
" Tidak! Bagaimana bisa seperti ini!" Alan menjadi kebingungan dengan apa yang ia dapati saat itu.
Mendengar keluhan Alan, Xavier bergegas mendekatinya. Dalam keadaan setegah sadar dari mabuknya, mendapati dan melihat sendiri serangan yang mereka lakukan. Dengan perlahan mulai melemah dan berakhir menghilang, misi mereka gagal. Namun keadaan menjadi berbalik, kali ini virus yang masuk pada jaringan mereka lebih kuat dan orang yang melakukannya sangat piawai memainkannya.
" Ti tidak, ini tidak mungkin. Cepat serang mereka kembali! Aku tidak ingin kalian gagal, cepat!" Xavier berteriak dengan sangat keras, atas apa yang ia saksikan saat itu.
Alan kembali berhadapan dengan pekerjaan yang cukup sulit, virus yang menyerang mereka sangat tidak mungkin untuk di takhlukan. Berbagai cara yang alan lakukan, namun selalu saja mengalami kegagalan untuk mempertahankan. Terlihat Xavier mulai putus asa, ia mengumpat apa saja dari mulutnya.
Namun dari tempatnya, Jack berdecak kagum dengan apa yang ia saksikan. Sempat tidak percaya, akan tetapi semua serangan dari jaringan mereka telah menghilang dan musnah. Kali ini Elvan sendiri yang turun langsung menghadapi serangan tersebut, ingin sekali Jack bertepuk tangan dan berteriak. Mengumumkan jika tuannya berhasil mengalahkan serangan dari kelompok yang menginginkan mereka jatuh, hal itu hanya menjadi angan-angan saja.
" Tutup mulut Jack! Wajahmu itu membuatku ingin sekali memenggaknya."
Mendengar hal tersebut, seketika tubuh Jack merinding.
" Tu tuan, anda ternyata menyembunyikan semuanya. Wah, ini benar-benar kejutan." Jack masih belum bisa terlepas dari rasa kagetnya.
" Apa gunanya aku menunjukkan padamu, murah sekali." Elvan masih memulihkan beberapa jaringan agar bisa kembali berfungsi, dan masih dengan keangkuhan dan sifat dinginnya.
Keadaan markas juga mulai bisa dikendalikan oleh Liam, menyusun kembali struktur jaringan yang sempat hancur terkena serangan dari musuh mereka. Disaat sedang mengatur programnya, ponsel Liam berdering. Tertera nama sang tuan pada layar utamanya, Liam pun segera menerima panggilan tersebut.
" Segera lakukan yang sudah kita susun, akut tidak ingin mendengar kegagalan lagi. Liam." Suara Elvan terdengar begitu jelas dan nyaring.
" Baik tuan, sepertinya akan ada sesuatu yang akan menyerang kita. Saya mendeteksi ada jaringan yang masih mencoba memasuko sistem milik kita, dan itu sepertinya orang lama." Liam mendapati ada satu virus yang masih bertahan, namun hal itu bisa teratasi dan dikendalikan.
Seperti sedang berpikir, Elvan mencoba menerka siapa dalang dari kejadian hari ini. Ingatannya menyelusuri kehidupannya yang sudah sangat jauh ia lupakan, banyak sekali kelompok yang menginginkan dirinya hancur. Dan satu nama orang masih begitu ia ingat dengan jelas, namum ia belum bisa menarik kesimpulan akan hal itu.
" Selidiki, jangan biarkan mereka mengacaukan lagi seperti ini." Perintah Elvan kepada Liam.
Tanpa menunggu lama, Liam langsung menggunakan keahliannya untuk menelusuri siapa dalang semuanya ini. Semua sistem telah pulih, kegiatan perusahaan pun kembali seperti biasa. Elvan dan Jack tidak ingin menunda lebih lama, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda dan setelahnya ia kembali ke mansion.
__ADS_1
Setibanya Elvan di mansion, ia telah disambut oleh wanita yang telah menjadi ratu di hatinya. Rasa lelah dan juga penat, kini berubah menjadi senyuman. Apalagi ditambah dengan gelak tawa dari baby mereka, yang kini sudah mulai berceloteh.
" Selamat datang Bee." Sambut Ara dengan mencium punggung tangan suaminya.
" Terima kasih sayang." Elvan menarik kedua belahan jiwanya itu, untuk masuk ke dalam pelukannya.
Dengan respon yang Elvan berikan, Ara dapat merasakan jika suaminya saat ini sedang dalam keadaan yang kurang baik. Ara berpendapat jika Elvan merasa lelah dan seperti ada sesuatu permasalahan yang sedang ia hadapi.
" Mbbruuu bruu buu." Suara celoteh si kecil yang masih berada dalam pelukan Daddynya.
Melepas pelukannya, senyuman Elvan semakin lebar setelah mendengar suara sang anak.
" Wah, anak Daddy rupanya sudah bisa protes ya." Elvan mencubit gemas pipi gembulnya baby, ia pun juga mengendongnya dengan sedikit permainan dari wajahnya yang ditumbuhi oleh rambut-rambit kecil pada rahangnya.
Gelak tawa baby semakin keras terdengar, hal itu mengundang Elliza dan juga Nany ikut berkumpul bersama mereka.
Pletok!
" Anakmu itu bisa tersedak karena ulah konyolmu yang tidak berfaedah, lebih baik 0ajak dia bermain di lantai." Oceh Nany kepada Elvan.
Ara dan Elliza hanya bisa tersenyum atas perbuatan Nany kepada Elvan, hal itu sudah biasa terjadi.
" Ah, Nany merusak suasana saja. Ayo baby, kita lanjutkan bermainnya di kamar saja. Sayang, jangan diam saja. " Elvan terlebih dahulu berjalan dengan membawa anaknya menuju kamar.
" Susul suamimu nak, dia sedang membutuhkan dirimu untuk menemaninya." Elliza memberikan nasehat kepada Ara.
" Benar sekali, aku menjadi pusing. Sejak anak nakal itu mulai jatuh cinta padamu, sikapnya berubah seperti anak-anak lagi. Tapi syukurlah, kau bisa lebih membimbingnya untuk menjadi lebih baik lagi. Sudah sana, nanti anak nakal itu berteriak seperti pengeras suara." Nany mengarahkan tongkatnya untuk Ara, agar segera menyusul Elvan.
" Sayang! " Terdengar suara Elvan yang sangat keras memanggil Ara.
__ADS_1
Elliza dan Nany memberikan ekpresi wajah yang menunjukkan bahwa perkataan mereka benar terjadi, memutar bola matanya dengan malas. Ara pun berpamitan dari kedua wanita tersebut, untuk menyusul suaminya yang baru saja memberikan sinyal melalui teriakan yang begitu nyaring.
" Ah anak itu, dari luar terlihat begitu dingin dan kejam. Namun tidak dari dalam lubuk hatinya, ia merupakan manusia berhati lemah lembut. Buktinya, anakmu telah menakhlukkan anak nakal itu." Jelas Nany kepada Elliza mengenai Elvan.
" Mereka berdua saling melengkapi, Nany." Ujar Elliza.
" Yah, kau benar. Beruntung sekali kedua orangtuanya, mempunyai anak seperti Ara. Ya sudah, kita lebih baik beristirahat saja. Kakiku mulai kumat untuk minta direbahkan."
" Benar, hahaha. Baiklah, Nany selalu bisa saja mencairkam suasana."
Mereka pun kembali ke dalam kamar, setelah menyaksikan kedua insan sedang dilanda cinta. Dari dalam kamar utama, Elvan dan Ara sedang menidurkan anak mereka. Namun sang Daddynya telah tertidur juga, Ara menatap wajah suaminya yang terlihat begitu letih, raut wajahnya telah menggambarkan jika perjalanan hidupnya penuh dengan berbagai rintangan dan juga perjuangan.
Baby pum tertidur, Ara membawanya untuk ditempat pada ranjang bayi yang berada dikamarnya. Kembali ia menatap wajah Elvan, membelainya dengan perlahan.
" Sayang." Suara lirih Elvan yang tersadar dari tidurnya.
" Maaf telah mengganggu tidurmu Bee." Ara merasa tidak enak telah membuat suami terbangun.
Sebelum menjawab, Elvan terlebih dahulu meraih tubuh Ara untuk berbaring bersamanya. Dengan menempatkan tubuh mungil itu ke dalam dekapannya, walaupun mata terpejam.
" Tidak ada yang perlu di maafkan, seharusnya akulah yang mengucapkan hal itu. Lebih baik beristirahatlah, kau juga pasti letih setelah menjaga dan mengurus baby seharian. "
Cup! Elvan mendaratkan kecupannya pada kening Ara.
" Kita istirahat bersama, tapi nggak ada olahraga dan namanya tawar-menawar." Ara pun menenggelamkan wajahnya pada dada Elvan yang begitu lebar.
" Tikus kecil sudah berubah menjadi macan betina rupanya."
Ara dengan sengaja menarik bulu halus yang melekat pada dada Elvan, hal itu membuatnya mengerang dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
" Arrgh! Sakit Yang." Nampak Elvan mengelus dadanya karena rasa tidak nyaman setelah Ara menariknya.
" Hahaha, kamu menggemaskan Bee."