
Hidangan untuk sarapan pagi telah selesai ditata, para maid berbaris dengan sangat rapi untuk menemani tuan mereka. Hal ini selalu wajib dilakukan, tanpa ada terkecuali.
" Hei, kenapa kau lama sekali di atas? Mau menggoda tuan ya, dasar wanita bermuka dua." Friska dengan jelasnya menampakkan jika dirinya tidak menyukai Ara.
" Seandainya kau yang membangunkan tuan, jawaban itu akan dengan mudah terjawabkan." Ara yang berbaris disamping Friska, dengan begitu malasnya memberikan balasan atas perkataannya.
" Dasar anak baru, tapi gayanya selangit. Awas saja jika kau menggoda tuanku, akan kubuat perhitungan dengam dirimu."
" Sudah-sudah, apa kalian ingin mendapatkan hukuman? Dan kau Friska, puasalah untuk berbicara kasar pada orang." Merasa jengah dengan sikap temannya, Mila pun menegurnya.
Perdebatan diantara mereka, pada akhirnya terhentikan dengan sendirinya. Disaat suara langkah kaki terdengar sedang menuruni anak tangga, kepala mereka pun seketika menunduk. Tidak ada satupun dari penghuni mansion tersebut, yang berani melihat ataupun menatap langsung wajah dari sang majikan. Terkecuali hanya satu orang, yaitu Nany.
" Selamat pagi tuan, silahkan." Nany menyambut kehadiran tuannya dengan ramah.
Namun, seperti biasa. Sikap angkuh nan sombong yang sudah terlalu melekat pada diri seorang Elvan, tidak akan dengan mudahnya sirna. Apalagi ditambah dengan tingkat percaya diri yang terlalu tinggi, membuat orang lain tidak ada bandingannya dengan dirinya.
" Silahkan menikmati sarapannya, tuan." Suara Nany memecah kesunyian diantara mereka.
Perlahan, Elvan mulai menikmati hidangan yang telah tersedia. Dimana sarapan wajib pagi hari untuk dirinya harus selalu ada, yaitu secangkir kopi hitam dan sandwich. Untuk menu makanan beratnya, akan disajikan jika tuan mereka menginginkannya.
Makanan itu, apakah bisa mengenyangkan? Perutku mulai memberikan alarm, semoga saja pria itu segera pergi. Pagi ini ada jam pak killer, kalau telat bisa habis aku. Ara.
Melihat gerak gerik Ara yang seperti orang sedang panik, Mila menyikut lengannya dengan perlahan. Mereka pun berbicara melalui bahasa tubuh, jika terdengar tuannya mereka berbicara. Maka, tamatlah riwayatnya saat itu juga.
Tak berselang lama, akhirnya Elvan menyudahi kegiatannya untuk sarapan. Berlanjut pada kegiatan rutinya untuk berangkat ke perusahaan, dimana Hugo telah menunggu dirinya.
" Selamat pagi tuan."
" Hem."
__ADS_1
Mempersilahkan tuannya untuk memasuki kendaraan yang akan mereka gunakan untuk berangkat ke perusahan, lalu ia mengemudikannya dengan kecepatan biasa .
Setelah kepergian tuannya, Ara segera membantu yang lainnya untuk membereskan peralatan yang sudah digunakan. Mendekati perempuan paruh baya tersebut, tentunya dengan maksud tersembunyi.
" Emm, Nany. Apakah aku bisa izin untuk kuliah?" Tanya Ara dengan perasaan yang ragu.
" Kuliah? Apa tuan belum menjelaskan, jika sudah berada dirumah ini. Maka tidak ada alasan lagi beraktivitas diluar."
" Untuk itu, aku belum mendapatkan penjelasan Nany. Tapi, aku mohon izinkan aku agar bisa tetap kuliah." Dengan sangat memohon serta menggunakan wajah polosnya, Ara pun berharap mendapatkan izin tersebut.
Berbagai cara yang Ara gunakan untuk meluluhkan hati Nany, pada akhirnya. Perempuan tersebut memberikan izinnya.
" Baiklah, tapi kau harus sudah berada disini . Sebelum tuan Elvan pulang, paham." Tegas Nany kepada Ara.
" Baik Nany, terima kasih banyak. Akan saya usahakan untuk pulang segera, sebelum tuan sampai dirumah. Sekali lagi terima kasih Nany, kau yang terbaik." Ara pun mencium punggung tangan wanita tersebut dengan wajah yang sangat gembiran.
" Sudah, bergegaslah. Jangan lupa untuk selalu mengaktifkan ponselmu, jika kau ingin nyawamu aman."
Atas kejadian tersebut, membuat semakin besar rasa tidak suka dari seorang Friska. Ia berpendapat, jika Ara mendapatkan perlakuan yang berbeda dari yang lainnya. Namun hal itu tidak bisa dibantah, karena Nany sendiri yang memberikan izinnya.
" Awas saja wanita itu, jangan sebut Friska jika tidak bisa memberikan pembalasan."
......................
Ketika telah sampai pada tujuan, Elvan segera turun dari kendaraannya dan masuk menuju ruangan kerja pribadi miliknya. Selama perjalanan menuju ruangannya, semua mata para karyawaan tertuju padanya. Terutama karyawaan wanita, yang begitu terpesona dengan ketampanan dari bos mereka. Begitu pula dengan karyawaan pria, mereka merasa ingin memiliki ketampanan dan kecerdasan serta kekayaan dari seorang pemimpin Blade Company tersebut.
" Lihat, bos kita sudah datang. Wah, tampan sekali. Aku mau jadi wanitanya, Ya Tuhan. Sungguh sempurnanya makhluk ciptaanMu itu, sampai-sampai mataku ini enggan untuk berkedip."
" Aku juga mau, jadi simpanannya juga tidak apa-apa."
__ADS_1
Beberapa karyawaan wanita yang terpesona, terdengar sedang membicarakan bosnya yang begitu memikat. Percakapan itu terus berlangsung hingga sosok yang sedang dibicarakan menghilang, hal itu terus terjadi setiap kali mereka melihatnya.
Setibanya Elvan didalam ruangannya, kemudian Hugo memberikan beberapa berkas yang harus diperiksa olehnya.
Brak!!
Beberapa berkas terlihat berserakan di lantai, setelah mendapatkan lemparan begitu saja dari Elvan. Mata Hugo memutar dengan sangat malas, ia sudah mengetahui arti dari hal tersebut. Perusahan yang ingin mengajukan kerjasama dengan mereka, mengirimkan proposal yang sangat buruk untuk disetujui.
Huh! Lagi dan lagi, sungguh melelahkan berdebat dengan perusahaan abal-abal. Menambah pekerjaanku saja, merepotkan sekali. Hugo.
" Kau beri peringatan untuk mereka, membuang-buang waktuku saja."
Sret!!!
Sebuah kartu yang mirip dengan sebuah card kecil, terlempar menyayat tirai jendela diruangan tersebut. Hingga membuatnya terputus menjadi dua bagian, Hugo menghela nafasnya berkali-kali.
" Akan segera saya laksanakan, tuan. Saya permisi." Sebelum menghilang dari pandangan bosnya, Hugo harus membereskan kekacauan yang terjadi.
Membuka laporan yang masuk melalui email perusahaan dan juga pribadinya, selesai dengan hal tersebut. Kembali ia memeriksa kamera pengintai dari berbagai sudut ruangan didalam gedung miliknya, bagi dirinya sungguh sangat melelahkan untuk menutupi jati dirinya yang sebenarnya dari semua orang. Disaat Elvan masih dengan alam pikirannya, sebuah bunyi notifikasi pesan dari ponsel miliknya.
" Nomor tidak diketahui? Siapa yang sudah berani menghubungiku seperti ini?"
Tidak pernah ada yang berani menghubungi nomor ponsel pribadi miliknya, terkecuali hanya orang-orang kepercayaannya. Elvan membuka dan membaca isi dari pesan singkat itu, dengan mata yang melebar dan kening berkerut.
Rupanya, kau sedang ingin bermain-main denganku tikus kecil. Baiklah, kita akan memulainya. Elvan.
" Ke ruanganku, sekarang!" Perintah Elvan disaat menghubungi Hugo melalui ponselnya, memutuskan pembicaraan sepihak tanpa harus menunggu persetujuan ataupun tanggapan dari lawan bicaranya.
Orang yang dihubungi itu pun berteriak dengan cukup keras dan jika ruangan itu tidak kedap suara, maka ia akan dikira orang sedang tidak waras.
__ADS_1
" Argh! Bisakah aku mendapatkan partner untuk mengurusi manusia batu itu! Bisa mati cepat aku seperti ini, kau memang selalu menang tuan!"
Sungguh kesalnya, Hugo harus menghadapi sikap bosnya yang selalu bertindak semaunya sendiri.