
Menceritakan dari awal kejadian yang dialami oleh Ray dan Bella, sampai pada saatnya Ara lahir dan terpisahkan. Bella yang menceritakan hal tersebut, dengan kondisi tubuh yang sudah tidak kuat. Wajah pucatnya menampakkan jika ia sudah begitu lelah menghadapi situasi sulit seperti ini, apalagi menguatkan hati agar bisa menceritakan kebenaran mengenai status Ara dengan dirinya.
" Ini nak, maafkan kami jika hal ini sudah begitu lancang." Ray menyerahkan amplop berwarna cokelat yang ia taruh di atas meja dihadapan Elvan dan Ara.
" Itu adalah hasil dari tes DNA yang kami lakukan untuk mencari dan mendapatkan kepastian mengenai ini semua, aku menyuruh salah satu dokter dirumah sakit. Tepat disaat Ara akan melahirkan, maafkan kami. " Kembali Ray menjelaskan proses pengambilan sampel dari Ara, yang mereka gunakan untuk tes DNA.
Mendengar penjelasan dari Ray, membuat rahang Elvan mengeras dan genggaman tangannya yang juga bersatu dengan tangan Ara meremas sangat kuat. Mendapati suaminya seperti itu, Ara memeluk Elvan dari arah samping.
" Bee, jangan seperti ini. Aku takut!" Ara begitu khawatir akan keadaan Elvan seperti itu.
Entah mengapa, semenjak kehadiran Ara dalam hidupnya. Membuat Elvan begitu sangat tidak ingin dipisahkan oleh apapun, kini Elvan memandangi wajah Ara yang terpejam sangat pucat dibasahi oleh keringat pada keningnya.
" Jangan takut sayang." Elvan menarik tubuh Ara kedalam dekapannya.
" Kalian sudah begitu lancang sekali, mengambil sampel tubuh istriku secara diam-diam!" Tegas Elvan kepada Ray.
Ray dapat memahami keadaan dan kondisi Elvan, saat mengetahui hal tersebut. Ray dan Bella terus mengeluarkan apa yang menjadi keinginan mereka saat ini, namun mereka melupakan kondisi Ara pada saat itu.
Hugo membuka amplop tersebut atas perintah dari tuannya, lalu ia menunjukkan isi dari sebuah kertas yang berada didalamnya kepada Elvan. Namun Elvan tidak akan terkagetkan dengan hal semacam itu, karena ia sudah mengetahui langkah dari kliennya. Akan tetapi, tidak bagi Ara.
" Be Bee." Maya yang terpejam dan suara bergetar, membuat ucapan Ara terdengar mengkhawatirkan.
Seketika hal itu membuat Elvan melakukan pengecekan pada istrinya itu, tatapan dari mata Ara yang begitu kosong. Mengatakan jika dirinya tidak dalam keadaan yang baik, dan tidak ada respon balasan dari dirinya untuk ucapan, sentuhan bahkan guncangan dari tangan Elvan pada dirinya.
" Sayang! Sayang!" Elvan mendapati tubuh Ara yang tidak merespon apapun darinya.
Peristiwa itu juga membuat Ray dan Bella khawatir, kejadian yang tidak mereka inginkan terjadi.
" Ara!" Bella dan Ray mendekat.
__ADS_1
Dalam keadaan mata yang terbuka, tatapan kosong dari kedua matanya. Namun dengan tubuh yang begitu lemah, Ara seperti makhluk tak bernyawa.
" Apa yang terjadi padamu nak? Ara, Ara sadarlah nak." Bella menatap dan menyentuh wajah Ara untuk pertama kalinya.
" Hugo! Suruh Rara kemari, cepat!" Elvan mengangkat tubuh Ara dan membawanya menuju kamar mereka.
" Maaf tuan, sebaiknya anda menunggu saja disini." Hugo menghentikan langkah Ray dan juga Bella yang hendak menyusul Elvan.
" Tapi..."
" Tolong hormati hal ini, tuan." Hugo menghormati keinginan Ray yang ingin melihat keadaan Ara.
Dalam keadaan yang begitu tidak kondusif, akhirnya Bella dan Ray mengikuti arahan yang Hugo berikan kepada mereka. Dengan perasaan yang begitu khawatir, Bella terus berdoa untuk kondisi Ara.
Di dalam kamar...
Elvan membaringkan Ara dengan perlahan, menatap wajah istrinya yang saat itu seperti tak bernyawa.
Mengusap wajah Ara dan menyibakkan rambutnya kebelakang telinganya, berusaha terus untuk mengajak Ara berbicara. Tidak ada jawaban yang Ara ucapkan, akan tetapi lama kelamaan Ara merespon dengan tanggisan dalam diamnya. Air mata mengalir dengan cukup banyak, melihat hal itu. Elvan memeluk istrinya dan bersandar pada dadanya.
" Keluar saja semua yang membuatmu lega, sayang. Luapkan saja yang membuat dirimu tidak nyaman kepadaku, jangan menyimpannya sendiri."
Ara semakin terisak dalam dekapan Elvan, dadanya begitu sesak dan mulutnya begitu kaku untuk mengucapkan sepatah kata pun. Merasa dirinya sudah cukup tenang, disambut oleh kedatangan Rara yang juga terlihat begitu panik.
Brak!
Suara pintu yang terbuka secara paksa, menampakkan Rara yang baru saja tiba dengan wajah yang cukup cemas.
" Kakak ipar! Apa yang terjadi padamu?" Rara menghampiri Ara dan Elvan memberikan ruang kepada mereka berdua.
__ADS_1
Selepas Ara yang sudah lebih tenang, Rara langsung melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter. Tidak membutuhkan waktu yang lama, tugas itu telah selesai.
" Bagaimana?" Tanya Elvan kepada Rara.
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kak, hanya saja kakak ipar shock dengan peristiwa yang ia alami. Memangnya, kalian ada masalah apa? Kenapa membuat kakak ipar menjadi seperti ini? Jangan-jangan kau pelakunya kak?" Panjangnya ucapan Rara, membuat Elvan memberikan sedikit hukuman.
Plak!
Ringgisan Rara terhadapan perlakuan Elvan padanya, karena kepalanya terkena teplakan dari tangan Elvan yang lebar.
" Kenapa kau memukulku? Sakit tahu nggak!" Rara memprotes sikap Elvan padanya.
" Jangan sembarangan menuduh, dasar adik durhaka." Balas Elvan kepada Rara.
" Terus, kalau bukan kakak. Jadi siapa yang salah?"
Mendengar hal itu, Ara kembali menitikkan air mata. Dan itu membuat Rara semakin bingung, memberikan ketenangan untuk istrinya. Elvan menceritakan inti dari permasalahan yang sedang mereka hadapi, dengan itu membuat Rara mengerti dan tidak ingin mengetahui lebih banyak lagi.
" Baiklah kak, kakak ipar. Kau harus bekerjasama dengan perasaanmu sendiri, berusahalah untuk tenang dalam menghadapi sesuatu. Tapi, jika itu bersangkutan dengan pria lumutan ini. Aku akan mendeplaknya terlebih dahulu, eh keponakanku yang pertama kemana? Dari tadi tidak melihatnya."
" Kau akan menemukannya dihalaman belakang, jaga jantungmu biar tidak lepas. Sana!" Elvan mengusir Rara dari kamarnya, karena ia ingin membicarakan seauatu yang penting kepada Ara.
Selepas Rara pergi, Elvan duduk dihadapan Ara. Memegang telapak tangannya dengan lembut, ia mulai mengajak istrinya berbicara.
" Bagaimana perasaanmu, jika apa yang mereka katakan itu benar adanya?"
Ara menatap Elvan dengan wajah sendu, ia juga kaget kenapa hal ini terjadi secara tiba-tiba.
" Bee, aku tidak tahu harus bagaimana. Ta tapi ini, terlalu menyakitkan untukku. Dengan kehidupanku selama ini, aku tidak bisa membayangkannya. Berapa tahun yang harus aku alami dengan sendirian, penderitaan bahkan rasa aku tidak ingin hidup. Lalu, lalu dimana mereka."
__ADS_1
Tanggisan Ara begitu pecah, bahkan Elvan membiarkannya agar istrinya itu bisa meluapkan segala apa yang ia rasakan.