
Dengan pengawalan dari Jefri, Ara memenuhi ajakan dari sahabatnya Maia untuk bertemu pada salah satu mall besar di negaranya.
" Ara!!" Teriak Maia dengan begitu keras.
Orang yang bersangkutan, saat mendengar namanya disebut malah menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Tidak pernah berubah ya, kan malu di lihat banyak orang. Ni kenalin, Jefri. Dia bagian dari keluarga kami sekaligus orang kepercayaan suamiku." Ara mengenalkan Jefri kepada Maia.
" Ah benarkah? Tampan." Maia yang sedikit terpesona dengan wajah Jefri, membuat dirinya terdiam.
Jefri pun hanya memberikan tanggapan dengan menundukkan sedikit tubuhnya, sebagai tanda hormatnya. Ia tidak membalas uluran tangan Maia padanya, karena tidak ingin melupakan tugas yang dapat melenakan dirinya dari tugas utamanya, dalam menjaga istri dari tuannya.
" Tampan-tampan kok kaku amat, huh. Ayo Ara, kita mulai petualang menjelajahi setiap sudut mall ini." Maia menarik lengan Ara yang tersenyum dan membawa dirinya berlalu dihadapan Jefri.
Enak saja kaku, jika aku tidak bertugas mengamankan nona. Sudah ku tendang kau ke dunia lain, cerewet sekali. Jefri.
Kegiatan shopping tersebut dimulai dengan memasuki tokoh pakaian ternama, Maia mulai melihat-lihat model pakaian yang sedang tren saat ini. Namun, disaat Maia sedang asik memilih. Seorang pegawai toko tersebut menghampirinya, dengan bergaya jutek.
" Maaf nona, jika anda tidak berniat untuk membelinya. Tolong jangan dirusak posisi letaknya, itu akan membuat kami repot." Pegawai tersebut menatap Maia dengan sinis, ia melihat jika Maia tidak akan sanggup untuk membayar barang-barang ditoko itu.
" Ya ampun mbak, kalau nggak dilihat seperti ini (Maia meletakkan pakaian tersebut dihadapannya). Ya nggak bakal bisa tahu suka atau tidaknya, mbaknya aneh ih." Gerutu Maia saat dirinya mendapatkan perlakua yang kurang berkenan.
" Lebih baik anda masuk ke toko biasa saja nona, mereka tidak akan merasa keberatan untuk hal itu." Lagi-lagi pegawai tersebut mengucilkan Maia.
Ara yang dari awalnya memang tidak tertarik dengan pakaian, memilih duduk saja dan memperhatikan sahabatnya. Namun dirinya tidak bisa menahan lebih lama lagi, disaat sahabatnya itu mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan.
__ADS_1
" Maaf, ada apa ya?" Saat Ara menghampiri Maia dan pegawai tersebut, yang masih larut dalam perselisihannya.
" Lebih baik kita keluar saja! Nama brandnya saja yang besar, tapi sikapnya terhadap pelanggan tidak bisa sebesar namanya. Memalukan sekali!" Maia yang hendak melangkah keluar dari toko tersebut, terhalang oleh genggaman tangan Ara pada lengannya.
" Maaf nona, toko kami tidak bisa melayani customer yang hanya mengacak-acak susuna barang namun tidak berniat untuk membelinya. Bergaya saja masuk ke toko mahal, tapi nyatanya nggak pu ya uang!" Pegawai tersebut semakin meninggi.
Dengan kejadian tersebut, membuat Jefri yang dari tadi hanya berdiam diri dan mengawasi dari dekat pintu. Kini ia menghampiri kedua wanita tersebut, namun belum mengambil tindakan.
" Memangnya berapa harga pakaian itu? Apa begitu mahalnya, sehingga orang seperti kami tidak bisa membelinya?" Ara yang saat itu menggunakan pakaian biasa, membuat orang yang melihatnya menjadi berpikiran jika dia berasal dari kalangan biasa.
" Kalian ini ngotot sekali ya, lihat saja penampilan kalian berdua. Bahkan pakaian kalian tidak akan sebanding dengan harga keset kaki di toko ini!" Pegawai tersebut berteriak, sehingga mengundang perhatian banyak orang.
Tidak ingin terjadi apa-apa dengan nonanya, Jefri mengambil inisiatif untuk memberikan pelajaran kepada pegawai wanita itu. Akan tetapi, baru saja akan berjalan mendekat, tubuh Jefri sudah dihadang oleh Ara dan ia pun menggelengkan kepalanya. Mendapati hal tersebut, Jefri mengurungkan niatnya dan kembali pada posisinya semula.
" Kalau begitu, saya akan membeli semua barang di toko ini. Bisa?!" Ara tersenyum sinis kepada pegawai tersebut.
" Dasar wanita jelmaan setan! Nggak ada sopan-sopannya sama orang, gue bejek juga lu!" Maia yang saat itu semakin emosi dengan sikap pegawai tersebut.
Saat keadaan semakin genting, manager dari toko tersebut datang menghampiri keributan yang ada.
" Maaf, permisi. Ini ada apa?" Tanya manager tersebut.
Pegawai wanita itu mulai mengeluarkan kalimat-kalimat pedas yang menyudutkan Ara dan Maia, manager toko pun percaya dengan ucapan dari karyawannya.
" Saya mengerti maksud nona-nona, tapi jika itu membuat pegawai kami kerepotan untuk menyusun kembali produk yang ada. Sebaiknya anda berdua keluar dari toko kami."
__ADS_1
Maia sudah sangat emosi dengan sikap manager maupun pegawai dari toko tersebut, namun lagi-lagi Ara menghentikannya.
" Baiklah, saya dan sahabatnya saya ini akan pergi dari toko anda. Namun sebelumnya, saya akan membeli semua produk yang kalian punya. Jika kalian masih tidak percaya, kalian bisa mengeceknya." Ara menujukkan kartu kecil berwarna hitam, yang hanya dimiliki oleh beberapa orang dinegaranya.
Hanya dengan menunjukkan kartu tersebut, membuat manager dan pegawai tersebut menjadi bungkam. Bahkan orang-orang yang melihat perselisihan mereka dan juga pegawainya yang lain pun ikut terdiam.
" Tolong anda laksanakan permintaan dari nona kami! " Kali ini Jefri sudah memasang wajah dinginnya.
"Ka ka lian siapa sebenarnya?" Tanya manager dengan terbata-bata.
" Blade Company, Elvan Aristides. Nona kami adalah istri dari pemilik perusahaan tersebut, dan bersiaplah untuk kejatuhan kalian. Cepat laksanakan!" Jefri benar-benar menunjukkan jati diri dari nonanya, ia tidak bisa menerima jika nonanya dihina orang lain.
" A apa?! Ti tidak mungkin!"
" No na, maafkan kami. Maafkan kami nona, kami tidak tahu jika anda adalah istri dari tuan Elvan. Maafkan kami nona."
Manager itu langsung bersujud dihadapan kaki Ara, namun dengan sigap Ara menghindar. Ia bukanlah manusia yang gila hormat, bahkan disaat orang lain menghinanya. Kini Maia pun memberikan kalimat pedasnya.
" Jef, tolong kamu hantarkan semuanya pada orang-orang yang membutuhkan. Orang sepertiku tidak pantas untuk mengenakan pakaian semahal ini, Maia ayo. Jefri yang akan menggurusnya."
Keduanya meninggalkan toko tersebut dengan Jefri yang mengutus anak buahnya agar menggurus semuanya. Tanpa sepegetahuan Ara, ada seseorang wanita yang memperhatikan dirinya dengan begitu tajam. Orang tersebut menggeluarkan air mata yang mengalir tanpa ia sadari, dadanya terasa sesak saat melihat wajah Ara.
" Benarkah itu dia? Benarkah?" Wanita tersebut semakin terisak dalam tanggisanya, ia pun pada akhirnya mengikuti langkah Ara kemanapun itu.
Memilih untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan, Ara mengajak Maia untuk memasuki salah satu restoran yang cukup ternama dan juga mahal. Ia tidak ingin merusak citra suaminya dengan hal kecil lagi saat ini, cukup kejadian pada toko pakaian sebelumnya. Walaupun terkadang mulutnya menolak makanan dari restoran mahal, dan beralih pada makanan kaki lima yang begitu terasa mantap di lidahnya. Tak lupa ia mengajak Jefri dan anggotanya yang lain, tidak ada penolakan yang ia terima.
__ADS_1
" Arabella, itukah kamu nak."