Mafia Psycopath Jatuh Cinta

Mafia Psycopath Jatuh Cinta
79.


__ADS_3

Setelah kekacauan terjadi itu teratasi, Elvan kini bisa bernafas sedikit lega. Namun dirinya masih harus menemukan siapa orang yang sudah membantunya, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


" Tuan, ini laporan yang anda minta."


Hari itu, Semua orang-orang kepercayaan dari Elvan berkumpul di ruangan pemilik perusahaan. Tidak ada yang berani untuk menatap wajah tuannya saat itu, mereka tahu jika kekacauan telah selesai teratasi. Akan tetapi mereka bakalan menjadi bahan yang begitu empuk untuk saat ini.


" Apa keahlian kalian?!" Suara Elvan terdengar sangat berat dan penuh penekanan.


Semua mereka yang berada disana masih menundukkan wajahnya, belum ada yang berani untuk menjawab perkataan dari tuannya.


" Perlu aku ulang pertanyaannya!!"


Mereka pun saling senggol dan sikut menyikut, untuk mempersilahkan diantara mereka untuk bicara dan menjawab pertanyaan dari tuannya.


" Maaf kami tuan, kami mengakui sudah begitu lambat dalam mengatasi kekacauan yang ada." Dion yang dengan berani mengatakan hal tersebut, namun pandangannya masih menunduk.


" Bagus, kau mengakui jika dirimu lamban Dion. Ah! Bahkan aku saja tidak bisa meretas jejaknya, bagaimana dengan mudahnya dia masuk dan mengobrak-abrik semua data yang ada!" Elvan mengusap wajahnya dengan kasar.


" Kami semua juga minta maaf tuan, hal ini akan kami perbaiki secepatnya." Liam merasa jika tugasnya memang tidak bisa terselesaikan, karena oleh ulah hacker yang membantu sekaligus merusak reputasi kerja mereka.


" Hem, temukan siapa mereka!" Elvan mengibas-ibaskan jemarinya, sebagai tanda untuk semuanya keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Satu persatu orang kepercayaa Elvan berjalan meninggalkan ruangan tersebut, hanya tersisa Elvan yang masih merenung untuk mencari jalan agar target yang ia inginkan itu terbuka jati dirinya.


Ddrrtt...


Ddrrtt...


" Hallo sayang."


" Bee, apa aku mengganggu waktumu?" Tanya Ara yang saat itu menghubungi Elvan pada jam kerjanya.


" Tentu tidak sayang, ada apa?" Elvan seperti merasakan sesuatu gelagat istrinya yang tidak biasanya.


" Bisakah aku pergi keluar untuk bertemu Maia? Sudah lama aku tidak menghabiskan uangmu, bolehkah?" Ara meminta izin kepada Elvan, setelah mendapat ajakan dari Maia sang sahabat lamanya.


" Kelamaan Bee, tapi kalau kamu berat melepasku. Tidak masalah Bee, aku bisa mengerti hal itu. Nanti biar aku jelaskan sama Maia, dikantor lagi ngapain"


Ara mengalihkan pembicaraannya, untuk menutupi rasa kekecewaannya terhadap sikap posesif suaminya itu. Namun ia sangat menghargai keputusan dari Elvan, semuanya itu demi keamanan dan keselamatan dirinya.


" Tidak ada sayang, hanya saja baru selesai membahas pekerjaan dengan Liam dan lainnya. Apa kau sangat ingin pergi sayang?" Elvan kembali menanyakan keinginan dari Ara.


" Ee sebenarnya si sangat ingin, tapi jika tidak ada izin darimu. Aku tidak akan pergi Bee. Karena izin dan restumu sebagai suami itu yang sangat penting, untuk seorang istri yang akan keluar dari rumah."

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Ara, membuat hati Elvan seakan-akan menjadi suami yang tak berguna. Demi ke egoisan dirinya sendiri, ia sampai mengabaikan kebahagian istrinya.


" Sayang, maafkan suamimu ini. Kamu boleh pergi, asalkan Jefry ikut bersamamu!" Elvan memberikan syarat kepada Ara, agar dirinya merasa tenang.


" Bee, jika hatimu berat memberikan izin. Jangan terlalu dipaksakan."


" No, no sayang. Kamu boleh bertemu dengan temanmu, habiskan saja uang yang ada. Asalkan tidak untuk temanmu yang berlawanan jenis, jika itu terjadi. Aku sendiri yang akan melenyapkannya."


" Hahaha, Bee. Kamu berlebihan sayang, lagian juga siapa yang mau sama aku. Saat mereka tahu jika aku adalah istrimu, mereka sendiri memilih kabur dan menghindariku agar sampai tidak bermasalah denganmu. Oh iya, Ezra nanti akan pulang terlambat."


" Kenapa?"


" Dia mengikuti kegiatan ekstrakulikuler disekolahnya, Bee. Emm, terima kasih atas izinnya." Seperti malu-malu, wajah Ara merubah menjadi sedikit memerah.


" Hahaha, itu tidak gratis sayang." Dengan seringainya, Elvan sengaja memanfaatkan momentum kali ini.


" Hah! Iya iya, aku mengerti akan kalimat 'tidak gratis' darimu Bee."


" Hahaha." Elvan tertawa dengan begitu lepasnya, mendapatkan Ara yang tersipu malu dalam mengartikan perkataannya.


" Bee! Ah nggak lucu, bye!" Ara memutuskan sambungan ponselnya pada Elvan dan beralih memberikan kabar kepada Maia.

__ADS_1


Sedangkan Elvan, ia masih belum selesai dengan tawanya, sungguh setelah bersama dengan Ara. Hidupnya penuh dengan warna dan kebahagian.


" Terima kasih sayang." Elvan menatap layar ponselnya yang terdapat gambar Ara dan buah hatinya.


__ADS_2