Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
48.


__ADS_3

Sudah satu bulan lamanya, Ara masih nyaman dengan tidurnya. Setelah mendapatkan penanganan yang cukup serius, Ara kini menjalani rawat jalan. Dimana Elvan memindahkan seluruh pengobatan istri dan anaknya di mansion utama miliknya, dengan mempertimbangkan keselamatan keduanya.


" Sayang, lihatlah. Ini baby, dia ternyata sangat mirip sekali denganmu. Apa kamu tidak ingin melihatnya? " Elvan yang sedang mengajak anaknya bermain sambil menemani Ara yang masih terbaring terlelap.


Anak mereka kini telah tumbuh dengan cukup baik, walaupun dalam keadaan prematur. Seluruh organ tubuhnya telah terbentuk sempurna, disaat ini Elvan sengaja membawa anaknya untuk selalu berinteraksi bersama sang ibu. Dengan beberapa saran, agar membantu perkembangan dalam proses kesembuhan Ara.


" Baby, jangan ganggu Mommy ya. Daddy mau ambil susu kamu sebentar, oke." Elvan menggambil langkah besarnya agar bisa segera kembali.


Memberikan sebotol susu yang baru saja dibawa oleh Elvan, sambil membaringkan baby mereka berdampingan dengan Mommynya. Mulutnya asik menghisap botol yang diberikan Elvan, dan tangannya bermain pada tubuh Ara. Tanpa sengaja, Elvan pun ketiduran dan terlelap, tidak tahu seberapa lama ia larut dalam tidurnya. Merasakan sesuatu yang sedang bermain pada wajahnya, yang Elvan sangka adalah ulah dari anakknya.


" Baby, kau begitu tertarik dengan wajah Daddy sangat tampan ini ya. Ah, biarkan sebentar Daddy untuk menyesuaikan mata ini. Ah, rupanya aku tertidur." Masih dalam keadaan terpejam, tangan itu masih membelai wajah Elvan.


Saat Elvan menangkap tangan tersebut, ia merasakan sesuatu keanehan. Tidak terdengar suara tangisan ataupun celoteh dari anaknya, yang biasa ia dengar saat bermain bersama. Dengan segera ia membuka matanya dan melihat ke arah tangan yang ia genggam, betapa terkejutnya ia dan lalu dengan sigap ia segera bangkit dari tidurnya.


Melihat anaknya sedang tertidur di atas tubuh Ara, lalu ia berpikir tentang tangan siapa yang ia genggam.


" Sa sayang! Be narkah ini."


Melihat wajah yang sudah ia rindukan dan satu bulan lamanya terlelap, kini mata itu terbuka dan memberikannya senyuman manis padanya.


" Bee." Ucap Ara dengan lemah.


Seakan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, Elvan langsung menghadapkan tubuhnya untuk bertatap langsung dengan Ara.


" Sayang, kamu sudah sadar? Ini benarkan." Elvna meraup kedua pipi Ara dengan tangannya.


Dengan senyumnya, Ara menganggukkan kepalanya. Bagaikan tidak percaya, Elvan memeriksa setiap inci tubuh Ara. Perasaan bahagia itu tidak dapat terbendung, tanpa ia sadari jika melupakan seseorang.


" Eegh, eak! eak!" Baby menanggis karena merasa tidak nyaman, akibat dari ulah Daddynya.


" Bee, kau membuatnya menanggis." Ara menegur Elvan yang terlalu over padanya.


Keluarga kecil itu merasakan kebahagiannya yang tak ternilai, kesadaran Ara dari tidur lamanya membuat Elvan seakan hidup kembali. Setelah separuh jiwanya sempat hilang, kini mareka membagikan kebahagian itu untuk semua penghuni mansion.


......................

__ADS_1


Dengan membawa sebuah tepak makanan di tangannya, Liam berjalan menuju suatu ruangan.


Klek!


Pintu terbuka, memperlihatkan ruangan yang cukup gelap dari cahaya. Dengan aroma yang begitu sangat menusuk hidung, Liam menghembuskan nafas dari hidungnya dengan begitu cepat.


" Ini makananmu, jika kau mati. Maka sia-sia saja kami menghidupimu sampai saat ini, patutnya kau berterima kasih padanya. Kesadaran nona Ara telah kembali, dan itu membuatnya lupa untuk memberikan hukuman untukmu." Liam meletakkan tepak berisikan makanan tersebut tak jauh dari pintu.


Berjalan dengan merambat menggunakan tangannya, Arion menghampiri Liam yang masih berdiri di ambang pintu.


" Be benarkah dia sudah sadar?" Tanya Arion akan kebenaran dari ucapan Liam padanya.


" Ya, nona kami telah sadar. "


" Ah, baguslah jika dia sudah sadar." Arion mengambil tepak makanan tersebut dan kembali pada posisi awal dia sebelum Liam datang.


" Maksudmu?!" Liam sedikit bingung dengan ucapan Arion.


" Heh, sampaikan saja pada tuanmu. Jika dia tidak bisa menjaga istrinya dengan baik, aku akan menyerangnya tanpa ampun. Pergilah."


Apa maksudnya berkata seperti itu? Apa dia juga tertarik pada nona? Aish, mau cari mati saja dia. Liam.


Membuka tepak makanan yang baru saja ia terima, Arion dengan beruraian air mata memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya dengan begitu lahap dari biasanya.


Akhirnya kau telah sadar, rasa bersalahku sesikit mereda. Kau adalah wanita pertama yang tidak menganggap diriku sebagai orang jahat, kau wanita terhebat. Tetaplah hidup dan menjadi wanita yang aku kenal dengan memiliki hati bagaikan bidadari. Arion.


Kabar tentang kesadaran Ara pun terdengar sampai ke telinga Jack, sudah kurang lebih satu bulan ia harus menangani perusahaan milik tuannya. Apalagi ditambah berbagai klien yang mencoba mencari masalah pada mereka.


Berbagai tumpukkan berkas yang menggunung tinggi di atas meja kerjanya, membuat penampilan Jack menjadi lusuh dan tidak rapi.


Klek!


" Lagi sibuk bos?" Tanya seseorang yang baru saja memasukan kepalanya dari celah pintu yang terbuka.


Mendapati suara yang cukup ia kenal, Jack mengangkat wajahnya untuk melihat siapa dari pemilik suara tersebut.

__ADS_1


" Kau." Ujar Jack.


" Ya, ini aku. Boleh masuk tidak ni, ada yang harus aku bicarakan padamu." Rara berjalan mendekati Jack, dengan membawa sebuah amplop berwarna cokelat.


" Tolong aku menganalisa isi dari bungkusan ini." Amplop itu diletakkan di atas meja kerja Jack.


" Apa ini?" Jack mengambilnya dan melihat isi dari amplop itu.


" Aku pun tidak mengerti, ada seseorang yang menghantarkannya ke mansion kakak dan menitipkannya di pos penjaga. Disaat aku datang, mereka menyerahkannya padaku. Aku tidka ingin merusak kebahagian kakak dan kakak ipar, apa kau bisa membantuku?"


Jack masih melihat semua isi dari amplop yang dibawa Rara tadi, keningnya ikut berkerut menandakan jika ia sedang berpikir dengan keras.


Apa-apaan ini? Mau neror kok pakek cara beginian, nggak tahu apa yang dihadapinya itu master masalah beginian. Jack.


" Hei! Hei! Bisa nggak?" Suara Rara dengan cukup tinggi, mendapati Jack yang melamun.


" Hei!"


Brak!


Meja itu bergetar dan banyak sekali berkas-berkas diatasnya menjadi berjatuhan, setelah Rara berhasil menggebrak meja milik Jack.


" Yiak! Kenapa kau mengagetkanku?!" Protes Jack pada Rara.


" Makanya, kalau kerja itu jangan melamun. Oranh bicara panjang kali lebar, tapi nggak ada tanggapannya." Rara menggerucutkan bibirnya kepada lawan bicaranya.


" Entahlah, aku pun baru tahu jika keluarga nona seperti ini. Bagaskara? Sebentar, sepertinya aku pernah mendengarnya. Emmm mmm." Rara pun mengikuti raut wajah Jack.


" Ahah, aku dapat. Dia adalah orang yang membuat prahara di kantor cabang, beberapa hari kemarin. Tapi, bukan nyonya Elliza yang ia bawa. Ah bre***ek tu orang,


" Jadi, dimana ibu dari kak Ara? Apa ini salah satu siasatnya untuk memeras kakakku melalui istrinya?" Emosi Rara seakan meledak.


" Sepertinya iya, tapi pekerjaanku saat ini masih banyak. Mana tuan memintanya harus terselesaikan besok pagi, malangnya nasibku. Kau cari Liam, Dion, atau Jefri. Jangan aku, kepalaku ini sudah mumet met met met nona!"


" Alah, bilang saja nggak mau bantuin. Dasar Pelit!"

__ADS_1


" Enak saja bilang pelit, matamu nggak liat apa. Salahkan kakakmu itu atas pekerjaanku ini, dasar cerewet!"


__ADS_2