
Byur!
Air itu tidak mengenai Ara maupun Maia, melainkan seorang pria yang menjadi tameng dari aksi mereka. Semua orang seakan-akan terpana dengan aksi pahlawan yang menolong.
" Deon!" Ucap trio princess yang tidak menduga.
Deon adalah seorang mahasiswa populer di universitas tersebut, tidak hanya populer. Namun ia terkenal dengan ketampanan dan juga kecerdasaannya dalam ilmu pengetahuan. Sikapnya yang ramah, membuat banyak perempuan menaruh hari padanya.
" Kalian tidak apa-apa?" Memberikan tangannya untuk membantu Ara dan juga Maia.
" Hei, jangan bantu mereka!" Teriak Angel kepada Deon yang akan membantu Ara dan Maia.
Namun Deon tetap melakukannya dan memberikan tatapan tajam kepada Angel, disaat Ara akan menyambut tangannya, dengan sangat cepat tubuh Ara telah berdiri dengan sempurna.
" Maafkan saya terlambat, nona." Jack membungkukkan tubuhnya, meminta maaf akan kelalaiannya dalam menjaga Ara.
" Ee, tidak apa-apa jack. Terima kasih."
" Sebaiknya, anda segera masuk ke dalam mobil nona. Tuan meminta anda segera menemuinya."
" Hah! Aduh, kau melaporkannya Jack?" Tanya Ara yang seakan tahu akan konsekuensi dari kejadian tadi. Dan hanya anggukkan kepala yang Jack berikan.
" Ra, siapa dia?" Tanya Maia yang merasa heran dengan kedatangan dan juga ucapan Jack pada Ara.
" Huh! Baiklah, Mai. Kamu ikut bareng aku ya, nanti akan aku jelaskan."
Maia mengikuti langkah kaki Ara untuk menjauh dari keramaian dan memasuki mobil yang sudah menunggu mereka, menunggu kedatangan Jack yang masih mengatasi kegaduhan yang ada. Namun, lagi-lagi Ara dikagetkan dengan kedatangan Deon yang memasuki mobil pada bagian kemudi.
" Deon?!" Ara dan Membeo bersama.
Tak berselang lama, Jack memasuki kursi disamping kemudi. Hal itu semakin membuat Ara bingung, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Drrttt..
__ADS_1
" Hallo tuan." Jack menerima panggilan dari ponsel miliknya.
" Nona, tuan ingin bicara." Jack menyerahkan ponsel miliknya kepada Ara, namun belum sampai ponsel itu berpindah tangan.
" Argh!" Ara meremas perutnya yang merasa begitu teramat sakit.
" Ara! Kamu kenapa?" Maia tampak panjk melihat sahabatnya tiba-tiba mengeluh sakit.
" Nona!" Jack dan Deon bersamaan.
" Sa sakit! Argh, sa kit!" Suara Ara terdengar sangat lirih.
" Darah!" Maia sangat tekejut melihat ada aliran darah yang mengalir dari celah kaki Ara.
" Rumah sakit, Deon!" Bentak Jack pada Deon yang langsung memutar kemudinya.
Dari balik ponsel yang masih aktif, Elvan mendengar suara rintihan Ara yang membuat amarah dalam dirinya seketika meledak.
" Tuan! Nona!"..
Nyawa Jack seakan-akan langsung terbang dari raganya, setelah mendengar ucapan dari tuannya. Sementara itu, Ara semakin merintih atas rasa sakitnya. Maia berusaha memberikan pertolongan, namun ia bingung harus melakukan apa. Semakin lama, kesadaran Ara mulai menurun dan tidak sadarkan diri. Deon semakin menekan kecepatan mobilnya untuk segera tiba dirumah sakit.
Flashback On.
Setelah menghantarkan Ara di kampusnya, Elvan meneruskan perjalanannya untuk bekerja. Setibanya ia di perusahaan dan memulai mengerjakaan beberapa berkas yang berada di atas meja kerjanya, akan tetapi. Pikirannya selalu terbayang akan istrinya, efek dari mengizinkannya untuk bertemu dengan banyak orang.
" Sedang apa dia? Lebih baik aku telfon saja." Baru saja berpisah beberapa jam, membuat Elvan merindukan istri mungilnya.
Satu kali panggilan tidak terjawab, dua panggilan tak terjawab, tiga panggilan tak terjawab. Elvan melempar ponselnya ke atas meja begitu saja, menimbulkan suara yang keras atas lemparan tersebut.
Kemana dia? Kenapa tidak menjawab telfon dariku? Pasti dia sedang bersendau gurau dengan laki-laki, akh! Sial, kenapa aku mengizinkannya untuk kuliah lagi. Elvan.
Mengambil kembali ponsel yang ia lempar sebelumnya, mencari kontak Jack dan segera menghubunginya.
__ADS_1
" Hallo tu..."
"Dimana istriku?!" Perkataan Elvan sangat tegas.
" Em, nona sedang berada di perpustakaan dengan temannya Maia tuan. " Jelas Jack.
" Kenapa dia tidak menjawab telfonku? Berikan ponselmu padanya. Cepat!"
Mati aku! Jack.
" Sa saya di dalam mobil tuan, nona meminta saya u..."
" Aku menyuruhmu menjaganya, Jack! " Maki Elvan.
Bergegas Jack dengan berlarian menuju tempat, dimana ia meninggalkan Ara. Dari kejauhan ia melihat kumpulan orang-orang yang sangat ramai, terdengar bisik-bisik ada yang menyebutkan nama Ara. Benar saja, setelah ia menerobos kumpulan tersebut, terlihat rekannya sudah menjadi tameng pelindung nonanya.
Flashback off.
Mendengar teriakan Ara yang begitu jelas ditelinganya, Elvan bergegas meninggalkan ruangannya. Semua karyawan melihat bos mereka berlarian, yang baru saja keluar dari perusahaan dan menaiki mobilnya sendiri.
" Itu tuan Elvan kak? Ada apa ya, kok terlihat begitu serius." Salah satu karyawan bergumam.
" Mungkin ada pertemuan mendadak kali, duh tampannya. "
" Ngayal terus."
" Kan ngayal nggak bayar, tuan Elvan juga nggak tahu kalau banyak di hayalin oleh para wanita-wanita. Beruntung sekali yang menjadi wanitanya." Mereka pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dalam perjalanannya, Elvan kembali menghubungi Jack. Ingin memastikan keadaan Ara setelah kecerobohan Jack, menelfonnya kembali dan mengharapkan keadaan istrinya akan baik-baik saja. Namum semuanya sirna, disaat telinga Elvan mendengar suara rintihan yang sangat ia kenali. Rasa khawatir itu sudah berubah menjadi ketakutan yang sangat besar, ditambah dengan perkataan ada darah yang mengalir dari celah kakinya. Kecepatan mobil yang ia kendarai, membawa Elvan terlebih dahulu sampai dirumah sakit. Dengan penuh rasa frustasi, ia menunggu. Kehadiran Elvan disana menjadi pusat perhatian banyak orang, dengan wajah yang begitu menyeramkan. Ia menggebrak kap mobil miliknya sampai menjadi penyok, keamanan disana tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sangat mengetahui siapa Elvan.
Cciitt..
Suara gesekan dari ban mobil yang baru saja tiba, membuat semua orang kaget. Kack dan Deon segera turun dari mobil, dimana Elvan yang sudah menghampiri mereka dan segera membuka pintu dibagian penumpang.
__ADS_1
" Sayang!" Meraih tubuh Ara segera dan membawa menuju ruang gawat darurat.
Maia yang melihat kehadiran Elvan dan membawa Ara, hal itu cukup membuatnya sangat kaget. Deon yang melihat Maia terdiam, menegur dan mengajaknya untuk ikut bergabung bersama mereka.