
Penyerangan terjadi, Elvan dalam keadaan yang tidak begitu siap untuk berperang. Bahkan persenjataan pun ia tidak punya, hanya mengandalkan kekuatan otot yang ada pada dirinya. Kini, ia tampil dengan menampakkan aura yang begitu menyeramkan.
" Katakan dimana istriku?! Apa kalian tuli, hah?" Tegas Elvan terhadap orang-orang yang sedang mengepung dirinya.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Elvan tersebut, saat ini mereka telah menyerang Elvan secara bertubi-tubi menggunakan senjata.
" Heh, kalian berani menyerangku? Baiklah, sudah cukup lama aku tidak melakukannya." Seringai Elvan dengan memberikan perlawanan kepada musuhnya.
Serangan yang dilakukan musuhnya, bagaikan pemanasan yang harus Elvan lakukan sebelum kegiatan besarnya. Dengan begitu gesitnya, Elvan dapat menghindari dan menahan berbagai serangan yang ada. Senjata yang digunakan oleh pihak musuh, sungguh sangat tidak berguna. Begitu mudahnya, Elvan membalikkan serangan dari senjata itu untuk kembali kepada empunya.
" Dimana istriku kalian bawa? Katakan!!" Tangan kekar itu menghantamkan kepalan tangannya ke arah musuhnya yang masih tersisa beberapa dengan membabi buta, bahkan cairan kental berwarna merah itu telah mengalir dari hidung, mulut bahkan telinganya.
" Jawab!!" Elvan begitu marah ketika ia di abaikan.
Srrett!!
Jlub!!
Salah satu dari musuhnya menggoreskan senjata tajamnya pada lengan dan menancapkannya tepat di punggung Elvan. Melemparkan orang yang sudah ia pukuli itu sehingga melayang di udara, berakhir dengan menghantam sebuah dinding pembatas ruangan hingga roboh. Hal itu membuat yang lainnya bergidik ngeri, seberapa kuatnya kekuatan yang Elvan punya sampai dinding itu roboh.
" Cepat katakan dimana istriku?!!" Dalam keadaan terluka, Elvan seperti kerasukan.
Brak!!
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Kemarahan yang sudah tak terbendung lagi, membuat Elvan melampiaskannya. Ia membalas semua perlakuan yang diberikan kepadanya tanpa mencabut pisau yang masih bersarang di punggungnya, semua musuhnya saat itu masih setia untuk menutup mulut mereka dengan tidak mengatakan dimana keberadaan Ara.
Jiwa psycopath yang telah lama ia buang, kini kembali lagi. Begitu mudahnya Elvan memutar bagian tubuh dari musuh-musuhnya, hingga terdengar suara patahan dari setiap tulang yang berada pada tubuh musuhnya itu. Nafas yang masihb tidak teratur, kini musuhnya itu sudah ia kalahkan semuanya. Disaat ia akan berjalan untuk mencari keberadaan Ara, tidak tahu siapa. Terdapat Tiga orang yang baru saja tiba dan langsung menyerang Elvan kembali menggunakan senjata yang dibawanya, Samurai dan beberapa senjata lainnya melesat menghampiri tubuh Elvan.
Jangan tanyakan apa yang terjadi, jika kalian mengatakan Elvan akan terkalahkan. Semua itu tidak benar, bahkan dengan tanpa ragu Elvan membalas serangan itu dan merampas senjata yang mereka gunakan. Dalam hitungan detik, tubuh ketiga pria itu telah berhamburan.
" Aku tidak akan sudi membiarkan kalian untuk bernafas! Ara!" Teringat akan keberadaan istrinya yang masih belum diketahui, Elvan melanjutkan langkahnya kembali.
Disuatu ruangan yang sangat minim akan cahaya, tampak seorang wanita dengan keadaan kedua tangan dan kakinya terikat bahkan kedua matanya juga di tutupi oleh selembar kain hitam. Ya, dialah Ara.
" To tolong, siapapun anda. Tolong lepaskan saya." Ara terus memohon untuk segera dilepaskan.
" Heh, kau kira aku akan dengan mudahnya melepaskanmu. Kau salah besar, karena dirimulah yang membuatku hidup seperti ini! Dasae wanita si**an!!"
Plak!!
Plak!!
" Aku akan membalasnya, bahkan aku tidak sudi kini kau hidup bahagia!" Wanita itu mengambil sesuatu dan kembali mendekati Ara.
Sret!!
Sret!!
" Aaa... Sa sakit!" Rasa sakit itu berasal dari bagian wajah Ara.
" Hahaha! Bagaimana Ara, apakah kau menyukainya. Ini sangat menyenangkan, bukan?! Hahaha"
__ADS_1
Wanita itu tertawa begitu lepas melihat Ara yang meringgis kesakitan, bahkan ia melanjutkan tangannya untuk membuat luka pada bagian tubuh Ara yang lainnya. Jeritan demi jeritan dari mulut Ara terdengar begitu memilukan.
" To to long hentikan, aku mohon." Ara merasa sudah tidak sanggup untuk menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya.
" Aku tidak akan menghentikannya sampai nyawamu masih ada, aku akan berhenti saat kau! Tidak bernafas lagi, paham! Ucapkan selamat tinggal untuk semuanya, Ara."
Menyadari akan sesuatu, ingatan Ara kembali pada masa lalu. Suara yang begitu sangat ie kenali, bahkan ia begitu hafal.
" Monick! Benarkah itu kau, Monick!" Tanpa keraguan dalam hati Ara, karena ia sangat yakin dengan suara itu.
Suasana seketika menjadi hening...
Tak lama kemudian, terdengar suara tawa yang sangat besar.
Prok prok prok!
" Hahaha."
" Wow! Sungguh kau sangat pintar, Ara. Kau masih mengenaliku, bahkan suaraku saja kau dapat mengetahuinya. Percuma saja menutup matamu, cepat kalian buka penutup matanya."
Monick, saudara angkat Bella yang begitu licik. Mendapatkan ampunan dari Ara dan Elvan sebelumnya, belum bisa membuatnya jera. Bahkan ia mengorbankan papinya sendiri, hanya untuk obsesinya itu. Merasa sakit hati dengan Ara, menyimpan dendam yang akan ia balaskan saat ini.
Setelah penutup mata terlepas, Ara memicingkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya yang ada. Benar saja, ia melihat saudara angkatnya itu sedang menatapnya dengam tatapan tajam.
" Sudah puaskah kau melihatku? Baiklah, sekarang saatnya untuk melenyapkanmu, Ara. Selamat tinggal saudara angkatku yang malang."
Monick mengarahkan sebuah pistol pada kening Ara, senyuman sinis terukir diwajahnya. Ara kembali memohon kepada Monick untuk mengurungkan niatnya itu, namun Monick sudah dikuasai ketidak warassannya dalam membalas dendam dan tidak memperdulikan setiap perkataan Ara.
__ADS_1
Dor!
Dor!