
Peristiwa penembakan yang terjadi pada Elvan, kini pria bertubuh kekar itu terbaring tak berdaya dia atas tempat tidur ruangan yang serba putih. Sedangkan untuk keluarga yang lainnya, berada di mansion. Ara tidak ingin, dihari kebahagian kedua orangtuanya semakin larut dalam kesedihan. Dan kini, hanya Ada Ara dan putera sulungnya yang ikut menemani.
" Bee, cepat bangun ya. Jangan lama-lama tidurnya, aku dan anak-anak sangat merindukanmu." Ara dengan setianya mendampingi dna menemani Elvan.
Dengan Dua luka tembakan dan satu tusukan senjata tajam, membuat tubuhnya ambruk tak berdaya. Namun anehnya, jika mendapati salah satu anggota keluarga yang terkena musibah. Haln itu akan membuat anggota keluarga yang lainnya juga panik, namun tidak untuk saat ini.
" Ezra, kenapa tidak pulang saja nak? Ada nenek dan kakek di mansion. Disini, kamu nggak akan bisa istirahat dengan nyaman." Belai tangan Ara pada puncak kepala sang anak.
" Tidak apa-apa Mom, Ezra mau nemenin Mommy disini sambil jaga Daddy. Lagian, nenek sama kakek bisa jagain adek." Ezra asik mengotak-atik ponsel di tangannya.
" Kenaoa begitu, kamu mau ikut jaga Daddy?" Tanya Ara.
" Betul sekali, dan tentunya Ezra juga akan menjaga Mommy dari hal-hal seperti kemarin. "
Merasa terharu, Ara memeluk puteranya yang sangat menggemaskan. Namun, tiba-tiba saja Ezra memberikan ucapan yang membuat Ara mengkerutkan keningnya.
" Mom, apakah Mommy ingin sesuatu pertunjukan yang sangat bagus?"
" Pertunjukkan?"
" Ya, akan Ezra tunjukkan agar Mommy tidak khawatir lagi. Mau?"
Ara memiringkan kepalanya sebagai tanda kebingungan atas ucapan yang Ezra berikan, namun pada akhirnya ia menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.
Flashback on.
" Paman, apakah paman yakin jika Daddy benar-benar pingsan?" Tanya Ezra pada Hugo yang saat itu sedang berjaga didekatnya.
" Seperti yang anda lihat, tuan muda. Tuan Elvan mungkin sudah terlalu lelah." Jawab Hugo yang tidak ingin melanjutkan percakapannya bersama Ezra, karena ia tahu jika isi otak dari anak tuannya itu akan sangat bercabang-cabang dan tidak ada finishnya.
" Paman payah, coba lihat mata Daddy paman. Deru nafasnya juga berbeda, paman mau buktinya?"
Hugo menyenggol lengan Jack dan juga Dion, bahkan mereka bertiga mengkerutkan dahinya. Melihat tuan mudanya berjalan menghampiri Elvan, sedangkan yang lainnya sedang berada diruang lainnya untuk beristirahat sejenak. Dengan tanpa beban dan bagaikan tanoa dosa, Ezra menekan kasa yang menutupi luka tembak pada tubuh Elvan.
" Tuan muda, jangan!" Teriak ketiganya untuk mencegah perbuatan Ezra.
Terlambat, tangan kecil itu sudah melakukan aksinya.
Srut!!
__ADS_1
" Akh!" Teriak pasien yang langsung berubah posisi dari berbaring menjadi duduk.
" Tuan!!" Kembali lagi ketiganya berubah respon dan melebarkan bola matanya.
Hal itu membuat pasien terbangun dan mengancam akan memberikan hukuman jika rahasia ini sampai diketahui oleh orang lain, selain dari mereka. Pria kecil itu tertawa dengan sangat puas, sampai-sampai Hugo, Jack dan Dion tersenyum kecut.
Flashback off.
Tubuh mungil itu semakin mendekati dimana Elvan sedang terbaring tudak sadarkan diri, senyum seringai yang Ezra tampakkan sangat memberikan arti besar.
" Ezra!" Ara melebarkan bola matanya saat melihat anakknya menyentuh luka yang terdapat pada tubuh Elvan.
Ssstttthh...
Gerakan satu jari yang diberikan Ezra kepada Ara, menandakan untuk tidak berisik.
Ssruutt!!
Ssruutt!!
Dua kali tangan kecil itu menekan luka tembak dihadapannya, namun tidak ada respon apapun yang diberikan oleh Elvan.
Mencabut selang kecil dari botol berisikan air jernih yang berada pada salah satu tiang besi disana, membuka kasa yang menutupi luka tersebut.
Tes.
Tes.
Tes.
Menunggu untuk beberapa saat, pada akhirnya...
" Ssshhhh, Ezra!!" Suara serak itu terdengar begitu menyeramkan.
Dalam keheningkan, Ara terdiam menatap kedua sosok pria dihadapannya saat itu. Ingin rasanya Ara berteriak bahagia, karena suaminya telah sadar dan terlihat baik-baik saja. Namun, di salah satu sisi lainnya.
" Bagaimana Mom, pertunjukan yang sangat bagus bukan." Senyum renyah Ezra menatap sang Mommy.
" Tu tunggu! i i ni tidak seperti yang kamu pikirkan sayang." Elvan tampak buru-buru turun dari tempat tidur tersebut dan berjalan mendekati Ara.
__ADS_1
" Sayang, aku akan menjelaskannya. Jangan percaya dengan Ezra, aku benar-benar dalam keadaan kritis saat itu. Hanya saja, aku sudah sadar terlebih dahulu sebelum kamu mengetahuinya. Maafkan aku, sayang." Perkataan Elvan mensyaratkan jika saat itu, ia benar-benar takut pada respon Ara.
Sangat tidak dibayangkan oleh Elvan saat melihat wajah Ara yang sangat dingin, tanpa ekpresi apapun. Ia memeluk tubuh wanita yang sangat ia cintai dengan begitu hangat, berharap tidak akan mendapatkan hal yang buruk pada akhirnya.
Deg.
Deg.
Deg.
Tanpa balasan dari pelukan yang ia berikan, terasa deru nafas Ara yang berhembus sangat cepat. Elvan merasakan akan terjadi sesuatu yang cukup menengangkan.
" Sayang, maafkan aku." Elvan menatap dengan sendu pada Ara, berharap tidak akan ada hukuman untuk dirinya.
Dari kejauhan, Ezra menyeringai penuh kemenangan. Perlahan namun pasti, Ara mulai membalas tatapan Elvan pada dirinya.
" Mau jadi artis kamu Bee, berakting untuk semuanya ini. Nggak lucu!"
Menggeser tubuh kekar itu kesamping dan meraih tangan puteranya, lalu membawanya berjalan menuju pintu keluar.
" Tunggu sayang! Mau kemana, kita pulangnya bersama-sama." Celoteh Elvan yang masih berharap Ara tidak akan marah.
" Pulang sendiri! Ayo Ezra, Mommy pusing."
" Baik Mom."
Mengikuti langkah Ara dalam membawanya, sebelum benar-benar keluar dari ruang perawatan tersebut Ezra membalikkan tubuhnya sebagian dan menjulurkan lidahnya pada Elvan.
" Sh***!!!" Mengacak-acak rambutnya dengan kasar, Elvan merutuki kebo***hannya kali ini.
Ketika berada diparkiran, Dion yang masih berada disana. Sangat bingung melihat nonanya mengandeng Ezra dengan sangat terburu-buru, membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Dion pun segera mengikuti masuk ke dalam mobil, namun ia kembali dikaget kan saat melihat tuannya yang masih menggunakan pakaian rumah sakit berlari mendekati mereka.
" Jangan buka, Dion. Jalan saja, biarkan dia pulanh sendiri!" Tegas Ara yang mendapati Elvan membuka pintu mobil.
" Eh.." Dion tampak begitu bingung.
" Jalan saja paman, Daddy sedang dihukum." Ujar Ezra.
Ow ow ow, ternyata. Sorry tuan, kali ini aku berpihak pada nona. Dion.
__ADS_1
Suara mesin mobil telah terdengar, Elvan terus berusaha untuk membuka pintu mobil dan mengetuk-ngetuk kacanya. Namun mobil itu tetap berjalan dan menjauh.