
" Mmm, apakah aku boleh bertanya?" Seru Ara.
" Katakan." Elvan membawa Ara untuk duduk bersama ditepian tempat tidur.
" Jika memang benar, tuan seorang ma mafia. Apakah itu artinya, nyawaku akan menjadi incaran dari orang-orang yang tidak menyukaimu?" Dengan perasaan was-was, Ara melayangkan pertanyaan kepada Elvan.
Kembali lagi Elvan tersenyum, menggenggam tangan Ara dan meletakkannya pada dadanya yang bidang.
" Sekarang, hidupmu dan juga hidup dari penerusku ini. Semuanya adalah tanggung jawabku, tidak pernah akan aku biarkan kalian dalam keadaan berbahaya. Nyawaku adalah taruhannya!" Tangan Elvan mengelus perut Ara dengan perlahan.
Tampak berpikir dengan cukup keras, Ara yang kemudian membalikkan tangannya untuk memegang kedua pipi pada wajah Elvan.
" Jangan pernah memperkenalkan kami pada duniamu, tuan. Itu sama saja, nyawamu juga dalam bahaya yang besar."
" Bagaimanapun, kalian pasti akan aku perkenalkan. Dan hal Itu tidak akan pernah terjadi, kalianlah nyawaku. Sudah, lebih baik beristirahatlah. "
" Tapi tuan,..."
" Hem, dan satu lagi. Apa tidak ada panggilan khusus untukku, sayang? Tuan adalah sebutan dikala kau masih menjadi orang biasa, tapi tidak saat ini. Kau adalah ratuku, bagaimana?" Elvan menyatukan kening keduanya bersama.
Tampak kegugupan pada diri Ara, ia tidak habis pikir dengan saat ini. Bagaimana bisa ia menjadi ratu dalam kehidupan seorang Elvan, yang sebelumnya telah menghancurkan masa depannya. Namun hati kecilnya tidak bisa menolak perubahan yang dilakukan olehnya.
" A a ku harus memanggilmu apa, tu an." Ara menarik dirinya perlahan, namun Elvan kembali menarik diri mungil itu ke dalam pelukannya.
" Menurutmu, sebutan apa yang pantas untukku?" Mengirup aroma harum dari puncak kepala Ara, aroma itu membuat dirinya larut dalam kenyamanan.
Perasaan Ara semakin tidak karuan, apalagi ditambah dengan detak jantungnya yang begiti cepat berdetak.
" Jika masih bingung, kau bisa menggunakan nama yang sering kau ucapnkan untukku selain tuan."
" Apa?!" Ara kaget dan mendorong tubuh Elvan dari dirinya.
__ADS_1
" Kenapa?" Tanya Elvan bingung.
" Eee, i itu. Apa tu, eee anda nyakin mau menggunakam sebutan itu?"
" Ya, tidak ada salahnya. Asalkan tidak dengan, tuan."
Melihat Elvan begitu serius, ada ke usilan dalam diri Ara yang terlintas.
" Oke, aku akan menggunakannya. Dan aku akan memulainya saat ini, boleh?" Seakan meminta persetujuan darinya, Elvan pun menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, monster. Aku ingin beristirahat, bisa kah kel.."
" Monster??!! Tidak, tidak. Jangan menggunakannya, aish. Sebutan apa itu, menyeramkan sekali. Ganti sayang, honey, bee, cinta, love apalah. Jangan lagi menggucapkannya." Protes Elvan dan mereka pun berakhir dengan saling tertawa.
......................
Hari demi hari, kehidupa Ara dan Elvan semakin membaik. Elvan mulai menunjukkan jika Ara adalah istrinya, baik dalam perusahaan maupun pada dunia bawah. Bahkan Ara kembali mendapatkan izin untuk meneruskan studinya, namun dengan pengawalan khusus dari orang yang sudah Elvan tunjuk.
" Jack, kamu bisa istirahat dulu. Aku akan mengerjakan beberapa tugas dan cukup memakan waktu, nanti kamu bosan."
Mendapatkan tugas khusus dari tuannya, membuat Jack harus menjadi bodyguard untuk istri seorang Elvan. Dengan berbagai pertimbangan, mengharuskan Elvan menyertakan Jack agar selalu mengawasi Ara.
Setelah beberapa waktu absen dari pelajaran yang ada, membuat Ara mendapatkan tugas sebagai pengganti ketinggalan atas tatap muka yang lalu. Ara mengerjakan tugas tersebut dengan semangat, dengan bantuan dari sahabatnya Maia. Tugas itu bisa terselesaikan dengan cepat.
" Akhirnya, selesai juga." Ara menggerakkan tubuhnya yang merasa lelah.
" Ra, kok kamu kelihatan berbeda. Apa kerjaanmu selama nggak masuk itu makan dan tidur? Kok, aku ngelihatnya aneh ya." Maia melirik tubuh Ara dari beberapa sudut.
" Aneh gimana?" Tanya Ara yang menanggapi perkataan Maia.
" Lu ..."
__ADS_1
" Lu hamil kan!" Suara seseorang yang memotong perkataan Maia tiba-tiba.
Angel, salah satu senior di universitas tersebut yang mendapat julukan princess tercantik. Ia akan selalu menjadi pembicaraan orang-orang yang mengaguminya, namun bagi yang tidak menyukainya. Mereka akan selalu mencibir dan mengunjingnya, bahkan melihatnya saja sudah membuat risih. Karena, wajah dan sikapnya sungguh sangat berbanding terbalik.
" Sepertinya, lu jadi simpanan om om tajir ya. Dulu jalan kaki, paling kalau ada duit. Naik ojek online. Dan sekarang, naik mobil. Mobil mahal lagi, apalagi kalau nggak jadi simpanan orang. Ya nggak?" Angel mencemooh Ara yang terlihat berbeda daei sebelumnya.
" Hahaha, bener sekali." Ucap jessica, antek-antek Angel.
" Yo'i, emangnya. Lu dibayar berapa sih, bisa berubah total gitu? " Lanjut Jeny, sang provokator ulung di tempat tersebut.
Mereka bertiga, merupakan anak dari orang ternama di negara dan universitas tersebut. Dengan kedudukan orangtuanya, mereka begitu angkuh dan menyepelekan orang lain yang tidak sepadan dengannya.
" Eh, jaga tu mulut ya. Cantik juga kagak, tapi mulutnya lebih parah. Pergi sana, ikut nimbrung aja." Maia yang tidak terima atas ucapan Angel pada Ara.
" Sstth, sudah Mai. Nggak usah diladenin. " Ara menarik tangan Maia.
" Kalian berdua itu sama saja, oh ya. Siapa sih yang jadiin lu simpenan? Emangnya ada ya, kasihan banget tu orang. Dapat lu yang begini bentuknya, gue kalau jadi pria. Nggak bakalan dah ngelirik lu, denger nama lu aja buat gatel di telinga gue." Jeny semakin mengolok-olok Ara, yang memang terlihat sangat berbeda.
Sebenarnya Ara merasa sangat terhina atas ucapan yang dikatakan oleh trio princess tersebut, mungkin saja itu karena perubahan hormon kehamilan pada dirinya. Matanya pun sudah mulai mengembun dan berair, namun Ara berusaha menetralkan perasaannya.
" Terima kasih atas semuanya." Ara menarik tangan Ara untuk beranjak pergi dari sana.
Perlakuan dan sikap Ara kepada trio tersebut, membuat Angel dan lainnya merasa terhina. Lalu mereka yang melihat Ara dan Maia sudah berjalan menjauh dari mereka, Angel pun mengejarnya dan menjambak rambut Ara dari arah belakang dengan sangat kuat.
" Aakh!" Teriak Ara yang merasakan sakit pada kepalanya.
" Hei! Apa yang kalian lakukan! Lepaskan!" Maia berusaha melepaskan tangan Angel dari rambut Ara.
" Dasar wanita tidak tahu diri, hei kalian semua. Sini dengar, ada berita baru! Ni anak lagi hamil, jadi simpanan om om tajir. Ayo lihatlah!" Angel begitu bersemangat mencerca Ara yang terlihat mengenaskan.
Semua orang berkumpul dan melihat aksi trio princess itu menyerang Ara dan Maia dengan sangat tidak masuk akal. Hampir semuanya ikut mencibir berita tersebut, apalagi melihat kedua orang itu diperlakukan layaknya seorang tertuduh. Bahkan mereka menyiram keduanya menggunakan air, dan disaat Jessica yang akan menyiramnya kembali.
__ADS_1
Byur!
Air itu tidak mengenai Ara maupun Maia, melainkan seorang pria yang menjadi tameng dari aksi mereka. Semua orang seakan-akan terpana dengan aksi pahlawan yang menolong.