Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
89.


__ADS_3

Baru saja ketiga perempuan tersebut selesai berbincang-bincang.


" Sayang! Sayang!"


Terdengar suara teriakan Elvan dari lantai atas yang meneriaki Ara, yang mempunyai nama hanya bisa tersenyum. Membenarkan perkataan Nany yang baru saja mereka bahas. Terlihat Elvan yang hanya menggunakan baju kaos dalaman dan celana pendeknya berlarian menuruni anak tangga.


" Bee, jangan berlarian seperti itu." Ara beranjak dari kursinya dan menghampiri Elvan.


" Sayang! Sudah aku bilang jangan jauh-jauh, huek, huek." Elvan membekap mulutnya dan berlari menuju kamar mandi terdekat.


Ara pun menyusul Elvan yang sedang mengeluarkan lagi isi perutnya, ada rasa tidak tega pada suaminya itu. Bahkan yang ia keluarkan hanyalah air saja.


" Bee."


" Ti tidak apa-apa, jangan pergi lagi tanpa sepengetahuanku. Ugh, ini rasanya sangat tidak enak." Elvan menarik Ara ke dalam pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh dari istrinya itu. Begitu terasa sangat melegakan baginya.


Benar apa yang dikatakan oleh Nany, akan lebih berat jika merawat bayi besar ini. Ara membawa Elvan untuk bergabung di meja makan, meminta kepada maid untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya.


" Kamu mau sarapan apa Bee?"


Hang Elvan berikan hanya lambaian tangan saja, jika ia sedang tidak menginginkan apa-apa. Ara hanya bisa menghembuskan nafasnya perlahan, ia tahu bagaimana tersiksanya saat mengalami morning sickness itu.


Memberikan teh hangat dan membantu suaminya itu untuk meminumnya, agar bisa membantu memberikan rasa lega pada saat perutnya sedang tidak enak seperti ini. Elliza pun mengajak Nany untuk selesai terlebih dahulu dan beranjak dari sana, mereka tidak ingin merusak momen dimana Elvan menjadi bayi besarnya Ara.


" Lebih baik, kita istirahat di kamar saja ya. " Ajak ara kepada Elvan, ia tidak tega melihat suaminya itu begitu lemah.

__ADS_1


" Ah itu sangat baik sayang, akan lebih baik jika sambil berolahraga. Iya kan sayang, oke." Walaupun wajahnya tampak lemah, Elvan masih menyimpan stock rayuan untuk Ara.


Tak!


" Awww, sakit Yang." Elvan mengelus keningnya yang terkena sentilan dari tangan Ara.


Berjalan begitu saja meninggalkan Elvan yang masih mengelus keningnya, Ara sudah tak tahu lagi bagaimana menghadapi sikap suaminya yang super dingin menjadi pecicilan.


" Sayang tunggu! Masa ditingalin sendirian, hei tunggu!"


Bergegas menyusul Ara yang sudah terlebih dahulu menaiki anak tangga, kelakuan Elvan itu disaksikan sendiri oleh orang-orangnya. Bahkan ia tidak menyadari jika mereka sedang berada di mansionnya, sungguh memalukan jika ia menyadarinya dari awal.


" Gila! Itu si beruang kutub, kenapa jadi anak kucing ya, aneh." Ujar Liam yang sedang menikmati teh hangatnya.


" Wah, itu bukan tuan gua dah. Malu-maluin sekali, masa kelakuan leader kita kayak gitu. " Azura ikut menyinyir Elvan.


Semua tatapan tertuju kepada Jefri, memang tu anak tidak pernah mau mencari masalah. Apalagi bersama tuannya, yang ada jantungnya bisa berhenti duluan daripada terkena amukan dari tuannya.


......................


Sedangkan dua pria yang kini sedang menghadapi beberapa berkas yang sudah harus selesai dan ada beberapa acara untuk bertemu klien pentingnya, mereka saling merutuki satu sama lain.


" Kau saja yang bertemu klien, aku yang mengurus rapat." Jack melemparkan sebgaian tugas yang ada kepada rekannya.


" Jangan seenak jidatmu sendiri, itu tugasmu. Jangan kau limpahkan kepadaku, jika tidak suka. Protes sama tuan, jangan kepadaku." Kalimat yang Hugo katakan begitu tegas.

__ADS_1


Mengerucutkan bibirnya, Jack tahu jika dirinya tidak akan pernah bisa menang untuk melawan Hugo. Kini ia sudah pasrah dengan tugasnya.


" Kenapa juga tuan mendadak begini, tidak biasanya. Huh, bisa gundul kepalaku ini." Rutuk Jack sembari menyiapkan berkas-berkas yang akan ia bawa untuk bertemu dengan klien.


Namun Hugo tidak menanggapi celotehan rekannya itu, Hugo memang akan selalu dingin dengan hal-hal yang seharusnya bisa teratasi dengan mudah, namun dibuat sulit.


" Sudah waktunya, kau sebaiknya hubungi klien itu sebelumnya. Biar tidak ada kesalahan dalam waktu, ingat. Kali ini, kita adalah yang memimpin dalam urusan dan bukan pendamping. Kau mengerti akan maksud dari perkataanku bukan?"


" Iya kau mengerti, huh. Jika aku tidak mendapatkan proyeknya, habislah aku." Jack menepuk keningnya dengan menggunakan berkas yang berada di tangannya saat itu.


" Cerdas, bye." Hugo berjalan meninggalkan Jack begitu saja.


Sepeninggalan Hugo, Jack pun merapikan berkasnya dan bergegas menuju tempat yang sudah ia sepakati bersama kliennya. Satu persatu klien yang ia temui, menyetujui kerjasama dengan perusahaan mereka, Blade Company. Karena mereka sangat percaya dengan kualitas dan jamina yang diberikan oleh perusahaan tersebut, apalagi perusahaan itu dibawah pimpinan seorang Elvan.


" Satu lagi, semangat Jack." Pertemuan yang terakhir, menuntun langkah lakinya menuju sebuah cafe yang cukup ternama.


Jack memasuki cafe itu dengan semangat yang cukup besar, karena ia mengira itu adalah pekerjaannya yang terakhir untuk hari ini. Melihat dua orang yang sudah duduk pada ruangan khusus, namun ia tidak bisa melihat wajah keduanya dengan cukup jelas. Karena terhalang oleh kaca yang melindungi ruangan tersebut dan satu dari mereka membelakanginya.


" Selamat datang, silahkan duduk." Sapa orang tersebut saat melihat Jack sudah memasuki ruangan.


" Terima kasih atas sambutannya tuan."


Langkah itu akan sampai pada sofa yang akan ia duduki, namun langkah itu terhenti disaat orang yang bersama dengan klienya itu menampakkan wajahnya.


" Kau!" Sontak saja kedua mata Jack membesar dan raut wajahnya berubah dingin.

__ADS_1


" Ya, ini aku. Selamat berjumpa lagi, Jack."


__ADS_2