
" Bos, ada yang ingin bicara pada anda." Arion menjentikkan jemarinya sebagai tanda ia mempersilahkan.
Dave, orang kepercayaannya mempersilahakan tamu yang ingin berjumpa dengan tuannya. Seorang wanita cantik, berjalan memasuki ruang kerja seorang pemimpin dari suatu kelompok dunia bawah yang ia kenal.
"Hai, sudah lama tidak berjumpa. Kau semakin tampan, Arion." Ujar wanita itu, yang tak lain adalah Vivi.
" Heh, omong kosong. Apa maumu?" Arion memainkan jemarinya, ia menatap Vivi dengan sinis.
" Jangan begitu tampan, kau pasti akan menyetujuinya. Aku pastikan, kau benar-benar akan membantuku kali ini." Vivi terlihat begitu sangat yakin dengan tujuannya mendatangi Arion.
" Katakan."
Dengan alis mata yang tertarik ke atas, Arion tampak penasaran dengan apa yang dikatakan Vivi padanya. Bagi dirinya, Vivi adalah wanita yang pernah menghiasi hari-harinya. Namun semuanya berubah, disaat wanita itu menyukai orang lain yang tak lain adalah Elvan. Kemarahan dan kebenciannya dirinya kepada Elvan, sudah mendarah daging. Perlawanan demi perlawanan ia lakukan, namun selalu saja gagal dan serangan itu kembali lagi pada kelompoknya dalam kekuasaan yang cukup besar.
" Bantu aku untuk menyingkirkan seseorang, dia sudah membuatku malu dan merebut seseorang yang sudah lama aku incar. Aku ingin wanita itu lenyap dari muka bumi ini bersama calon anak mereka, biar mereka tahu betapa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang dicintai." Dengan penuh kebencian dalam matanya, Vivi ingin membalas atas rasa sakit hati yang ia rasakan.
" Cukup menarik, akan aku pertimbangkan." Arion berjalan meninggalkan Vivi yang masih asik menceritakan orang tersebut.
" Tunggu! Apa kau tidak ingin mengetahui, siapa orang yang aku maksud? Aku pastikan, kau akan lebih tertarik dengannya?"
Dalam benak Arion memikirkan tentang apa yang dikatakan Vivi, raut mukanya menampakkan rasa penasaran yang cukup besar.
" Istri dari seorang Elvan, Elvan Aristides. Kau mengenalnya bukan." Vivi sengaja memancing amarah dari seorang Arion.
Tangan Arion mengepal dengan sangat kuat, mendengar nama itu. Seketika membuat memori otaknya teringat kembali dengan luka lama yang telah membekas dihidupnya, sungguh peristiwa yang sangat menyakitkan baginya.
Flashback on.
Pertarungan diantara dua kelompok besar sedang terjadi, dimana pimpinan dari masing-masing kelompok tersebut juga ikut andil.
" Menyerahlah Arion, kau tidak akan bisa mengalahkanku." Dengan sombongnya, Elvan mengucilkan rivalnya yang tengah mengatur nafasnya.
Menatap tajam kepada Elvan, mata Arion telah memerah menahan amarah dan ingin sekali ia melenyapkan lawannya saat itu juga.
__ADS_1
" Jika kau tidak menyukainya, tidak seharusnya kau membunuhnya! Breng****ek!!" Erang Arion kepada Elvan.
" Heh, siapapun yang sudah bermain-main denganku. Aku tidak akan segan untuk menghabisinya, jangan salahkan aku. Jika harus melenyapkannya."
" Aku mencintainya! Kau dengar itu, aku benar-benar mencintainya, ban***at!" Arion memaki Elvan dalam keadaan tubuh yang mulai kehilangan keseimbangan.
Tersenyum dengan penuh kemenangan, Elvan tidak menanggapi perkataan yang diberikan kepadanya. Arion menatapi tubuh wanita yang sudah tak bernyawa dihadapannya, dengan begitu keji. Elvan melenyapkan nyawanya tanpa ampun, tidak bisa dipungkiri. Jika Arion dan wanita bernama Yolanda terlibat dalam suatu kerjasama untuk menyingkirkan Elvan, namun perhitungan mereka telah meleset. Kecerdikan yang dimiliki oleh Elvan dan anggotanya tidak akan tertandingi, wajar saja jika ia mendapat julukan tak terkalahkan dari semua kelompok. Tidak ada yang berani untuk mengusiknya, terkecuali orang ataupun kelompok tersebut ingin menyerahkan nyawanya dengan sangat sukarela kepadanya.
Yolanda, wanita yang menaruh hati pada Elvan. Memanfaatkan rasa cinta seorang Arion padanya, untuk bekerjasama untuk menyingkirkan sang leader tersebur. Namun, Arion tidak menyadari jika dirinya hanya dimanfaatkan. Setelah kepergian Elvan, Arion menatapnya dengan penuh kebencian.
" Sebelum nafas ini terputus, akan aku pastikan. Kau dan semua orang yang kau cintai akan menderita, Elvan!"
Flashback off.
Keduanya saling menyepakati sesuatu rencana yang telah mereka susun, mengetahui jika rivalnya saat ini memiliki kelemahan yang bisa ia manfaatkan. Dengan menyunggingkan senyuman devilnya, Arion merasa keberuntungan sedang berpihak padanya.
" Lihat saja nanti, di akan merasakan apa yang aku rasakan dahulu. Tidak akan aku biarkan dia merasa menang atas semua penderitaan yang aku alami, tunggu sama waktunya."
Arion memainkan jemarinya, sehingga menimbulkan suara. Vivi pun ikut tersenyum bahagia, dengan harapan akan segera menyingkirkan Ara dari kehidupan Elvan. Yang akan dengan perlahan ia dapatkan kembali.
......................
Suasana di rumah sakit begitu tenang, setelah Ara selesai diperiksa. Mereka menempatkannya di ruang perawatan yang terbaik, berada disisi istrinya. Dengan menggenggam telapak tangannya dengan lembut, Elvan menatapi Ara dengan tatapan penuh penyesalan.
" Sstt sstt, Ion, Dion. Siapa pria itu, kenapa dia nggak geser-geser dari Ara ya?" Dengan penuh penasaran, Maia bertanya kepada Dion. Yang notabennya adalah mahasiswa satu kampus dengannya.
" Dia?" Tunjuk Dion ke arah Tuannya.
" Iya, siapa lagi. Kamu kenal?"
" Dia suaminya nona Ara, bos dimana aku bekerja." Jelas Dion dengan tenang.
" Suami?!" Teriak Maia dengan begitu kuat, membuat orang yang berada disana menjadi mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
" Mmmpp!" Maia kaget dengan tangan Jack membekap mulutnya.
" Cerewet sekali, bisa diam tidak?!" Perkataan Jack sangat penuh penekanan dan memberikan tatapan tajam pada Maia.
Mendapatkan tatapan tajam dari Jack, nyali Maia langsung menciut. Apalagi ditambah dengan suara berat ya g membuat ketiganya terdiam.
" Kalian sungguh berisik." Suara Elvan menegur mereka, membuat suasana yang pada awalnya sangat tenang berubah menjadi tegang.
" Maafkan kami tuan." Ucap Jack dan dion bersamaan.
Lalu Jack dan Dion membawa Maia untuk keluar dari kamar perawatan nona mereka, mencari tempat lainnya buat mereka beristirahat sejenak.
" Ion, jelasin!" Maia masih sangat penasaran dengan kebenaran atas status sahabatnya yang belum ia ketahui.
Memutar bola matanya dengan malas, Dion duduk mendekati Maia. Memulai menghirup nafas dan menghembuskannya begitu saja, membuat Jack menyenggir seperti tidak suka.
" Seperti yang kamu dengar, nona Ara adalah istri dari bos kami. Dan pria itu, adalah suaminya, tuan Elvan. Pemilik dari Blade Company, dan saat ini nona Ara sedang mengandung calon anak mereka."
" Apa! Pemilik Blade Company, perusahaan terbesar itu! Ara Hamil?"
" Yiak! Kecilkan suaramu itu, telingaku sakit mendengarnya." Protes Jack.
Melirik Jack dengan lirikan matanya, Maia mengacuhkannya begitu saja. Kembali ia meminta Dion untuk menjelaskan kembali atas apa saja yang belum ia ketahui mengenai Ara, namun Dion tidak ingin menceritakan lebih banyak. Karena ia merasa bukan haknya untuk menceritakan semuanya, mengatakan bahwa Ara lebih berhak untuk menjelaskannya.
" Pelit amat lu, huh." Maia mendengus kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Dion.
" Kenapa lu tiba-tiba muncul gitu, bukannya belajar yang bener." Jack menoyor kepala Dion, yang dimana Dion adalah adiknya sendiri.
" Hei! Lu ngapain Dion, hah! " Maia kaget saat temannya ditoyor kepalanya oleh Jack.
" Apa, apa! Terserah gue lah, adik-adik gue. Lu tu yang diem, nyerocos kayak kenalpot rusak." Jack membalas ucapan Maia.
" Adik?!"
__ADS_1