
Setelah puas menghardik kakaknya, Rara pergi meninggalkan semua orang yang masih menunggu disana.
" Ti ti dak, i i ni ti dak mungkin." Tubuh Elvan mundur dan menghantam dinding, ia berteriak dengan lantang tentang keadaan istrinya.
Liam bersama yang lainnya menghampiri Elvan, yang dimana tuan mereka mengalami shock atas keadaan istrinya.
......................
Disaat sedang berkutat dengan berbagai permasalahan pekerjaannya, Xavier sudah tidak ingin lagi untuk meneruskan perkembangan perusahaannya. Pendapatan yang menurun drastis dan juga banyak investor yang sudah menarik saham mereka dari perusahaannya, dan kini. Ia hanya ingin melakukan pembalasan kepada orang yang membuat keadaannya seperti ini.
" Permisi bos, ini laporan yang anda inginkan." Alan menyerahkan beberapa berkas penting yang diminta Xavier sebelumnya.
Menerima dan membaca berkas tersebut, berbagai ekpresi wajah yang diberikan. Dari tertawa sendiri hingga mengumpatnya, entah apa yang ada di dalam pikiran Xavier saat itu. Kini perusahaannya sudah di ambang kehancuran, berniat hanya untuk meraih keuntungan sepihak. Namun semuanya berakhir dengan kehancuran, bahkan kerugian yang ia alami cukup begitu besar. Lalu berkas-berkas tersebut ia lempar begitu saja, kedua tangannya memijat kepalanya yang sudah sangat berat dan berasa ingin pecah.
Tok tok tok...
Seorang bawahan dari mereka memasuki ruangan Xavier, dengan badan setengah mendunduk ia menghadap bosnya.
" Bos, wanita itu tertangkap." Ujar bawahan tersebut kepada bosnya.
Xavier berdiri dari duduknya dan menghampiri bawahannya itu, dengan kedua tangannya yang berada di dalam saku celananya. Xavier lalu mendudukkan kembali bo***nya di atas meja yang menghadap bawahannya.
" Heh, sudah bisa kuduga. Dia memang tidak akan pernah bisa menyelesaikan satu pekerjaannya, sia-sia saja aku memberikannya kesempatan." Begitu dingin Xavier menanggapi perkataan sang bawahannya.
__ADS_1
" Benar bos, sekarang wanita itu sudah menjadi tawanan mereka. Namun sebelum ia tertangkap, wanita itu sempat melukai istri dari rival anda, sepertinya luka yang ia berikan cukup parah bos. Racun tersebut diletakkan pada senjata itu, merupakan racun yang cukup mematikan. " Bawahan itu dengan sangat tegas menyampaikan berita yang ia dapatkan kepada bosnya.
" Benarkah?! Ternyata dia bisa memanfaatkan kesempatan itu, walaupun gagal. Alan, kau atur semuanya, saatnya kita akan memulainya. Kali ini aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, sudah cukup lama aku harus menunggu waktu yang tepat." Dengan seringainya, Xavier ingin secepatnya melampiaskan semua kemarahannya.
" Baik bos, semuanya sudah kita persiapkan." Alan pun sangat puas dengan mendengar ucapan yang bosnya katakan, karena ia juga sudah sangat lama menunggu momen ini.
Tanpa menunggu lama, Xavier dan Alan segera menjalankan rencana mereka. Mereka memulai apa yang sudah direncanakan sejak lama, Xavier melakukannya disaat semua inti dari keluarga rivalnya sedang sibuk mengurus istri Elvan yang tengah berada hidup dan mati.
Di salah satu tempat lainnya, seseorang yang baru saja mendapatkan informasi tentang penyerangan yang terjadi pada mansion seorang leader.
" Tuan!" Dengan nafas yang masih berburu, seorang bawahan datang menghampiri pria tersebut.
Pria tersebut adalah Arion, ia yang saat itu tengah bersantai di tempat barunya. Setelah lolos dari kejaran kelompok yang diketuai oleh Elvan, Arion memilih mengasingkan dirinya pada tempat yang cukup jauh dari jangkauan penduduk lainnya. Sebuah desa terpencil yang berada di suatu daerah, menjadi tempat ternyamannya yang baru. Mendirikan kelompoknya kembali dan juga merintis beberapa usaha dalam dunia bisnisnya, guna menyambung kehidupan. Namun di lain hal, Arion tetap memantau situasi dan juga kondisi dari Ara, seorang wanita yang sudah merubah pola pikirnya untuk menjadi lebih baik. Ia menyadari, bahwa untuk memiliki wanita yang berhati bidadari itu tidak akan mungkin ia gapai. Mengagumi sosoknya saja sudah membuat dirinya begitu bahagia, tidak ada sedikit pun keinginan dalam dirinya untuk merebut Ara dari sisi Elvan. Hanya cukup mengetahuinya dalam keadaan bahagia dari jarak yang cukup jauh, itu pun sudah membuat dirinya menjadi tenang.
" Ada apa? Kau sudah mengganggu waktu bersantaiku kali ini, jika informasi itu tidak penting. Kau sudah tahu akan akibatnya, bukan." Arion meletakkan cangkir berisikan minuman hangat yang baru saja ia nikmati di atas meja.
" Di serang penyusup? Lalu, apa yang terjadi?" Sebelumnya, Arion tidak terlalu tertarik dengan informasi yang diberikan padanya. Akan tetapi ia teringat akan keberadaan sang bidadari disana.
" Eee, itu tuan. Eee..."
" Cepat katakan! " Suara Arion meninggi dan begitu tegas menanyakan hal tersebut kepada bawahannya.
" Menurut informasi yang saya dapatkan, ada dua orang wanita terluka. Salah satunya selamat dan satunya lagi keadaannya sangat mengkhawatirkan tuan. Dia terkena tusukan senjata yang sudah ada racun mematikan, dan saat ini kondisinya sangat kritis dan koma." Jelas bawahan tersebut setelah dirinya tertarik ke arah atas, dengan mudahnya Arion menarik kerah bajunya sehingha dirinya terangkat ke atas.
__ADS_1
" Siapa wanita itu?" Tanya Arion dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah.
" Ka kami belum mengetahuinya tuan, orang kita masih mencari informasi akan. kepastiannya."
" Bo**h! Mencari data begitu saja, kalian sangat lambat sekali! Cepat dapatkan informasi itu, jika tidak ingin hidup kalian selesai detik itu juga." Arion melepas cengkaraman tangannya, membuat bawahannya terhempas begitu saja di lantai.
Dengan penuh ketakutan, bawahan tersebut perlahan berdiri dari lantai. Bermaksud untuk segera berlalu dari hadapan tuannya, akan tetapi ponsel miliknya berdering. Sedikit menyingkirkan tubuhnya dari sisi tuannya, ia menerima panggilan tersebut. Setelah selesai, ia oun segera menyampaikan informasi terbaru yang baru saja ia dapatkan.
" Tuan, kita mendapatkan datanya."
" Katakan!"
" Wanita yang selamat, adalah orang yang bertugas sebagai pengawal pribadi dari nona Ara. Dan wanita yang kritis itu, adalah nona Ara sendiri tuan."
" Apa?!! Ara ?! Bagaimana bisa?!!" Seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh orangnya, tubuh Arion kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh.
" Benar tuan, tusukan itu berada pada punggungnya. Penyusup tersebut menyamar sebagai salah satu dari pelayanan yang bertugas didapur, yang diketahui jika dia merupakan orang suruhan dari rival tuan Elvan sendiri."
Seakan masih tidak terima akan kabar tersebut, Arion masih mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlalu cerobah dalam mengambil keputusan.
" Kalian cari tahu siapa dalang dari kejadian itu, siapkan orang-orang kita untuk ikut mengamankan mereka. Dan ingat, jangan sampai keberadaan kalian mengundang kecurigaan dari mereka. Sebagian lagi, ikt bersamaku." Arion bertindak tegas akan segera menemukan dalang dari kejadian yang terjadi, apalagi sampai wanita bidadarinya dalam keadaan terluka dan menjadi target orang tersebut.
" Baik tuan." Pria itu langsung berlalu dari hadapan Arion, segera mempersiapkan apa yang telah diperintahkan tuannya.
__ADS_1
Dalam keadaan yang masih shock, Arion menggelengkan kepalanya. Setelah dirinya memilih untuk menghilang sementara dari kehidupan dunia bawah, dan kini. Ia akan akan kembali datang dengan kekuatan yang cukup dapat diperhitungkan, apalagi ia mendengar jika wanita yang ia kagumi mengalami serangan dari kelompok tertentu yang menaruh dendam pada rivalnya terdahulu.
Aku tidak akan membiarkan orang tersebut ataupun kelompok manapun, yang sudah menyakiti wanita bidadariku. Maka bersiaplah kalian, akan aku hadapi siapapun kalian. Arion.