
Selama perjalanan menuju ke sekolahnya, tidak ada percakapan apapun diantara Ezra dan Dion. Keduanya hanya saling membuang tatapannya ke arah depan, situasi seperti inilah yang Ezra ingikan. Jika ia bersama dengan Hugo, maka situasi tersebut dipenuhi dengan dialog apa saja yang dilontarkan oleh asisten dari Daddynya itu. Setibanya mereka disekolah, seperti biasanya akan ada banyak para orangtua siswa yang ikut menghantarkan anak-anaknya sampai pada pintu masuk.
" Silahkan tuan muda." Dion membuka kunci dari mobil yang mereka kendarai.
" Terima kasih paman."
Hanya anggukan kepala yang Dion berikan sebagai jawaban dari perkataan Ezra, ia tahu jika anak dari tuannya itu tidak seperti anak-anak lainnya. Ezra berjalan memasuki bangunan tersebut dengan tanpa menghiraukan orang lain yang berada disekitarnya, layaknya orang dewasa yang berjalan.
Mengikuti pelajaran seperti anak seusianya, namun bagi Ezra semuanya itu sangatlah menjenuhkan. Baginya pelajaran yang ia ikuti saat ini adalah sebuah permainan saja, tidak ada kesannya. Tiba saatnya jam istirahat, semuanya segera berlarian untuk bermain, namun berbeda dengan Ezra. Ia akan memilih tempat yang sejuk untuk berdiam diri, pernah ia hanya berada di dalam kelas dan itu malah mengundang pertanyaan dari sang guru.
" Ezra! Ayo ikut bermain." Ajakan dari seorang temannya.
Bukan jawaban yang ia berikan, namun hanyalah gelengan kepala saja. Kaki kecil itu terus melangkah mencari tempat yang menurutnya adalah tempat ternyaman, namun langkah itu terhenti tatkala ia mendapatkan beberapa teman laki-lakinya sudah berbaris untuk menghadang laju kakinya dan tangannya bertolak pingang.
" Hei anak sombong! Mau kemana kau, hah?!" Ujar seorang anak yang bernama Justin.
Justin merupakan anak salah satu pemegang saham terbesar nomor dua disekolah tersebut, ayahnya juga pemilik perusahaan yang cukup terkenal dinegara mereka.
Akan tetapi Ezra terus berjalan melewati barisan teman-temannya yang berusaha menghadang dirinya, dengan sikap tenangnya ia menghindar dari ulah teman-temannya. Bari saja beberapa langkah ia melewati barisan itu, ada sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Puk!
Sebuah batu kerikil kecil menghantam kepala bagian belakangnya.
" Hahaha, kalian lihat! Anak batu itu tidak akan pernah membalas jika sesama batu yang menghantamnya." Ejek Justin kepada Ezra.
Teman-temannya yang lain juga ikut mencemooh sikap Ezra, yang begitu pendiam dan tidak pernah memberikan perlawanan atas apa yang dilakukan oleh teman-temannya. Ia terus melangkahkan kakinya menuju tempat yang ia inginkan sebelumnya, ia tidak menghiraukan yang lainnya.
__ADS_1
Puk!
Kembali lagi Justin dan lainnya melemparkan batu kerikil dalam ukuran kecil kepadanya, dan kali ini salah satu batu iu mengenai kening Ezra yang menyebabkannya terluka.
" Gawat!" Ujar salah satu dari mereka saat melihat kening Ezra mengeluarkan cairan berwarna merah.
" Gawat kenapa? Anak itu tidak akan pernah dan tidak akan bisa untuk membalasnya. Lihat saja." Dengan penuh percaya diri, Justin mengatakan hal tersebut kepada teman-temannya.
Mendengar perkataan dari Justin yang merupakan ketua dari geng mereka, akhirnya semuanya seakan merasa aman. Dikarenakan tempat tersebut cukup sepi dan jarang sekali siswa lainnya yang melewati maupun bermain disana, Justin sekaan berkuasa dan bebas melakukan apa saja semaunya.
Tangan Ezra mengusap cairan yang mengalir dari keningnya, mata melihat warna dari cairan tersebut. Tidak ada keluhan sedikitpun yang keluar dari mulutnya, akan tetapi ia memutarkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Justin dan lainnya. Dengan tatapannya yang tertuju pada Justin, membuat Justin dan lainnya tiba-tiba saja merasakan suasana yang membuat mereka menjadi merinding.
Kedua telapak tangan Ezra kini berasa di dalam saku celananya, ia berjalan perlahan mendekati Justin. Semuanya bertahan masih dengan membentuk pembatas saat Ezra mendekat, namun semuanya itu berubah disaat Ezra memberikan tanggapannya atas ulah dari temannya tersebut.
Srath!
Sebuah hal yang mengejutkan terjadi, membuat teman-temannya itu berlari kocar kacir tak tentu arah. Mereka berlari kemana pun arahnya, namun tidak untuk Justin. Ia kini terduduk jatuh ke tanah dengan posisi bokong yang terhempas, lalu terdengarlah suara rintihan yang keluar dari mulutnya.
" Aakh, sakit! Akh!" Erang Justin sambil memegangi keningnya dan berlari menjauh dari Ezra.
Melihat Justin yang sudah berlari dan menghilang dari pandangannya, membuat Ezra berdengus kesal. Batu kerikil yang menghantam kening Ezra, kini ia kembalikan. Batu tersebut Ezra letakkan pada telapak tangannya yang kemudia tabrakan di kening Justin dan menekannya, hingg batu kerikil itu bersarang pada keningnya Justin.
" Hufh! Bakalan panjang ni."
Setelah kejadian tersebut yang membuat moodnya hancur, Ezra tidak melanjutkan langkahnya lagi. Ia memilih untuk berbalik arah dan kembali ke dalam kelasnya, mempersiapkan diri untuk menghadapi hasil dari peristiwa yang ia alami. Dan benar saja, tak lama ia duduk di dalam kelas.
" Ez, bakalan rame ni." Ujar Arya, teman sekaligus sahabat Ezra semenjak ia berada di dalam kelompom bermain hingha saat ini.
__ADS_1
" Biarkan saja." Begitu tenangnya Ezra menjawabnya.
" Hahaha, aku percaya padamu Ez." Bergaya mengacungkan jemarinya seperti menembak ke arah Ezra, Arya sangat yakin akan sahabatnya itu.
Dari arah pintu kelas berlarilah seorang anak laki-laki yang tak lain adalah Marlon menghampiri Ezra dan Arya, nafas yang masih engos-engosan.
" Hosh hosh, nggak ngajak-ngajak lu Ez. Hosh hosh, kalau tahu dia bakalan lu kasih pelajaran."
" Bilang saja lu mau teriak-teriak kayak pemandu sorak, bukan malah bantuin." Balas Arya.
" Ya ampun Ar, nggak usah terlalu jujur napa. Bikin malu aja ni anak, Ez. Lu bakalan berurusan panjang sama tu anak, tadi aku lihat dia di ruang kepala sekolah dan orangtuanya datang tuh." Jelas Marlon menyampaikan apa yang ia lihat.
Seperti sedia kala, wajah Ezra tidak ada respon apa pun mengenai laporan dari Marlon kepadanya. Ketika Arya dan Marlon saling beradu argumen, masuklah seorang guru bernama Clara.
" Ezra, ikut ibu ke ruang kepala sekolah sekarang."
Begitu cepatnya, Ezra mengikuti saja perkataan dari gurunya tersebut. Ia sudah sangat malas jika harus berurusan dengan pihak sekolah, pasti akan ribet. Kedua sahabatnua hanya bisa melepas Ezra dengan senyuman, mereka berdua sudah mengetahui siapa pun yang akan berurusan dengan orangtua sahabatnya itu pasti tidak akan pernah menang. Apalagi saat mereka mengetahui siapa yang menjadi ayahnya seorang Ezra.
" Papi, Mami! Itu orangnya yang sudah melukai Justin!" Teriakan itu bermula saat melihat Ezra memasuki ruangan dimana Justin dan kedua orangtuanya berada.
Kedatangan Ezra langsung disambut dengan tamparan dari Mami Justin.
Plak!
Plak!
Kedua tangan Mami Justin, yaitu Olivia berhasil menyentuh kedua pipi Ezra. Ia begitu murka saat melihat Ezra, begitu juga pada James. Papinya Justin juga menoyor kepala Ezra, yang hampir saja membuat Ezra hilang keseimbangan.
__ADS_1