
Memandangi pemandangan dan merasakan suasana yang begitu sejuk dari teras kamarnya, Ara sedang menikmati semilir angin yang bertiup menerpa rambutnya. Kepulangannya dari rumah sakit, membawa dirinya kembali harus berdiam diri didalam mansion.
Apakah aku harus menerima ini semua? Apakah ini sudah menjadi jalan hidupku darimu Tuhan? Kenapa harus aku yang mengalaminya, anak ini ada karena kesalahanku. Haruskah ia menerimanya karena aku tidak menginginkannya? Ara.
Tok tok tok.
Sudah beberapa minggu, Ara tidak pernah melihat bahkan mendengar suara dari Elvan. Ruang kerja miliknya, selalu kosong dan terkunci. Ada perasaan yang aneh dalam hatinya, seperti merindukan keberadaan Elvan. Namun hal itu ia tepis dengan begitu cepat, merasa luka yang ia alami masih terlalu sakit untuk menerima semuanya. Lalu ia mendengar suara ketukan pintu kamarnya, Ara tersadar dari lamunannya. Lalu ia bergegas untuk membukanya, setelah terbuka.
" Hallo." Rara yang tersenyum melambaikan tangannya untuk menyapa Ara.
" Hai, masuklah." Ara mempersilahkan Ara untuk memasuki kamar yang ia tempati.
" Bagaimana dengan kondisimu hari ini?" Tanya Rara yang biasanya selalu memeriksa kondisi Ara, sang kakak ipar.
" Jauh lebih baik, hem. Aku ingin sekali berjalan-jalan keluar, bisa temani aku?" Ara mengharapkan dia bisa keluar sejenak dari mansion, menghirup udara segar sangat ia butuhkam dalam situasi seperti ini.
" Hah? Wah, aku tidak bisa memutuskan untuk hal itu. Kau bisa menyakannya kepada kak Elvan, Ra. Maaf ya, untuk rahasia yang kami sembunyikan darimu." Rara merasa semakin tidak enak hati, atas sikapnya.
" Tidak apa-apa, sepertinya hidupku juga ditakdirkan untuk seperti ini. Kalian memang berhak untuk melakukannya, hanya aku saja yang harus menerimanya dengan lapang dada. Walaupun aku memberontak, tidak akan bisa melawan keinginan kalian." Ara berjalan menuju balkon kamarnya.
" Tunggu Ra." Rara ikut mengejar Ara untuk menjelaskan duduk masalah yang sebenarnya.
Dengan begitu tenang, Ara menikmati kembali pemandangan dan semilir angin yang bertiup mengenai dirinya. Ia menangkap gelagat yang menunjukkan, jika temannya itu sedang menahan diri atas perasaannya.
" Jangan merasa tidak enak kepadaku, dokter. Anggap saja, ini adalah ujian hidup yang harus aku jalani."
" Tapi Ra, Kak Elvan benar-benar berubah setelah kejadian itu. Aku sendiri tidak pernah melihat dirinya seperti sekarang.
" Manusia akan merasa bersalah setelah melakukan sebuah kesalahan, itu adalah hal yang biasa dokter."
__ADS_1
" Huh. Kamu benar-benar keras kepala Ra, aku sebenarnya sangat marah sekali dengan kejadian itu. Dan asal kamu tahu, kakakku tidak akan pernah menyentuh wanita, jika dirinya tidak memiliki rasa kepada wanita itu. Hanya kamu Ra, hanya kamu yang bisa memberikan rasa itu pada kak Elvan." Rara berharap, Ara bisa membuka hatinya untuk sang kakak. Walaupun luka yang sudah diberikan, masih terlalu besar yang tidak akan pernah bisa sembuh dengan sempurna.
" Terima kasih atas nasihatnya." Ara hanya menanggapi ucapan Rara dengan senyuman.
Berusaha dengan semaksimal mungkin, Rara sungguh tidak tega dengan kehidupan kakaknya saat ini. Sangat berbeda dengan Elvan yang sebelumnya, kini ia hanya menyibukkan diri dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Mengabaikan segalanya, bahkan dirinya dan juga kesehatannya sendiri.
Beberapa kali Rara memergoki sang kakak dalam keadaan yang tidak baik, walaupun ia mengetahui aksi Elvan dalam dunia bawah. Itu membuat Rara semakin khawatir, pertarungan dalam dunia bawah akan selalu mengakibatkan kakaknya mengalami luka. Hal itu memang sengaja Elvan lakukan, merasa dengan hal itu Ia dapat merasakan dan menebus luka yang ia berikan untuk Ara.
" Kalian berdua! Benar-benar memiliki sifat yang sama, sama-sama keras kepala. Ayo ikut aku!" Rara menarik tangan Ara dengan tiba-tiba.
" Eh, mau kemana? Aku tidak bisa keluar dari sini." Ara mencoba menahan tangannya dari tarikan Rara.
" Ikut saja! Kau sekarang bebas kemana saja, bahkan setelah aku menunjukkan keadaan yang sebanarnya."
" Hal sebenarnya? Apa maksudmu?" Ara memberhentikan langkah kakinya.
" Aku tidak akan menjelaskannya, kau sendiri yang bisa memberikan penjelasannya setelah melihatnya secara langsung. Ayo kakak ipar."
" Aduh, Ara! Kamu mau kemana,?" Mila yang begitu kaget, melihat Ara sedang ditarik orang adik dari tuannya. Perasaan khawatir pun melintas dalam pikiran Mila saat itu.
Tidak sempat untuk menjawab pertanyaan Mila kepadanya, Ara terlalu kaget dengan perlakuan Rara. Hingga mereka masuk ke dalam sebuah mobil dan Rara melajukannya dengan cukup cepat, membuat Ara berpegangangan erat pada pinggiran kursi yang ia duduki.
Ddrttt...
Ponsel Rara bergetar, ada sebuah panggilan masuk.
" Ya Nanny, ada apa?" Rara menerima telfonnya dalam keadaan sambil mengemudikan mobilnya.
" Mau kau bawa kemana dia? " Suara Nany cukup keras terdengar.
__ADS_1
" Nanti Nany akan mengetahuinya." Rara memutuskan percakapan mereka.
Dari seberang sana, perumpuan paruh baya itu mengumpat lawan bicaranya.
" Dasar adik dan kakak sama saja, sama-sama nakal!" Perasaan khawatir itu berubah menjadi lega, setidaknya Rara tidak akan menyakiti kakak iparnya sendiri.
Menempuh jarak sejauh dua puluh kilometer dan juga waktu kurang lebih satu jam lamanya, mobil yang Rara lajukan kini berhenti pada sebuah daerah terpencil dan juga jauh dari sentuhan manusia. Terlihat bangunan tua, yang begitu menakut.
" Dimana ini? Kenapa kau membawaku kemari, aku mau pulang." Tolak Ara.
" Keluarlah, aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu. Ayo." Rara keluar dari mobilnya dan berjalan membuka pintu bagian samping kemudinya, membawa Ara untuk mengikuti langkahnya masuk ke dalam bangunan tersebut.
Betapa terkejutnya Ara melihat banyak orang didalam sana, mereka pun menunduk seakan memberi salam kepada Rara dan dirinya.
" Selamat datang nona." Sapa salah satu orang disana, yang tak lain adalah Liam. Ia menyambut kedatangan adik dari tuannya yang secara tiba-tiba, dan ia terkejutkan dengan kehadiran Ara bersama nonanya.
" Terima kasih, Liam. Tenang saja, tidak perlu khawatir. Aku yang akan beryanggung jawab, dimana manusia batu lumutan itu?"
" Tuan ada dikamar pribadinya, nona. Mari, saya hantar."
Rara masih menggenggam tangan Ara yang semakin tidak menyangka akan kejadian ini, mereka mengikuti langkah kaki Liam dari arah belakang. Hingga tibalah mereka didepan sebuah pintu.
" Kau pergilah, Liam. Percayakan padaku." Liam menganggukkan kepalanya, lalu meninggalkan mereka.
" Sudah siap?" Tanya Rara kepada Ara yang masih cukup kaget.
" Apa maksudmu? "
" Kau akan mengetahuinya setelah masuk ke dalam."
__ADS_1
Rara membuka pintu tersebut dan mulai melangkah memasukinya bersama Ara, sungguh mengagetkan bagi Ara setelah melihat ke dalam ruangan tersebut.
" Di di a." Suara Ara terbata-bata melihat apa yang ada dihadapannya kini.