkan dia! Selamatkan!" Elvan berteriak setelah meletakkan tubuh Ara di atas brankar.
" Liam, kau tenangkan kakak. Aku akan ke dalam dulu." Rara melihat Elvan begitu sangat terpukul, entah apa yang menyebabkannya menjadi seperti itu.
" Baik nona." Jawab Liam kepada Rara yang sudah berlari menjauh dari mereka berdua.
Tubuh Elvan luruh jatuh ke lantai didepan ruang tindakan, begitu khawatirnya ia saat melihat video dari kamera tersembunyi miliknya. Ara menemukan rahasia yang sudah ia simpan, baru kali ini ia sangat pusing memikirkannya. Biasanya, jika ada persoalan kecil atau besar. Bahkan pertarungan nyawa sekalipun, ia akan terlihat sangat tenang.
" Tuan, silahkan." Liam menawarkan air mineral kepada tuannya.
Tangan itu menerima pemberian dari Liam tanpa sepatah katapun, meneguknya habis hanya dalam sekali tegukan. Membuat Liam menaikan alisnya, banyak terjadi perubahan dalam hidup tuannya.
Sementara didalam ruangan, tampak dokter khusus yang sedang menangani Ara, sedangkan Rara. Ia hanya bisa menemaninya, karena saat itu bukan bidangnya Rara untuk menghadapi pasien.
" Dokter Rara, bisa saya bicara sebentar?" Pinta dokter Vivi.
" Iya dok."
" Pasien sudah bisa untuk dipindahkan, tolong di urus ya." Ucap Vivi kepada para asistennya yang membantu untuk menangani pasien.
Kedua dokter itu berjalan menuju sebuah ruangan, dimana ruangan itu khusus untuk prakteknya dokter Vivi.
" Silahkan duduk. "
Rara mengangguk atas ucapan dokter Vivi, sepertinya akan ada sesuatu yang sangat penting untuk mereka bicarakan.
__ADS_1
" Apa kamu ada hubungan dengan pasien tadi?" Vivi bertanya sambil meletakkan minuman dingin untuk mereka berdua.
" Hm." Rara kaget dengan perkataan Vivi yang baru saja ia lontarkan.