Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
31.


__ADS_3

Malam hari, dimana semua orang sudah memejamkan matanya untuk beristirahat. Ara perlahan membuka matanya dan menyesuaikannya dengan pencahayaan yang ada, suasana serba putih membuat dirinya bingung. Merasakan tubuhnya yang masih lemah, dengan jarum infus yang menancap pada punggung tangan kanannya. Lalu ia merasaka jika bagian perutnya masih terasa sedikit nyeri.


Dimana ini? Ara


Saat matanya mengitari setiap sudut tempat tersebut, hal itu membuat dirinya sangat kaget begitu dengan sosok seseorang yang berada disisi ranjangnya.


" Kamu sudah bangun." Suara itu semakin mengagetkan Ara, bagaimana bisa pria itu yang sebelumnya sedang tidur. Kini membuka mata dan berbicara kepadanya.


Tanpa menjawabnya, Ara membalikkan tubuhnya untuk membelakangi pria itu. Namun apa daya, perutnya masih terasa begitu nyeri pada bagian bawah. Kemudian, tangan kekar itu menangkap tangan mungil miliknya.


" Jangan terlalu banyak bergerak, tubuhmu masih menyesuaikan dengan kondisi. Apa kau ingin sesuatu, minum atau yang lainnya?" Elvan menawarkan kepada Ara.


Memutar bola matanya dengan sangat malas, Ara lebih memilih memejamkan matanya daripada harus bertatapan dengan pria yang ia anggap sebagai monster pembohong. Elvan pun mengetahui jika dirinya sangat dibenci oleh Ara, dengan statusnya kini telah ketahui. Namun semuanya itu bukanlah tujuan utamanya, perasaan yang tulus serta juga jiwanya sudah memilih Ara sebagai pemiliknya. Dengan mengetahui jika Ara sedang mengandung, Elvan semakin ingin menjaga dan melindungi mereka.


Sekian lama menunggu, Ara berharap jika pria monster itu pergi dari ruangannya. Kerongkongan yang semakin kering, karena terlalu lama tidak dialiri air. Terpaksa dan juga memerlukan bantuan, pada akhirnya Ara harus berbicara pada pria yang terus menurus menatapnya.


" Aku haus, bisakah untuk memberiku segelas air?" Dengan tidak menatap wajahnya, Ara berbicara pada tatapan hampanya.


" Hem." Elvan segera mengambilkan apa yang di inginkan oleh Ara.

__ADS_1


" Ini, minumlah." Menyodorkan segelas air yang ia inginkan, Elvan tidak melepaskan tangannya dari gelas tersebut.


" Aku bisa sendiri, lepaskan gelasnya." Ara kaget ketika ia akan mengambil gelas itu, namun tertahan oleh tangan kekar milik Elvan.


" Minum saja dari sedotan itu, aku yang akan memegang gelasnya. Kau akan kesusaah jika minum sambil memegangnya." Elvan mengetahui jika Ara akan mendapatkan kesulitan jika harus minum sambil duduk, lalu ia berinisiatif.


Karena sudah terlalu haus, Ara lalu menerima saran yang diberikan oleh Elvan kepadanya. Seteguk demi seteguk, air didalam gelas mulai berkurang. Setelah selesai dengan minumnya, Ara kembali memejamkan matanya.


" Kau sudah mengetahui mengenai statusku padaku, aku harap kau tidak akan berbuat nekat. Jika itu terjadi, maka selamanya kau tidak akan bisa melihat dunia luar. Karena aku berhak atas dirimu, kamu juga harus patuh kepadaku." Perkataan Elvan sungguh membuat Ara mengkerutkan keningnya.


Apa maksud dari perkataan pria ini, ini tidak adil bagiku. Seenaknya saja dia berkata seperti itu, dasar monster. Ara.


" Apa kau bilang, menurut?!" Bentak Ara kepada Elvan yang terus menerus mencerca dirinya dengan aturan-aturan untuk dirinya.


" Setelah semua yang sudah kau lakukan selama ini padaku, dan aku masih harus patuh denganmu? Sudah gila, akh!" Berbicara dengan nada tinggi membuat perut Ara merasakan nyeri kembali.


Melihat rintihan wanitanya, Elvan langsung mengelus perut Ara perlahan. Mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat Ara terdiam membeku. Sempat beberapa waktu ia terdiam, dan disaat kesadarannya pulih.


Plak!

__ADS_1


" Singkirkan tanganmu?" Ara menepis tangan Elvan dari atas perutnya.


Bukannya marah dan membalas perlakuan Ara, Elvan malah menebarkan senyumnya yang selalu ia simpan. Hanya pada Ara, senyuman itu akan selalu ia berikan.


" Kanapa tersenyum? Dasar gila?" Gerutu Ara.


" Jaga diri kalian berdua baik-baik, disini (Elvan menunjuk perut Ara). Ada penerusku, mulai saat ini. Kalian adalah prioritasku dalam hidupku."


Sempat ragu dalam menjelaskan keadaan yang Ara alami, Elvan tidak ingin Ara menjadi stres lagi setelah mengetahui kehamilannya. Namun jika terus-terusan disembuyikan, akan bertambah buruk untuk kedapannya nanti.


" Apa kau bilang! Penerusmu?!"


" Ya, kita akan mempunyai anak. Kau saat ini sedang mengandung."


Duuarr!!


Menerima kenyataan jika dirinya sedang mengandung, seakan-akan dunia berhenti berputar. Ingin dirinya berteriak dengan sekuat-kuatnya, namun rasanya akan percuma saja.


" Aku tidak akan pernah sudi untuk mengandung benih manusia sepertimu!"

__ADS_1


__ADS_2